Puncak Kemarau Diprediksi Juli-September, BPBD Kota Batu Petakan Wilayah Rawan Karhutla dan Kekeringan

Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga September 2026, BPBD Kota Batu memilih bergerak lebih awal melalui pemetaan wilayah rawan, penyusunan rencana kontinjensi, hingga persiapan status siaga darurat

02 Jun 2026 - 15:08
Puncak Kemarau Diprediksi Juli-September, BPBD Kota Batu Petakan Wilayah Rawan Karhutla dan Kekeringan
Kebakaran hutan di Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026 yang diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga September mendatang. Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun dampak kekeringan yang berpotensi muncul selama periode tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho pada Selasa (2/6/2026) mengatakan pihaknya telah menyusun berbagai strategi mitigasi sebelum memasuki masa kemarau panjang.

“Ada tiga upaya utama yang saat ini sedang dijalankan oleh BPBD Kota Batu untuk meminimalisir dampak kemarau, khususnya terkait kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan,” ujar Gatot

Langkah pertama yang dilakukan adalah penyusunan dokumen rencana kontinjensi sebagai pedoman penanganan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang selama ini menjadi salah satu wilayah rawan.

Selain itu, BPBD juga melakukan pemetaan wilayah berisiko tinggi mengalami karhutla. Jika sebelumnya fokus pengawasan lebih banyak dilakukan di kawasan Bumiaji yang berbatasan dengan kawasan Gunung Arjuno, kini pemetaan diperluas hingga kawasan Oro-Oro Ombo dan lereng Gunung Panderman.

“Kedua, kami melakukan pemetaan wilayah rawan karhutla yang tidak hanya difokuskan pada kawasan Bumiaji atau Gunung Arjuno, tetapi juga diperluas ke wilayah Oro-Oro Ombo dan Panderman,” jelasnya.

Langkah ketiga adalah penyusunan status siaga darurat bencana kemarau dan kekeringan tahun 2026 yang akan menjadi dasar hukum dalam pelaksanaan penanganan apabila terjadi kondisi darurat di lapangan.

Menurut Gatot, ancaman tidak hanya datang dari potensi kebakaran hutan, tetapi juga kekeringan yang berpotensi mengganggu sektor pertanian. Wilayah Kecamatan Junrejo menjadi salah satu daerah yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena kerap terdampak berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau berlangsung.

BPBD mencatat sebagian besar kejadian karhutla selama ini dipicu oleh aktivitas manusia. Mulai dari pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah yang tidak diawasi, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area yang dipenuhi daun dan ranting kering.

“Kalau untuk faktor alam sebenarnya relatif kecil. Yang paling sering terjadi adalah akibat aktivitas manusia. Sedangkan faktor alam biasanya hanya dipicu oleh sambaran petir,” ungkap Gatot.

Oleh karena BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak kemarau yang diprediksi berlangsung pada Juli hingga September. dan masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di kawasan hutan maupun lahan kering. Petani juga disarankan menggunakan metode pembukaan lahan tanpa pembakaran guna mengurangi risiko kebakaran meluas.

Selain itu, warga yang tinggal di daerah rawan diimbau menyiapkan peralatan pemadam sederhana seperti cangkul, sekop, maupun karung goni basah yang dapat digunakan untuk penanganan awal apabila muncul titik api.

BPBD juga meminta masyarakat aktif memantau informasi cuaca dan kebencanaan dari sumber resmi seperti BMKG dan BPBD. Apabila menemukan kepulan asap atau indikasi kebakaran hutan dan lahan, warga diminta segera melaporkannya agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Jika masyarakat melihat adanya titik api atau asap, segera laporkan supaya bisa segera kami tindak lanjuti. Penanganan dini menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas,” tandasnya. (*)

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow