Lonjakan Kasus Kekerasan Anak Digital, KPA Milenial Surabaya Hadir Jadi “Jembatan Curhat”

Keberadaan KPA Milenial Surabaya diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman bagi anak, yang fokus menjadi jembatan curhat agar anak lebih nyaman melapor dan mendapatkan perlindungan.

17 Apr 2026 - 21:30
Lonjakan Kasus Kekerasan Anak Digital, KPA Milenial Surabaya Hadir Jadi “Jembatan Curhat”
Foto bersama dengan gaya

SURABAYA, SJP — Lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang kini semakin banyak terjadi di ranah digital mendorong lahirnya pendekatan baru dalam perlindungan anak. Di Surabaya, hal itu ditandai dengan pengukuhan pengurus Komnas Anak Surabaya sekaligus pembentukan Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) Milenial Surabaya pada Jumat (17/4/2026).

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya, Syaiful Bachri atau akrab disapa Kak Iful, menegaskan bahwa pembentukan KPA Milenial Surabaya merupakan respons atas perubahan zaman yang menuntut pendekatan lebih adaptif, terutama dalam menghadapi ancaman berbasis teknologi.

"Kami yang sudah senior ini disebutnya generasi ‘kolonial’, artinya generasi lama ini harus menggandeng teman-teman yang lebih fresh, yang lebih profesional, cekatan, dan memahami kondisi lingkungan saat ini," ujarnya sembari berseloroh, jumat (17/4/2026).

Menurutnya, tantangan perlindungan anak kini tidak lagi hanya terjadi secara fisik, melainkan telah merambah ke ruang digital. Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah kekerasan seksual berbasis online (KSBO), termasuk penyalahgunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), serta maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan anak.

Berangkat dari kondisi tersebut, Komnas PA Surabaya membentuk KPA Milenial Surabaya sebagai lembaga pendamping dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

"Di Komnas Anak Milenial ini ada konsultan adiksi untuk pecandu narkoba, tim advokasi, juga bidang seni dan budaya, termasuk pengembangan bakat minat anak. Jadi ini bukan sekadar simbolik, tapi benar-benar disiapkan untuk menjawab kebutuhan anak-anak saat ini," jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan KPA Milenial Surabaya diharapkan mampu menciptakan ruang aman bagi anak, terutama perempuan yang selama ini kerap menjadi korban namun masih kesulitan mendapatkan pendampingan, termasuk dalam proses rehabilitasi.

"Hal yang paling pasti, jangan takut untuk melapor. Komnas Anak selalu ada untuk anak Surabaya, mulai dari pendekatan, pendampingan, sampai membentuk anak-anak yang hebat," tegasnya.

Untuk memperkuat layanan tersebut, Komnas PA Surabaya juga menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari rumah sakit seperti RSUD Dr. Soetomo dan RS Bhayangkara Surabaya, hingga aparat penegak hukum dan organisasi advokat.

"Komnas Perlindungan Anak ini tidak bisa berjalan sendiri sebagai superman. Kekuatan kami ada di super team," katanya.

Sementara itu, Ketua KPA Milenial Surabaya yang baru saja dilantik, Adinda, menekankan bahwa kehadiran pihaknya menjadi jembatan komunikasi antara anak-anak dengan lembaga perlindungan, terutama dalam mengatasi hambatan psikologis akibat perbedaan usia.

"Kita sadar, terkadang kalau jarak umur terlalu jauh, itu mempengaruhi kenyamanan untuk konsultasi atau sekadar ngobrol. Harapannya, Komnas Milenial ini bisa menjangkau anak-anak yang mungkin merasa tidak enak berbicara dengan yang usianya jauh di atasnya," ujarnya.

Ia menambahkan, fokus utama KPA Milenial Surabaya adalah memastikan anak-anak terbebas dari kekerasan, termasuk penyimpangan seksual yang marak terjadi di ruang digital.

"Tema hari ini juga soal stop kekerasan pada anak. Harapannya ke depan, anak-anak benar-benar bisa terlindungi dari hal-hal yang menyimpang, terutama yang ada di online," imbuhnya.

Disisi lain, Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji yang juga ikut hadir dalam acara pengukuhan, menyambut baik dan menilai kehadiran Komnas PA Surabaya serta KPA Milenial Surabaya menjadi langkah penting dalam menjawab kompleksitas persoalan anak di Kota Pahlawan.

"Persoalan anak di Surabaya ini sangat kompleks, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun sosial. Hal-hal seperti ini pasti akan terus terjadi dan butuh perhatian serius," ujarnya.

Menurutnya, keberadaan dua lembaga tersebut dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

"Mereka bisa curhat, bisa mengadu, baik persoalan internal maupun yang mereka rasakan secara umum," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya akan memperkuat kolaborasi dengan Komnas PA dan KPA Milenial Surabaya, terutama dalam menindaklanjuti laporan yang masuk dari masyarakat.

"Kalau ada laporan ke Pemkot, tentu kami bukan spesialisnya. Maka ke depan bisa kita kolaborasikan antara dinas-dinas dengan Komnas PA, supaya anak-anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang tepat," jelasnya.

Lebih lanjut, Armuji berharap keberadaan Komnas PA Surabaya dan KPA Milenial Surabaya dapat semakin dikenal masyarakat sehingga anak-anak yang membutuhkan bantuan tidak ragu untuk mencari pertolongan.

Sementara itu, Ketua Komnas PA Jawa Timur, Febri K. Pikulun, mengungkapkan bahwa tren kekerasan terhadap anak saat ini memang didominasi oleh kasus yang terjadi di media sosial dan perangkat telepon genggam.

"Untuk tahun ini, banyak kasus yang terjadi di media sosial, mulai dari jual beli anak hingga pelecehan," ungkapnya.

Ia mencatat, sejak Januari 2026 terdapat sedikitnya 137 laporan kasus anak, dengan mayoritas berupa bullying dan perkelahian, serta paling banyak terjadi di kalangan pelajar tingkat SMP. Namun demikian, ia menyoroti tantangan terbesar dalam penanganan kasus justru datang dari lingkungan terdekat anak.

"Tantangan terbesar adalah pihak keluarga dan sekolah yang kadang meminta masalah tidak diungkap dengan alasan nama baik dan tidak malu," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pengukuhan pengurus Komnas Perlindungan Anak Surabaya dan lahirnya KPA Milenial Surabaya diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan anak, sekaligus menjembatani kesenjangan komunikasi agar anak-anak berani bersuara di tengah ancaman yang semakin kompleks, terutama di era digital. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow