Sosialisasi Kesehatan untuk Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Usai Kembali ke Tanah Air

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai dan dianjurkan untuk segera diperiksakan oleh jemaah haji saat tiba di tanah air meliputi demam dengan suhu tubuh di atas 37,5’ C, sesak napas, nyeri tenggorokan, mual, muntah, diare, dan kaku kuduk.

09 Jul 2024 - 12:45
Sosialisasi Kesehatan untuk Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Usai Kembali ke Tanah Air
Dokter Ahmad Amin Mahmudin saat beri sosialisasi di asrama haji Surabaya (Dok. Humas PPIH/SJP)

Surabaya, SJP - Ibadah Haji menuntut kesiapan fisik dan mental yang prima dari setiap jemaah, menjaga kesehatan tidak hanya penting saat masih di tanah suci, tetapi juga saat kembali ke tanah air.

Dalam upaya bersama untuk menjaga kesehatan jemaah usai pergi haji, para dokter kloter memberikan sosialiasi kepada para jemaah ketika tiba di asrama haji, tak terkecuali untuk Ahmad Amin Mahmudin yang merupakan dokter di kloter 44 asal Kota Surabaya.

Sosialisasi ini penting dilakukan, selain untuk menjaga kesehatan para jemaah itu sendiri, juga untuk mencegah penularan penyakit ketika para jemaah sudah kembali ke daerahnya masing-masing.

Saat tiba di Asrama Haji, dokter kloter yang akrab disapa dokter Aam mengingatkan jemaah haji perihal gejala yang patut diwaspadai saat nanti sudah pulang dan bertemu keluarga mereka.

“Ada beberapa gejala yang harus diperhatikan oleh para jemaah haji, yaitu demam dengan suhu tubuh di atas 37,5’ C, sesak napas, nyeri tenggorokan, mual, muntah, diare, dan kaku kuduk,” papar Aam, Selasa (9/7).

Aam menegaskan kepada para jemaah haji, jika mereka merasakan salah satu gejala saja maka diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan diri di Puskesmas terdekat.

“Jemaah haji yang telah tiba di daerah masing-masing akan dipantau kesehatannya selama 21 hari oleh Dinas Kesehatan setempat,” terangnya.

Dokter yang sehari-hari bertugas di RSUD Dr. Soetomo ini juga menjelaskan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang banyak dialami para jemaah ketika tiba di tanah air. 

“ISPA dibagi menjadi 2 (dua) yaitu ISPA atas dan ISPA bawah, ISPA atas memiliki gejala yang lebih ringan yaitu flu dan batuk,” tutur Aam.

Batuk terjadi karena perbedaan cuaca yang ekstrim antara tanah air dan tanah suci yang terkenal panas.

“Di Indonesia suhunya rata-rata 27’, di Arab Saudi sudah mencapai 46’-50’ sehingga berpengaruh terhadap metabolisme tubuh, bahkan perbedaan makanan juga dapat meningkatkan potensi batuk," sebut Aan.

"Selain itu, jemaah sering terlalu fokus beribadah sampai lupa waktu makan dan kurang istirahat hingga daya tahan tubuhnya menurun,” sambungnya.

Dari gejala-gejala yang terjadi, yang paling dikhawatirkan adalah ISPA bawah yang menyerang paru-paru.

“Alhamdulilah pada kloter 44 kita dapat melakukan deteksi dini ISPA bawah sehingga jemaah tidak perlu rawat inap,” tutur Aan.

Dirinya bersyukur karena pada tahun ini vaksin flu sudah direkomendasikan pemerintah untuk dilakukan para jemaah sebelum ke tanah suci, dan berharap tahun depan pemerintah tidak hanya mewajibkan vaksin meningitis tetapi juga vaksin flu karena membantu jemaah lebih cepat pulih ketika mengalami flu dan batuk.

“Kalau masih direkomendasikan, jemaah berarti harus membayar, kalau wajib seperti meningitis, jemaah haji tidak perlu bayar,” terangnya.

Tak lupa juga, Aam mengimbau para jemaah untuk istirahat cukup, makan dan minum yang bergizi, serta minum obat secara teratur apabila ada obat-obatan yang harus rutin diminum.

“Semoga para jemaah haji selain menjadi haji yang mabrur juga menjadi haji yang sehat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, hingga Senin (8/7) kemarin, sebanyak enam puluh (60) kloter telah tiba di Debarkasi Surabaya dengan total jumlah 22.227 jemaah atau telah mencapai 57 persen, dan laporan terbaru menyebut ada 70 jemaah haji Debarkasi Surabaya yang telah wafat di tanah suci.(*)

Editor: Tri Sukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow