Peringati Hari Ibu, DPC PDI Perjuangan Tulungagung Ziarah ke Makam Mbok Sarinah
Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti, mengatakan pemilihan makam Mbok Sarinah bukan tanpa alasan. Menurutnya, Mbok Sarinah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
TULUNGAGUNG, SJP - Dalam rangka memperingati Hari Ibu, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar ziarah ke makam Mbok Sarinah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Kepatihan, Kabupaten Tulungagung, Senin (22/12/2025) sore. Kegiatan ini menjadi refleksi nilai-nilai perjuangan perempuan yang diwariskan sejak masa awal pergerakan bangsa.
Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti, mengatakan, pemilihan makam Mbok Sarinah bukan tanpa alasan. Menurutnya, Mbok Sarinah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
“Bung Karno itu guru spiritualitas dan guru kemanusiaannya adalah Mbok Sarinah. Dari beliau inilah Bung Karno sejak kecil diajarkan tentang kemanusiaan, keadilan, dan kepedulian terhadap masyarakat kecil,” ujar Erma Susanti.
Ia menjelaskan, nilai-nilai tersebut tertanam kuat dalam diri Bung Karno dan menjadi landasan pemikirannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bahkan hingga gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia.
“Bung Karno berpikir besar, bukan hanya tentang Indonesia, tapi juga tentang dunia yang bebas dari penjajahan dan perbudakan. Dan itu pertama kali beliau dapatkan dari Mbok Sarinah,” jelasnya.
Erma menambahkan, pemikiran Bung Karno tentang perempuan juga banyak dituangkan dalam buku Sarinah. Dalam buku tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa perempuan harus berdaya dan terlibat aktif dalam perjuangan bangsa.
“Bung Karno mengibaratkan negara seperti burung dengan dua sayap, laki-laki dan perempuan. Kalau salah satu sayapnya lemah, maka burung itu tidak akan bisa terbang. Maka dua-duanya harus berdaya,” katanya.
Menurut Erma, semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali dalam peringatan Hari Ibu, agar tidak sekadar menjadi seremoni tahunan.
“Peringatan Hari Ibu ini bukan hanya soal resepsi, berkebaya, atau ucapan selamat. Tapi bagaimana kita merefleksikan kondisi perempuan hari ini dan apa yang harus kita perjuangkan agar perempuan semakin berdaya dan berperan memajukan bangsa,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Hari Ibu ditetapkan oleh Bung Karno pada 22 Desember untuk mengenang Kongres Perempuan Indonesia pertama yang digelar di Yogyakarta pada 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres tersebut membahas isu-isu krusial seperti pendidikan, kesehatan perempuan, hingga peran perempuan dalam perjuangan nasional.
“Perempuan sejak dulu sudah berjuang, berkongres, dan membahas isu-isu penting. Jadi perempuan tidak kalah dengan pemuda dalam sejarah pergerakan bangsa,” tambah Erma.
Dalam konteks kekinian, Erma menilai tantangan perempuan, khususnya di bidang politik, masih cukup besar. Meski keterwakilan perempuan sudah meningkat, jumlahnya dinilai masih belum ideal.
“Saat ini keterwakilan perempuan secara nasional masih sekitar 20 persen, padahal amanat undang-undang adalah 30 persen. Angka 30 persen itu penting sebagai afirmasi agar perempuan benar-benar terwakili dan memiliki ruang yang adil,” ujarnya.
Erma menegaskan, partai politik memiliki kewajiban untuk melakukan pendidikan politik dan pemberdayaan perempuan agar mampu berkompetisi dalam kontestasi politik, baik di legislatif maupun eksekutif.
“Kalau sudah mencapai 30 persen, budaya politik akan lebih adil dan perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Itu tujuan dari kebijakan afirmasi,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Erma yang baru saja dilantik sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung juga menyampaikan harapannya agar ziarah ini menjadi penyemangat bagi kepengurusan baru.
“Saya ke sini juga untuk menyerap energi Mbok Sarinah, agar menjadi penyemangat memajukan PDI Perjuangan tetap berada di jalur rakyat, konsisten memperjuangkan wong cilik, dan semakin dicintai masyarakat,” pungkasnya.
Ia berharap, dengan melibatkan generasi muda dan meningkatkan peran perempuan, PDI Perjuangan mampu menjawab tantangan bonus demografi serta turut menyiapkan generasi yang kuat untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkeadilan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

