Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Malang Tangani Longsor di Jalur Utama Bromo

BPBD menerapkan strategi tanggap darurat dengan kaji cepat, koordinasi lintas sektor, pengerahan alat berat, serta edukasi mitigasi kepada warga untuk mempercepat pemulihan dan mencegah risiko longsor susulan.

11 Feb 2025 - 09:00
Reaksi Cepat BPBD  Kabupaten Malang Tangani Longsor di Jalur Utama Bromo
Tim gabungan saat berkolaborasi melakukan penanganan tanggap darurat terhadap insiden tanah longsor yang terjadi di jalur utama Bromo. (Doc. BPBD Malang)

MALANG, SJP – Hujan deras sejak Senin dini hari membawa dampak serius bagi aksesibilitas menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Tanah longsor yang terjadi di Desa Ngadas dan Desa Gubugklakah menutup total jalur utama dan memutus mobilitas warga, serta menghambat arus wisatawan ke Bromo.

Di balik bencana itu, respons cepat dan terkoordinasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menjadi sorotan utama.

Dari pantauan di lapangan, pembersihan material longsor di Dusun Jarak Ijo, Desa Ngades telah dimulai sejak pagi ini menggunakan alat berat yang telah disiagakan sebelumnya di kawasan Trisula.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Ichwanul Muslimin menegaskan, seluruh upaya dikerahkan untuk memastikan akses kembali normal sesegera mungkin.

Sejak menerima laporan pertama pada Senin siang, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung ke lokasi. Saat ini, alat berat dari UPT Binamarga bekerja penuh untuk mempercepat pembersihan.

“Pemantauan kondisi tanah terus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya longsor susulan," ungkapnya, Selasa (11/2/2025).

Berdasarkan analisis geoteknik, longsor ini dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan karakteristik tanah lempung yang memiliki daya serap air tinggi.

Ketika tanah jenuh, tekanan pori meningkat dan mengurangi kohesi partikel. Situasi itu menyebabkan ketidakstabilan lereng sehingga terjadi tanah longsor.

Volume material longsor tersebut memiliki ketinggian mencapai kurang lebih 13 meter. Ketebalannya mencapai 3 meter dan panjangnya mencapai 10 meter.

Namun demikian, tantangan terbesar dalam penanganan bencana ini bukan hanya pada volume materialnya, tetapi pada sulitnya medan dan kondisi cuaca yang masih ekstrem.

"Kawasan ini memiliki kemiringan lereng yang curam. Selain itu, beberapa pohon besar yang tumbang ikut menghambat akses alat berat. Pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memicu pergerakan tanah lebih lanjut," jelas Ichwanul Muslimin.

Dalam penanganannya, tim gabungan dari BPBD, TNBTS, UPT Binamarga, Polres Malang dan relawan telah mengadopsi strategi mitigasi berbasis kajian geoteknik real-time.

Strategi ini memungkinkan mereka mengidentifikasi titik rawan longsor susulan dan menyesuaikan teknik pembersihan sesuai kondisi lereng.

Kecepatan respons dalam menangani bencana ini bukan kebetulan. BPBD Kabupaten Malang telah menerapkan sistem komando tanggap darurat berbasis Poslap yang berada di Tumpang.

Cara itu memungkinkan terciptanya koordinasi cepat dengan berbagai unsur terkait. Sehingga UPT Binamarga Kabupaten Malang yang langsung mengerahkan alat berat.

Dengan demikian, kerja sama antartim berjalan sistematis. TNBTS membantu pengaturan jalur wisatawan. Sementara PMI dan Tagana bersiaga untuk kemungkinan kondisi darurat.

Di lain pihak, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Poncokusumo memastikan komunikasi efektif dengan perangkat desa dan masyarakat terdampak.

Strategi ini terbukti efektif dalam mempercepat proses evakuasi dan pemulihan jalur. Pantauan di lapangan, tim telah menyusun skenario evakuasi bila terjadi longsor susulan.

Skenarionya yaitu pengalihan jalur wisatawan serta penyiapan titik aman bagi warga setempat. Informasi dari masyarakat dan media sangat membantu datangnya respons cepat BPBD.

Meski jalur utama berangsur pulih, namun BPBD Malang menegaskan pekerjaan belum selesai. Mitigasi jangka panjang menjadi prioritas untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

Rencana penerapan teknologi mitigasi berbasis ekohidrologi dan geoteknik, termasuk pembangunan sistem drainase lereng dinilai efektif untuk mengurangi tekanan air tanah.

Kemudian, rehabilitasi vegetasi dengan spesies tanaman berakar kuat seperti vetiver, mampu menahan massa tanah dan mengurangi erosi.

Selain itu, penggunaan material geotekstil dalam penguatan lereng sangat diperlukan untuk menstabilkan tanah pada titik-titik rawan.

"Kami ingin mengkaji pola penanggulangan bencana menjadi lebih proaktif. Bukan hanya reaktif. Mitigasi berbasis teknologi dan ekologi akan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko longsor di jalur strategis seperti ini," tandas Ichwanul Muslimin.

Dari perspektif manajemen bencana, kejadian longsor di jalur utama Bromo ini menjadi gambaran bagaimana kesiapan, koordinasi lintas sektor, dan penerapan teknologi.

Kolaborasi antarpihak serta skenario penanganan bencana tersebut cukup efektif untuk mempercepat pemulihan serta mengurangi dampak bencana.

"Respons cepat BPBD Kabupaten Malang menunjukkan bahwa sistem tanggap darurat yang terstruktur dengan baik dapat menjadi model dalam menghadapi tantangan serupa," tutupnya.

Dengan kombinasi mitigasi berbasis ilmiah dan koordinasi multipihak pada kejadian longsor seperti ini diharapkan dapat ditangani lebih efektif untuk kejadian serupa di di masa mendatang.

Langkah ini dinilai sangat penting untuk memastikan keselamatan masyarakat serta kelancaran akses ke salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow