Musim Kemarau Basah, Tradisi Adu Layangan di Kencong Jember Kembali Hidup
Tak hanya menjadi ajang hiburan, momen ini juga membuka peluang ekonomi bagi para pedagang musiman. Di sekitar lokasi, banyak penjual layangan yang menjajakan dagangannya.
JEMBER, SJP – Suasana unik dan penuh nostalgia menyelimuti Kecamatan Kencong, Jember, saat musim kemarau basah tiba. Tradisi lama yang dikenal sebagai sambitan atau adu layangan kembali menggeliat, menggugah kenangan masa kecil dan menarik perhatian warga dari berbagai usia.
Setiap sore, pematang sawah dan pinggiran Sungai Kali Meneng dipadati oleh ratusan warga, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, yang berkumpul untuk adu ketangkasan menerbangkan layangan.
Layangan-layangan itu dilengkapi benang yang telah dilapisi pecahan kaca halus atau pasir, digunakan untuk memutuskan benang layangan lawan.
Suasana menjadi semakin meriah dengan teriakan histeris dan sorak sorai penonton, terutama saat sebuah layangan putus dan dikejar puluhan anak-anak, maupun orang dewasa yang berlarian penuh semangat.
Tak hanya menjadi ajang hiburan, momen ini juga membuka peluang ekonomi bagi para pedagang musiman. Di sekitar lokasi, banyak penjual layangan yang menjajakan dagangannya.
Salah satunya adalah Nanang (35), warga Kencong, yang mengaku rutin berjualan layangan setiap sore.
"Setiap hari ramai, apalagi saat akhir pekan. Banyak juga yang datang dari kecamatan lain hanya untuk ikut sambitan," ungkap Nanang saat ditemui pada Ahad (3/8/2025).
Nanang menyebut, dalam sehari ia bisa membawa hingga 100 layangan, dan hampir semuanya habis terjual. Harga layangan dibanderol antara Rp2.500 hingga Rp5.000 per buah.
Yang menarik, kegiatan adu layangan ini tak hanya didominasi laki-laki. Seorang perempuan asal Kabupaten Lumajang, pemilik brand jajanan viral Boboho Donut, juga turut ambil bagian dalam sambitan.
"Ini mengingatkan saya pada masa kecil. Seru sekali, dan bagi saya ini hiburan yang luar biasa. Wajib ikut!" ujar ibu tiga anak tersebut sambil tertawa.
Di lokasi, pemandangan anak-anak kecil berlarian membawa tongkat panjang untuk mengejar layangan putus menjadi pemandangan khas yang menyemarakkan suasana senja di Kencong. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

