Sirine Terompet Peninggalan 1824 di Kota Probolinggo Tetap Menggema, Jadi Penanda Berbuka Puasa Saat Ramadan
Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi penanda waktu serba digital, Kota Probolinggo masih mempertahankan sebuah peninggalan bersejarah yang sarat makna. Sirine terompet yang berdiri kokoh di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo tetap difungsikan hingga kini, khususnya sebagai penanda waktu berbuka puasa saat bulan Ramadan.
KOTA PROBOLINGGO, SJP - Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi penanda waktu serba digital, Kota Probolinggo masih mempertahankan sebuah peninggalan bersejarah yang sarat makna. Sirine terompet yang berdiri kokoh di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo tetap difungsikan hingga kini, khususnya sebagai penanda waktu berbuka puasa saat bulan Ramadan.
Sirine yang dibangun pada tahun 1824 pada masa kolonial tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah kota. Meski usianya telah mencapai dua abad, kondisinya masih terjaga dengan baik. Keberadaannya tidak sekadar menjadi benda antik, tetapi juga simbol tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.
Pada bulan Ramadan, azan memang menjadi acuan utama umat Muslim untuk berbuka puasa. Namun, suara sirine terompet ini telah lama melekat sebagai penanda tambahan bagi warga Kota Probolinggo untuk mengakhiri puasa setelah hampir 13 jam menahan lapar dan dahaga. Dentumannya yang khas menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus memperkuat identitas lokal.
Teknisi sirine terompet, Al Amin, menjelaskan bahwa setiap Ramadan, ia bersama petugas lainnya rutin membunyikan sirine tersebut tepat saat waktu berbuka tiba.
“Setiap tahun kami sebagai petugas yang bertanggung jawab atas sirine terompet ini membunyikannya bersamaan dengan waktu berbuka puasa. Durasi bunyinya sekitar satu menit,” ujarnya.
Al Amin yang juga merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Kota Probolinggo menuturkan, di luar bulan Ramadan sirine ini tetap dioperasikan secara rutin. Setiap hari, tepat pukul 10.00 WIB, sirine dibunyikan untuk memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi tersebut telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari rutinitas resmi pemerintah daerah.
Memasuki bulan Ramadan, frekuensi pembunyian sirine bertambah menjadi dua kali sehari. Selain pukul 10.00 WIB, sirine juga dibunyikan saat waktu berbuka puasa. Dengan demikian, fungsi historis dan fungsi sosialnya berjalan beriringan.
Untuk memastikan sirine tetap berfungsi optimal, perawatan dilakukan secara berkala, terutama menjelang Ramadan. Al Amin menyebutkan, pemeriksaan meliputi instalasi listrik, kapasitas daya, hingga komponen yang berada di bagian atas sirine.
“Perawatan rutin meliputi pengecekan instalasi listrik, daya listrik, serta komponen sirine terompet yang berada di bagian atas,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam perawatan adalah ketersediaan suku cadang. Sebagai peninggalan era kolonial, beberapa komponen sudah sulit ditemukan di pasaran. Karena itu, sejumlah bagian harus dimodifikasi atau dibuat ulang melalui proses pembubutan, termasuk komponen gear agar mekanisme tetap berjalan normal.
Menurut keterangan warga, sirine yang mampu berputar hingga 360 derajat tersebut memiliki jangkauan suara cukup luas.
“Menurut keterangan warga, sirine terompet yang dapat berputar 360 derajat ini bisa terdengar hingga radius sekitar satu kilometer,” pungkasnya.
Keberadaan sirine ini pun terus menjadi pengikat memori kolektif sekaligus warisan sejarah yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

