Ogah Musnahkan Karangan Bunga Satire, BEM FISIP Unair: Itu Monumen Perjuangan Kami
BEM FISIP Unair menegaskan, karangan bunga kontroversial itu tetap disimpan sebagai monumen perjuangan, meski sempat memicu pembekuan organisasi oleh dekanat.
SURABAYA, SJP - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) bertekad untuk tetap menyimpan karangan bunga berisi satire yang sempat memicu pembekuan organisasi mereka.
Dalam konferensi pers di depan Gedung A FISIP Unair pada Selasa (29/10/2024), Ketua BEM FISIP Unair, Tuffahati Ullayyah Bachtiar mengatakan, karangan bunga tersebut memiliki makna penting sebagai simbol perjuangan dan sikap kritis mahasiswa.
“Kami simpan sampai kapan pun. Karena itu jadi monumen untuk BEM FISIP sendiri,” ungkap Tuffa, Selasa (29/10/2024).
Sebelumnya, pada Sabtu (26/10/2024), BEM FISIP Unair dibekukan oleh pihak dekanat setelah memajang karangan bunga berisi ungkapan satire atas dilantiknya presiden dan wakil presiden RI, yakni Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Dalam karangan bunga itu, BEM FISIP menggunakan diksi satire yang dianggap tidak pantas dan dinilai sebagai ujaran kebencian oleh dekanat. Adapun bunyi dari ucapan dalam karangan bunga tersebut yaitu:
"Selamat atas Dilantiknya Jenderal Bengis Pelanggar HAM dan Profesor IPK 2,3 sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang Lahir dari Rahim Haram Konstitusi."
Kontroversi itu sempat memicu perdebatan publik. Sebagian mahasiswa memandang pembekuan tersebut sebagai bentuk pemberangusan kebebasan berekspresi.
Meski status pembekuan telah dicabut sehari sebelumnya, BEM FISIP Unair memilih untuk mempertahankan jejak perjuangan mereka. Tidak hanya karangan bunga, Tuffa memastikan bahwa jejak digital dari publikasi mereka tidak akan dihapus sepenuhnya.
“Untuk snapgram, memang setelah 24 jam tidak bisa dilihat publik. Tapi semua masih masuk arsip dan gak akan dihapus,” tegasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

