Pemkab Probolinggo Kaji Investasi Teknologi Pirolisis, Solusi Modern Atasi Sampah hingga 500 Ton per Hari
Pemkab Probolinggo mulai melirik teknologi pirolisis sebagai solusi modern mengatasi persoalan sampah. Dengan potensi hingga 500 ton sampah per hari, kolaborasi dengan investor diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.
PROBOLINGGO, SJP - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai menelaah peluang investasi pengolahan sampah berbasis teknologi pirolisis yang ditawarkan PT Kimia Alam Subur (KAS). Paparan rencana tersebut berlangsung di ruang pertemuan Rengganis, Kantor Bupati Probolinggo.
Agenda ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Wakil Ketua DPRD M. Zubaidi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan M. Sjaiful Efendi, serta sejumlah kepala OPD terkait. Sementara itu, pemaparan teknologi disampaikan langsung oleh Direktur PT KAS, Ermawan Wibisono.
Sekda Ugas Irwanto menyampaikan apresiasi atas minat PT KAS dalam mendukung pengelolaan lingkungan di Kabupaten Probolinggo. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjawab tantangan nasional dalam pengelolaan sampah, termasuk target “Kiamat TPA 2028”.
“Pemkab Probolinggo ingin bertransformasi dari sekadar membuang sampah menjadi mengolah sampah. Dengan timbulan sampah sekitar 446 ton per hari dan potensi meningkat akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG), diperlukan solusi teknologi yang efektif,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa keterbatasan fiskal daerah menjadi pertimbangan utama, sehingga Pemkab lebih terbuka terhadap investasi dari pihak swasta yang tidak membebani APBD. Kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin penuh turut menjadi alasan perlunya teknologi yang mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.
Di sisi lain, Direktur PT KAS Ermawan Wibisono menilai metode pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan belum mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Menurutnya, sistem yang ada hanya memindahkan residu tanpa memberikan solusi jangka panjang.
“Selama ini hanya mengalihkan residu, sementara biaya tetap berjalan. Itu yang menjadi persoalan utama,” ujarnya.
Ermawan menjelaskan bahwa pihaknya menawarkan teknologi biolisis atau pirolisis yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Teknologi ini bekerja melalui proses pemanasan tertutup tanpa pembakaran langsung.
“Teknologi ini mampu menghasilkan bahan bakar setara solar, gas sintetis (syngas) hingga karbon aktif. Selain itu, tidak menghasilkan emisi berbahaya karena tidak melalui pembakaran langsung,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa skema kerja sama yang ditawarkan tidak akan membebani pemerintah daerah, termasuk tanpa adanya tipping fee.
“Keuntungan diperoleh dari hasil produk yang diolah, bukan dari pemerintah daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo M. Zubaidi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor di luar APBD guna mengoptimalkan pengelolaan sampah. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kerja sama tersebut harus melalui proses kajian yang matang.
“Ini bukan sesuatu yang sederhana. Tidak cukup hanya pertemuan lalu MoU selesai. Dibutuhkan proses panjang dan kepercayaan agar program berjalan baik. Oleh karena itu pentingnya asesmen awal terkait jenis dan volume sampah sebagai dasar penyusunan skema pengelolaan,” urainya.
Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto mengungkapkan bahwa kondisi pengelolaan sampah di daerahnya masih belum ideal. Dari total potensi 480 hingga 500 ton sampah per hari, hanya sekitar 5 persen yang dapat terangkut ke TPA.
“Keterbatasan armada menjadi kendala utama. Saat ini hanya ada 23 armada dengan kapasitas sekitar 50 ton per hari,” ungkapnya.
Selain itu, sistem pengelolaan di TPA masih menggunakan metode open dumping yang menjadi perhatian pemerintah pusat. Oleh sebab itu, pihaknya optimistis kehadiran investor dapat menjadi solusi dalam pengelolaan sampah secara menyeluruh.
“Potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor persampahan cukup besar, bahkan bisa mencapai sekitar Rp9,5 miliar per tahun melalui penerapan sistem e-retribusi. Kami optimistis kolaborasi ini dapat memperbaiki sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, sehingga lebih efektif, transparan dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh Sekda Ugas Irwanto. Sejumlah pertanyaan dan masukan disampaikan oleh berbagai pihak, mulai dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala BKKPAD Kristiana Ruliani, hingga perwakilan Bapelitbangda Kabupaten Probolinggo. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

