Ibu Muda di Blitar Raup Cuan dari Bisnis Kemasan Hampers, Pesanan Tembus Pasar Internasional
Usaha rumahan yang dirintis sejak 2018 tersebut kini telah menjangkau pasar nasional dengan peningkatan pesanan hingga 30 persen selama bulan Ramadan.
BLITAR, SJP – Tren bingkisan (hampers) Ramadan 2026 tidak hanya membawa berkah bagi produsen kue kering, tetapi juga bagi penyedia jasa kemasan. Di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, seorang ibu muda berhasil mengoptimalkan celah bisnis melalui pembuatan boks kemasan eksklusif.
Lendy Renora (33) membuktikan bahwa kemasan merupakan elemen penting yang menentukan nilai jual sebuah produk. Usaha rumahan yang dirintis sejak 2018 tersebut kini telah menjangkau pasar nasional dengan peningkatan pesanan hingga 30 persen selama bulan Ramadan.
"Hingga awal Ramadan ini, pesanan yang sudah terkirim lebih dari 4.000 boks," ujar Lendy saat ditemui di lokasi produksi, Jumat (27/2/2026).
Berbeda dengan pelaku usaha lain yang berfokus pada isi bingkisan, Lendy konsisten pada produksi kemasan. Segmen pasarnya mencakup toko kue, vendor suvenir, pelaku UMKM di berbagai kota, hingga sektor korporasi.
Pada hari biasa, volume produksi berkisar antara 100-150 boks per hari. Namun, menjelang Hari Raya Idulfitri, angka tersebut melonjak hingga 20-30 persen. Harga produk ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp17.000 hingga Rp60.000 per unit, tergantung pada ukuran dan spesifikasi pemesan.
Lendy berpendapat bahwa kemasan memiliki peran signifikan dalam meningkatkan persepsi konsumen terhadap sebuah barang.
"Saya percaya kemasan itu punya nilai plus. Produk biasa bisa terlihat premium kalau dikemas dengan baik," kata dia.
Sejak awal operasional, Lendy tidak membatasi pemasaran pada lingkup lokal Blitar. Ia langsung mengoptimalkan strategi pemasaran digital guna menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.
Strategi tersebut terbukti efektif. Saat ini, pesanan rutin berdatangan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Aceh, Makassar, hingga Timika. Bahkan, produknya telah merambah pasar internasional, seperti Malaysia dan Singapura.
"Kalau hanya ditawarkan ke teman sendiri, pasarnya cepat habis. Dari awal saya sudah berpikir pasarnya harus seluruh Indonesia," ungkapnya.
Perjalanan bisnis Lendy dilakukan secara bertahap. Pada awal merintis, ia menangani seluruh proses secara mandiri, mulai dari desain, produksi, administrasi, hingga pemasaran.
"Dulu itu awalnya dapat pesanan 10 boks sudah senang sekali. Alhamdulillah sekarang sudah berkembang lebih pesat," kata dia.
Saat ini, usaha tersebut telah berkembang pesat dan memberdayakan 30 tenaga kerja yang mayoritas merupakan warga sekitar. Sebanyak 15 karyawan bekerja di bengkel produksi, sementara 15 lainnya yang merupakan ibu rumah tangga mengerjakan proses perakitan dari rumah masing-masing. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

