Polemik OSN Bondowoso Berakhir di Meja DPRD, Reward untuk Peserta Diusulkan dan Pengumuman Susulan Dipastikan
Rapat dengar pendapat DPRD Bondowoso bersama Dispendik dan wali murid mengungkap penyebab polemik hasil OSN yang sempat tak mencantumkan Bondowoso. DPRD meminta evaluasi total, membuka jalur komunikasi resmi, serta mengusulkan pemberian reward bagi peserta agar semangat belajar siswa tetap terjaga sambil menunggu pengumuman susulan dari Puspresnas.
BONDOWOSO, SJP – Polemik tidak munculnya hasil Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten asal Bondowoso akhirnya mulai menemukan titik terang. Setelah hampir sepekan menimbulkan kegelisahan di kalangan siswa dan orang tua, DPRD Bondowoso mempertemukan perwakilan wali murid dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) dalam rapat dengar pendapat di Ruang Gabungan DPRD Bondowoso, Kamis (2/7/2026).
Rapat tersebut menjadi puncak dari rangkaian persoalan yang bermula saat Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) mengumumkan hasil OSN tingkat kabupaten pada 27 Juni 2026 tanpa mencantumkan nama Kabupaten Bondowoso. Kondisi itu memicu kepanikan karena para siswa yang telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan menganggap perjuangan mereka berakhir sebelum sempat bersaing di tingkat provinsi.
Di balik persoalan administrasi dan sistem, dampak paling besar justru dirasakan para peserta. Sejumlah siswa dikabarkan kehilangan motivasi belajar karena mengira mereka gagal, sementara para orang tua berupaya mencari kepastian dengan mendatangi Dinas Pendidikan hingga akhirnya meminta DPRD memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.
Dari hasil rapat dengar pendapat, DPRD memastikan Dispendik Bondowoso telah mengirimkan surat resmi kepada Puspresnas dan memperoleh kepastian bahwa seluruh berkas peserta asal Bondowoso telah diterima sistem pusat. Pengumuman susulan pun dipastikan akan diterbitkan sehingga peluang siswa untuk mengikuti OSN tingkat Provinsi masih tetap terbuka.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto menjelaskan bahwa pelaksanaan OSN di Bondowoso berlangsung sesuai prosedur nasional. Ujian jenjang SD maupun SMP dilaksanakan secara daring dengan pengawasan kamera dan sistem live streaming sebagaimana ketentuan Puspresnas.
Menurutnya, kendala yang terjadi saat pelaksanaan hanya berupa keterlambatan pengiriman token ujian sekitar 30 menit untuk peserta SD. Setelah token diterima, seluruh peserta dapat menyelesaikan ujian hingga selesai.
Dispendik juga telah berkoordinasi dengan Puspresnas setelah hasil pengumuman tidak mencantumkan Bondowoso. Bahkan surat resmi permohonan pengumuman susulan dan klarifikasi telah dikirimkan ke pemerintah pusat.
Saat rapat dengar pendapat berlangsung, Wakil Ketua DPRD Bondowoso Ady Kriesna mengatakan, pihaknya sengaja mempertemukan wali murid dengan Kepala Dispendik agar seluruh persoalan dapat dijelaskan secara terbuka.
"Tadi perwakilan wali murid peserta OSN sudah menyampaikan aspirasinya langsung ke DPRD. Kami sebagai lembaga legislatif yang menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat memang mengajak Kadis (Dinas Pendidikan) untuk ikut rapat pada kesempatan ini. Sehingga aspirasi itu bisa langsung didengar kepala dinas. Sehingga ada penjelasan dari Dispendik, apa sebabnya dan upaya apa yang dilakukan," katanya.
Menurut Kriesna, berdasarkan penjelasan Dispendik, persoalan tersebut bukan hanya dialami Bondowoso. Sejumlah kabupaten dan kota lain di Indonesia juga mengalami kendala serupa sehingga dugaan sementara mengarah pada persoalan sistem, bukan kesalahan administrasi daerah.
"Sehingga ini sudah nampak dan solusi itu sudah dilakukan. Berkat kesigapan dari aparatur pemerintah di Dispendik," ujar politisi Partai Golkar ini.
Selain meminta penyelesaian, DPRD juga menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan OSN di daerah. Salah satu masukan dari wali murid adalah perlunya lokasi pelaksanaan yang lebih representatif agar peserta dapat mengikuti ujian dengan lebih nyaman.
DPRD juga mengusulkan adanya jalur komunikasi resmi antara Dispendik dan wali murid melalui grup WhatsApp. Langkah tersebut dinilai penting agar setiap perkembangan maupun kendala pelaksanaan OSN dapat segera disampaikan tanpa memunculkan simpang siur informasi.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Bondowoso A. Mansur menilai persoalan administrasi tidak boleh menghilangkan semangat belajar para siswa. Karena itu, DPRD mengusulkan agar peserta maupun pemenang OSN tingkat kecamatan tetap memperoleh penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka.
"Ini kan pelaksanaannya online, biar ada kenangan-kenangan. Minimal siswa itu mendapatkan reward, bisa berupa sertifikat atau piagam," katanya.
Menurut politisi PKB yang akrab disapa Cak Mansur tersebut, penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan bentuk tanggung jawab moral pemerintah terhadap anak-anak yang telah berjuang mempersiapkan diri mengikuti kompetisi sains.
"Anak-anak kita sudah berjuang keras belajar. Jangan sampai karena administrasi, mereka jadi hambar. Mereka layak dihargai," ujarnya.
Ia berharap piagam penghargaan nantinya dapat ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan atau Bupati Bondowoso sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi para siswa.
"Kalau diberikan reward, ini kan menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak-anak. Mereka akhirnya juga punya kenang-kenangan di rumahnya," tuturnya.
Di sisi lain, perwakilan wali murid, Indah Lestari, mengungkapkan polemik tersebut sempat membuat banyak orang tua panik. Saat pengumuman nasional dirilis, ia tidak menemukan satu pun nama peserta asal Bondowoso.
"Saya searching Bondowoso, loh kok ternyata Bondowoso enggak ada. Nah baru dari situlah kita para wali murid saling WA, saling komunikasi, loh kok bisa enggak ada," ujarnya.
Menurut Indah, dampak psikologis paling berat justru dialami anak-anak. Putranya yang telah dipersiapkan mengikuti OSN sejak kelas III SD sempat kehilangan semangat belajar karena mengira perjuangannya sia-sia.
"Sempat down. Habis itu sempat sampai dengan belum ada kepastian ini tidak belajar sama sekali," katanya.
Ia mengaku selama hampir satu tahun anaknya rutin mengikuti les daring dan setiap hari mengerjakan lima hingga sepuluh soal latihan sebagai persiapan menghadapi OSN. Upaya tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Kalau persiapannya itu pasti les. Les online ya. Kami mengambil les online saja supaya tidak terlalu capek ke fisik anak. Dan tiap hari wajib minimum mengerjakan 5-10 soal," ungkapnya.
Setelah rapat dengar pendapat berlangsung, para wali murid akhirnya memperoleh kepastian bahwa seluruh berkas peserta asal Bondowoso telah berhasil diunggah ke sistem pusat dan tinggal menunggu pengumuman susulan.
"Hari ini kami juga sudah memastikan bahwa berkas-berkas dari Kabupaten Bondowoso sudah terupload dengan sempurna," ujar Indah.
Kepastian tersebut membuat semangat belajar anak-anak mulai kembali tumbuh meski belum sepenuhnya pulih.
"Iya, akhirnya semangat lagi. Walaupun mungkin agak sedikit berkurang ya," pungkasnya.
Kini, perhatian seluruh pihak tertuju pada pengumuman susulan dari Puspresnas. DPRD berharap persoalan ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar tata kelola penyelenggaraan OSN ke depan semakin baik, sementara para siswa tetap memperoleh penghargaan atas kerja keras dan prestasi yang telah mereka perjuangkan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

