Ribuan Warga Deklarasi Jogo Suroboyo, Tegaskan Komitmen Jaga Kota dari Anarkisme
Ribuan warga lintas elemen berikrar di Tugu Pahlawan, bangkit dari luka kerusuhan, meneguhkan Surabaya sebagai kota persaudaraan, gotong royong, dan bebas dari anarki.
SURABAYA, SJP - Kerusuhan yang terjadi menyusul aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu meninggalkan jejak kerusakan fasilitas publik, mengganggu laju ekonomi kota, hingga menimbulkan rasa was-was bagi warga Kota Surabaya untuk beraktivitas di luar rumah.
Sebagai upaya bersama dalam menjaga keamanan dan ketertiban Kota, berbagai elemen masyarakat di Kota Surabaya menggelar kegiatan "Ikrar Deklarasi Damai Jogo Suroboyo" dan Doa Bersama yang berlangsung di Tugu Pahlawan, pada Kamis (4/9/2025).
Inisiator acara tersebut meliputi Karang Taruna, Pemuda Pusura, Cak Ning, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas, Pemuda Pancasila, Pramuka, Madura Asli (Madas), Muhammadiyah, PCNU, Gojek dan Ketua Satgas Kampung Pancasila RW serta unsur masyarakat.
Setidaknya, ada lebih dari 9.000 warga Kota Surabaya dari berbagai elemen masyarakat di Kota Pahlawan yang hadir untuk menyatukan suara mereka dalam hal menolak tindak anarkistis dan berkomitmen menjaga kota tetap kondusif.
Kerusuhan di Kota Surabaya
Diketahui sebelumnya bahwa Surabaya merupakan salah satu kota yang menjadi lokasi aksi solidaritas serentak di berbagai daerah Indonesia atas kematian ojek online (ojol), Affan Kurniawan yang tewas terlindas mobil rantis Brimob dalam aksi di Jakarta.
Sayangnya, di beberapa daerah, termasuk di Kota Surabaya aksi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan anarkisme.
Bahkan di Kota Surabaya sendiri, pada Sabtu (30/8/2025), aksi yang awalnya berjalan damai dan kondusif malah berujung pembakaran Gedung Negara Grahadi dan Polsek Tegalsari pada malam hari.
Belajar dari insiden tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang hadir dalam gelaran Ikrar Deklarasi Jogo Suroboyo menegaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari kesadaran bersama, bukan sekadar agenda seremonial.
"Deklarasi ini adalah ikrar warga Surabaya. Kota ini pernah ternoda oleh kekerasan, tapi kita berjanji tidak akan membiarkan itu terulang. Surabaya dibangun dengan perjuangan para pahlawan, maka menjaga kedamaian adalah kewajiban kita,” tegas Eri, Kamis (4/9/2025).
Dirinya juga menyoroti keberanian warga Surabaya, khususnya warga Wonokromo dan Bubutan, yang secara swadaya menjaga keamanan di wilayah mereka saat terjadi kerusuhan pekan lalu.
"Saya matur nuwun untuk warga Wonokromo yang kemarin ketika terjadi anarkistis, mereka mempertahankan Wonokromo dengan perjuangan yang luar biasa," ujar Eri.
Warga Bubutan semua keluar memberikan hantaman untuk memberikan ketenangan kepada warga Kota Surabaya," imbuhnya.
Sinergi Aparat, Tokoh Agama dan Warga
Tidak hanya Wali Kota Eri, Kegiatan tersebut terlihat juga dihadiri oleh Wakil Walikota Surabaya Armuji, Komandan Kodaeral V/Surabaya Laksda TNI Ali Triswanto, Dandim 0830/Surabaya Kolonel Inf. Didin Nasruddin Darsono, Wakapolrestabes Surabaya AKBP Muhammad Ridwan, Kepala Kejari Surabaya Ajie Prasetya, serta Ketua FKUB Kota Surabaya Dr. Muhammad Yazid.
Kehadiran pemerintah, aparat, dan tokoh agama di tengah masyarakat itu menekankan pentingnya nilai kerukunan. Ketua FKUB Surabaya Dr. Muhammad Yazid selaku pemimpin doa bersama menekankan agar Kota Surabaya terhindar dari segala bentuk perpecahan.
"Ya Allah Ya Salam Ya Hafidz, Engkaulah Dzat Yang Maha Menjaga dan Melindungi, karuniakanlah keselamatan kepada kami sebangsa dan setanah air, jauhkan dari segala musibah, bala, penyakit dan fitnah," bunyi lantunan doa yang dipanjatkan.
Pernyataan Sikap Bersama
Deklarasi kemudian ditutup dengan pembacaan ikrar yang diikuti seluruh peserta. Isi pernyataan sikap tersebut meliputi:
- Menjaga Surabaya tetap aman dan rukun dalam kebersamaan.
- Menguatkan kota Surabaya sebagai jati diri warga kota dan masa depan Surabaya.
- Menyampaikan aspirasi dengan kritis dan tidak mudah terprovokasi.
- Menolak segala dalam bentuk kekerasan dan anarkistis.
- Bersatu dalam harmoni tanpa amarah dan bersama-sama tolong menolong antar warga.
Deklarasi tersebut menjadi momentum penting bagi warga Surabaya. Bukan sebagai pembungkaman atas suara rakyat, melainkan sebagai pesan agar masyarakat bisa saling menjaga di tengah krisis, tidak terpancing provokasi, dan meneguhkan Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang aman dan oenug persaudaraan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

