Sikap Defensif SDN 1 Sekaran di Tengah Kasus Perundungan, Disdik Nganjuk Pilih Jalur Kekeluargaan

Tak ada sanksi, Disdik hanya melakukan konsolidasi internal guna memperkuat komunikasi antar-tenaga pendidik untuk mencegah kejadian serupa terulang.

17 Mar 2026 - 15:30
Sikap Defensif SDN 1 Sekaran di Tengah Kasus Perundungan, Disdik Nganjuk Pilih Jalur Kekeluargaan
Mediasi kedua orang tua yang terlibat dalam kasus buliying di SDN 1 Sekarang, Loceret. (Foto: kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP–Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, Puguh Harnoto, memberikan klarifikasi resmi terkait insiden perundungan siswa di SDN 1 Sekaran, Kecamatan Loceret, yang memicu perhatian publik.

Puguh menegaskan pihaknya telah mengambil langkah strategis untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan. 

Menurutnya, sesaat setelah kejadian mencuat, Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan setempat langsung melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk memanggil orang tua siswa yang terlibat.

"Pasca-kejadian, Korwil sudah koordinasi dengan dinas. Kami sampaikan bahwa yang terpenting utama adalah langkah cepat untuk konsolidasi. Kepala sekolah juga sudah dipanggil dan sudah dimusyawarahkan sebagai langkah awal," ujar Puguh Harnoto, Selasa (17/3/2026).

Lebih lanjut, Puguh menekankan bahwa saat ini bukan sekadar penyelesaian administratif, melainkan kondisi psikologis siswa yang terlibat, baik korban maupun pelaku. 

Ia menginstruksikan pihak sekolah untuk proaktif dalam melakukan pengawasan dan pendampingan.

"Yang terpenting lagi adalah bagaimana sekarang orang tua dan anak ini tetap harus terkondisikan. Masalah bullying ini kan menjadi perhatian kita sekarang," tambahnya.

Saat disinggung mengenai sanksi terhadap Kepala SDN 1 Sekaran, Puguh menjelaskan bahwa persoalan tersebut telah ditangani oleh Korwil. 

Pihaknya hanya melakukan konsolidasi internal guna memperkuat komunikasi antar-tenaga pendidik untuk mencegah kejadian serupa terulang.

"Kalau untuk pembinaan sudah. Kan sudah ada perdamaian antara orang tua korban dan orang tua pelaku, serta kepala sekolah dan guru. Terutama pembinaan kepada para pelaku agar ada efek pembelajaran yang positif; sudah klir dan tidak ada masalah," tegas Puguh Harnoto. 

Sebelumnya, upaya penyelesaian kasus perundungan yang menimpa salah satu siswa di SDN 1 Sekaran memasuki tahap mediasi. 

Bertempat di salah satu ruang kelas, pihak sekolah mempertemukan keluarga korban dengan keluarga dari lima siswa yang diduga sebagai pelaku, Sabtu (14/3/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh orang tua korban yang menuntut keadilan serta perlindungan bagi kondisi psikis anak mereka. Di sisi lain, orang tua dari lima pelaku juga dihadirkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anak-anak mereka.

Kepala SDN 1 Sekaran, Sunaryo, beserta jajaran guru bertindak sebagai fasilitator. Namun, dalam proses tersebut, pihak sekolah mengeklaim tidak mengetahui persis kronologi kejadian dengan dalih sedang mengikuti kegiatan sosialisasi saat insiden berlangsung di jam sekolah.

"Pas kejadiannya, saya tidak tahu. Kejadiannya kemarin, jam pelajaran sekolah. Posisi saya ada sosialisasi. Korbannya anak kelas 3, pelakunya anak kelas 5, semuanya ada lima anak," ucap Sunaryo. 

Saat dikonfirmasi mengenai efektivitas program pencegahan perundungan di sekolah tersebut, Sunaryo mengeklaim pihaknya telah berupaya melakukan langkah preventif. Meski demikian, ia kembali berdalih tidak memahami detail peristiwa karena alasan kesibukan kegiatan lain.

"Kami undang semuanya di sini untuk mencari jalan solusi biar tidak dilanjutkan, tapi secara kekeluargaan," kilah Sunaryo. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow