Resmi Dilantik, PWI Bojonegoro Komitmen Jaga Integritas dan Perangi Oknum Wartawan Tak Berkompeten

Pelantikan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan sikap PWI Bojonegoro dalam meningkatkan kualitas jurnalisme serta memerangi praktik oknum wartawan tak berkompeten yang merusak marwah pers.

23 Dec 2025 - 18:40
Resmi Dilantik, PWI Bojonegoro Komitmen Jaga Integritas dan Perangi Oknum Wartawan Tak Berkompeten
Ketua PWI Bojonegoro Sasmito (podium). Foto: Abrori/SJP

BOJONEGORO, SJP - Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bojonegoro periode 2025–2028 resmi dilantik di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro. Pelantikan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan sikap PWI Bojonegoro dalam meningkatkan kualitas jurnalisme serta memerangi praktik oknum wartawan tak berkompeten yang merusak marwah pers.

Ketua PWI Bojonegoro, Sasmito Anggoro, menegaskan, tantangan dunia jurnalistik saat ini tidak berhenti pada kecepatan menyajikan informasi, melainkan pada kualitas, akurasi, dan kepatuhan terhadap etika profesi.

“Di era digital, semua orang bisa menyebarkan informasi. Tapi wartawan dituntut lebih dari sekadar cepat. Harus akurat, berimbang, dan beretika. Kartu pers saja tidak cukup tanpa kompetensi yang jelas,” tegas Sasmito.

Ia menyebut derasnya arus informasi digital membuat profesi wartawan berada pada posisi strategis, sekaligus rawan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mengaku jurnalis tanpa dasar kompetensi. Karena itu, PWI Bojonegoro berkomitmen mendorong anggotanya mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW) yang diakui Dewan Pers serta memperkuat pemahaman kode etik jurnalistik.

“Kami ingin wartawan di Bojonegoro benar-benar profesional dan mampu menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.

Sikap tegas juga disampaikan PWI Bojonegoro terkait maraknya oknum yang mengatasnamakan wartawan untuk menekan aparat desa maupun pihak tertentu. Sasmito mengungkapkan, PWI menerima banyak keluhan dari kepala desa terkait praktik tersebut.

“Kalau tidak punya kompetensi, tidak terdaftar, dan tidak patuh kode etik, itu bukan wartawan. Praktik seperti ini jelas mencederai profesi dan harus dilawan bersama,” katanya.

Sebagai langkah konkret, PWI Bojonegoro akan menggencarkan literasi jurnalistik gratis bagi pemerintah desa, kecamatan, hingga masyarakat umum agar mampu membedakan wartawan profesional dan oknum.

Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, menegaskan bahwa PWI harus menjadi rumah besar yang menjaga marwah dan integritas pers. Ia menekankan independensi dan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas jurnalis.

“PWI harus berada di garda terdepan menjaga integritas pers. Kritik itu wajib, selama dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Lutfil, Bojonegoro dengan potensi besar di sektor migas dan pertanian membutuhkan peran pers yang kuat dan profesional agar proses pembangunan berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan publik.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono menyampaikan apresiasi dan harapannya agar PWI Bojonegoro menjadi mitra strategis pemerintah daerah.

“Pemerintah tidak anti kritik. Pers yang profesional justru membantu kami bekerja lebih hati-hati dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap langkah PWI dalam menekan praktik oknum wartawan yang menyalahgunakan profesi.

“Kalau bekerja sesuai aturan, silakan kritik. Tapi kalau ada yang mengatasnamakan wartawan untuk menekan atau mencari keuntungan pribadi, itu harus dilawan bersama,” pungkas Bupati.

Pelantikan pengurus PWI Bojonegoro ini menandai dimulainya langkah organisasi untuk memperkuat kualitas jurnalisme, menegakkan etika pers, serta menciptakan iklim informasi yang sehat dan bertanggung jawab di tingkat daerah. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow