Perajin Bedug di Blitar Banjir Pesanan Menjelang Idulfitri 2026
Pada Ramadan 2026 ini, ia menerima pesanan bedug dari berbagai pelanggan, mulai dari wilayah lokal Blitar hingga luar kota.
BLITAR, SJP–Meningkatnya permintaan bedug pada momentum Ramadan membawa keberkahan bagi Mujiono (44), seorang perajin asal Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Pada Ramadan 2026 ini, ia menerima pesanan bedug dari berbagai pelanggan, mulai dari wilayah lokal Blitar hingga luar kota.
"Pesanan bedug memang ramainya pada Ramadan saja. Di luar itu jarang, kalau tahun ini ada 10 pesanan bedug," ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Saat ditemui di bengkel kerjanya, Mujiono tengah menyelesaikan tahap akhir (finishing) pada dua unit bedug. Sebanyak delapan unit lainnya telah diambil oleh pemesan. Salah satu bedug yang sedang dikerjakan memiliki diameter satu meter dan panjang 1,2 meter untuk memenuhi kebutuhan masjid.
Proses produksi dilakukan secara bertahap. Setelah kayu dibentuk, bagian luar dihaluskan menggunakan mesin amplas. Selanjutnya, dilakukan proses plamir untuk menutup sambungan kayu sebelum memasuki tahap pelitur.
Guna mengantisipasi lonjakan pesanan, Mujiono telah menyiapkan bahan baku jauh sebelum memasuki bulan suci. Saat mendekati Ramadan, pengerjaan difokuskan pada tahap penyelesaian agar produk dapat segera dikirim kepada pelanggan.
"Ukuran bedug yang paling banyak dipesan berdiameter 55 hingga 70 sentimeter untuk musala. Sementara harga jual bervariasi, mulai Rp2,5 juta hingga Rp15 juta tergantung ukuran dan bahan," ucapnya.
Mayoritas pesanan berasal dari wilayah Blitar, namun terdapat pula pelanggan dari luar daerah seperti Kabupaten Tulungagung.
Dalam proses produksi, Mujiono menggunakan kayu mahoni, nangka, dan trembesi. Ia mengakui saat ini cukup kesulitan memperoleh kayu utuh berukuran besar. Jika bahan tersebut tidak tersedia, ia menyiasatinya dengan menyambung kayu tanpa mengurangi kualitas suara yang dihasilkan.
"Saat ini sudah mulai sulit mendapatkan bahan kayu utuh berukuran besar. Kalau tidak tersedia, kayu akan disambungkan tanpa mengurangi kualitas suara," tutur dia.
Selain bedug, Mujiono juga memproduksi kendang Jawa untuk kesenian jaranan dan karawitan. Produksi kendang dilakukan setiap hari dengan kapasitas mencapai 20 unit.
Pesanan kendang sebagian besar berasal dari Jawa Timur dan Lampung. Setiap bulan, ia rutin mengirim hingga 500 unit kendang ke wilayah Lampung. Namun, selama Ramadan, permintaan kendang cenderung menurun dan digantikan oleh peningkatan pesanan bedug. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

