Peringkati DSAM 2025, PIK POTADS dan YKAI Jatim Gelar Pemeriksaan Kesehatan Anak Down Syndrome Gratis
Masih banyak yang keliru menganggap Down Syndrome sebagai penyakit, padahal mereka istimewa dan punya potensi besar, itulah semangat di balik peringatan DSAM 2025 di Surabaya.
SURABAYA, SJP - Masih banyak masyarakat yang keliru memahami Down Syndrome sebagai penyakit yang menular atau menakutkan. Padahal, Down Syndrome bukan penyakit, melainkan kelainan genetik yang menyebabkan perbedaan pada cara tumbuh dan berkembang seseorang.
Kesalahpahaman tersebut sering menimbulkan stigma buruk di tengah masyarakat, anak-anak dengan Down Syndrome kerap dijauhkan, disembunyikan, bahkan dianggap “tidak bisa apa-apa”. Padahal, mereka adalah anak yang bisa melakukan apa saja, karena mereka juga punya kemampuan, perasaan, dan mimpi seperti anak-anak lain.
Untuk mengubah pandangan itu, dunia setiap Oktober memperingati Down Syndrome Awareness Month (DSAM), sebuah gerakan global yang bertujuan menumbuhkan kesadaran, menghargai keberagaman, serta memperkuat dukungan bagi keluarga penyandang Down Syndrome.
Ruang Sehat dan Ramah untuk Anak-anak Istimewa
Di Jawa Timur, semangat memperingati DSAM 2025 diwujudkan dalam kegiatan bermanfaat sekaligus hangat, yakni "Konsultasi dan Pemeriksaan Kesehatan Penyandang Down Syndrome” dengan tema “Tumbuh, Berkembang, dan Bermakna” serta slogan “Lebih dari Sekadar Kromosom: Kami Punya Mimpi”.
Kegiatan tersebut digelar oleh Pusat Informasi dan Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK POTADS) Jawa Timur yang didukung oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) Jawa Timur dan Shangri-La Hotel Surabaya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Berlokasi di Hotel Shangri-La Surabaya, kegiatan tersebut tidak hanya mengahdirkan pemeriksaan kesehatan secara gratis, namun juga menjadi ruang ekspresi lewat penampilan angklung anak penyandang down syndrome hingga ruangan untuk mewarnai.
Ketua PIK POTADS Jawa Timur, Endah Sugiarti dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wujud pendampingan nyata bagi keluarga penyandang Down Syndrome agar tetap mendapatkan dukungan tumbuh kembang yang layak.
"Kami ingin anak-anak dengan Down Syndrome tidak hanya dilihat dari keterbatasannya, tetapi dari potensinya. Mereka bertumbuh dengan caranya sendiri, dan kita hadir untuk mendampingi dan merayakan setiap perkembangan mereka," ujar Endah, Jumat (31/10/2025).
Dari Pemeriksaan Kesehatan hingga Penghapusan Stigma
Kegiatan pemeriksaan itu melibatkan dokter-dokter spesialis dari berbagai bidang seperti dokter anak, mata, THT, gigi anak, psikiatri, hingga psikolog. Semua hadir dengan semangat pengabdian, memberikan pelayanan komprehensif agar setiap anak bisa mencapai potensi terbaiknya.
Ketua pelaksana acara, Harry Febryanto yang juga merupakan anggota YKAI Jatim menjelaskan bahwa kerjasama antara pihaknya dengan Hotel Shangri-La Surabaya melalui program CSR kali ini merupakan pelaksanaan yang kesembilan kalinya.
Harry mengungkapkan bahwa kegiatan tahun ini diikuti setidaknya oleh 100 anak dengan Down Syndrome dari berbagai daerah di Jawa Timur. Ia menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak Down Syndrome untuk tumbuh sehat sekaligus melawan stigma yang masih sering muncul di masyarakat.
"Masih banyak yang menganggap Down Syndrome sebagai penyakit. Padahal mereka juga punya kelebihan, ada yang pandai melukis, menari, bahkan bermain angklung. Kalau dikawal dengan baik, mereka bisa berprestasi," ucap Harry.
Senada dengan Harry, pembina YKAI Jawa Timur, Gadis Heria Nurdiana, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan anak-anak merasa aman, dihargai, dan didukung untuk berkembang sesuai potensinya.
"Kami ingin membantu anak-anak ini agar bisa tumbuh sehat dan mandiri. Orang tua harus belajar menggali potensi anak karena setiap anak punya kelebihan," tutur Gadis.
Menurutnya, kesejahteraan anak tidak hanya soal kesehatan fisik, tapi juga perasaan dihargai dan diterima di lingkungan. YKAI, bersama para ahli dan tenaga profesional di bidang pendidikan serta kesehatan, terus berupaya memperluas layanan agar keluarga memiliki akses pendampingan yang tepat.
Dari Melukis hingga Mandiri
Gadis juga menuturkan bahwa banyak anak dengan Down Syndrome yang menunjukkan bakat luar biasa. Ada yang pandai melukis dan menjual hasil karyanya dalam bentuk tas atau tumbler, ada pula yang gemar memasak hingga membuat kue kering untuk dijual. Bahkan beberapa di antaranya telah berprestasi di bidang olahraga.
"Kami ingin orang tua terbuka bahwa anak-anak Down Syndrome tidak harus disembunyikan di rumah. Justru harus dikembangkan potensinya agar mereka bisa mandiri dan bahkan menghasilkan karya," pungkasnya.
Acara hasil kolaborasi antara PIK POTADS Jatim, YKAI Jatim dan Shangri-La Hotel Surabaya itu bukan sekadar agenda kesehatan tahunan, tapi juga gerakan hati dan sebuah ajakan agar masyarakat belajar menerima perbedaan, menghargai potensi, dan menghapus batas antara “mereka” dan “kita”. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

