SDN 2 Plandaan Tulungagung Hanya Dapat Dua Siswa Baru
Selain persaingan dengan sekolah lain, para pendidik juga menghadapi persoalan beredarnya anggapan di masyarakat bahwa SDN 2 Plandaan sudah lama tutup.
TULUNGAGUNG, SJP - Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi tantangan tersendiri bagi SD Negeri 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Sekolah dasar negeri tersebut hanya menerima dua siswa baru pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini.
Kondisi minimnya peserta didik bukan kali pertama terjadi. Fenomena tersebut bahkan telah berlangsung selama hampir satu dekade dan memunculkan isu di masyarakat bahwa sekolah itu telah berhenti beroperasi. Saat ini, jumlah seluruh peserta didik di SDN 2 Plandaan hanya mencapai 16 anak yang tersebar dari kelas satu hingga kelas enam.
Meski jumlah siswanya sangat sedikit, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti sekolah pada umumnya dengan mengikuti kurikulum dan program pembelajaran yang berlaku. Pada masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), seluruh siswa dari kelas satu hingga kelas enam mengikuti kegiatan bersama, kemudian dibedakan jam kepulangannya sesuai jenjang kelas.
Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariah, mengungkapkan bahwa memperoleh dua siswa baru tahun ini merupakan hasil perjuangan panjang yang dilakukan pihak sekolah. Sejak tiga hingga empat bulan sebelum SPMB dibuka, guru-guru telah mendatangi taman kanak-kanak, berkoordinasi dengan kepala sekolah dan guru TK, hingga melakukan pendekatan langsung ke rumah calon peserta didik.
"Alhamdulillah dapat dua siswa. Kami mencari murid dengan mendatangi TK-TK, kemudian door to door ke rumah-rumah. Dari beberapa calon yang sempat menyatakan akan masuk ke sini, akhirnya yang bertahan hanya dua siswa," ujar Siti Komariah, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, proses mencari peserta didik baru setiap tahun tidaklah mudah. Bahkan, sehari sebelum daftar ulang masih ada calon siswa yang memutuskan pindah ke sekolah lain. Selain persaingan dengan sekolah lain, pihaknya juga menghadapi persoalan beredarnya anggapan di masyarakat bahwa SDN 2 Plandaan sudah lama tutup.
Siti mengaku telah menelusuri langsung informasi tersebut kepada warga yang tinggal di sekitar sekolah. Dari hasil penelusuran itu, masih ada masyarakat yang meyakini sekolah tersebut sudah tidak beroperasi, padahal hingga kini kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari.
"Saya sudah telusuri ke masyarakat yang dekat dengan sekolah. Katanya sekolah sini sudah mati, sudah ditutup lama. Padahal kenyataannya kami masih beroperasi seperti ini. Saya juga kurang tahu kenapa bisa muncul anggapan seperti itu," katanya.
Untuk menarik minat masyarakat, sekolah bahkan memberikan berbagai fasilitas secara gratis kepada siswa baru. Bantuan tersebut meliputi seragam, sepatu, buku, alat tulis, hingga perlengkapan sekolah lainnya. Bagi keluarga yang benar-benar kurang mampu, sekolah juga membantu kebutuhan harian siswa, termasuk memberikan uang saku maupun makanan.
Yang menarik, bantuan tersebut tidak menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Karena jumlah siswa sedikit, dana BOS yang diterima sekolah juga terbatas. Sebagian besar bantuan justru berasal dari iuran dan infak sukarela para guru.
"Kami memberikan fasilitas gratis berupa baju, sepatu, buku, dan perlengkapan sekolah. Kalau ada anak yang benar-benar tidak mampu juga kami bantu. Itu bukan memakai uang sekolah, tetapi dari iuran guru dan infak sukarela demi sekolah ini," jelasnya.
Meski menghadapi keterbatasan jumlah peserta didik, pihak sekolah memilih tetap menjalankan proses pendidikan secara maksimal. Menurut Siti, sedikitnya jumlah siswa justru membuat guru dapat memberikan perhatian lebih kepada setiap anak sehingga proses belajar berlangsung lebih intensif.
"Kami tidak menganggap ini sebagai kendala. Dengan murid sedikit, kami justru bisa lebih beramal dan bersedekah kepada anak-anak dengan ikhlas," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

