Minim Representasi Tuan Rumah, Perupa Surabaya Menjawab ARTSUBS lewat Art’s Sob
Merasa minim representasi sebagai tuan rumah di ARTSUBS, perupa Surabaya melalui komunitas Ilustrasi Idiom menjawab dengan gelar pameran bertajuk Art’s Sob, pameran kolektif yang lahir dari kegelisahan, kemandirian, dan keberanian bersuara.
SURABAYA, SJP – Deretan lukisan kembali memenuhi Basement Alun-alun Kota Surabaya di awal Februari 2026 dalam sebuah pameran yang digelar oleh Komunitas Seni Ilustrasi Idiom dengan tajuk Art's Sob, sebuah tajuk yang terdengar akrab di telinga publik Kota Pahlawan.
Nama Art's Sob yang merupakan akronim dari Art’s Suroboyo Exhibition dipilih bukan sekadar permainan kata. Di baliknya, tersimpan kegelisahan sekaligus sikap kolektif para perupa Surabaya terhadap gelaran seni rupa berskala besar yang dua tahun belakangan kerap mencuri perhatian, yaitu ARTSUBS.
ARTSUBS dan Bayang di Balik Gemerlap
ARTSUBS sendiri dikenal sebagai pameran seni rupa kontemporer berskala nasional hingga internasional yang digelar di Surabaya sejak 2024. Edisi perdana pameran itu mengusung tema Ways of Dreaming, berlangsung di Pos Bloc Surabaya dan sukses secara penjualan dan jumlah kunjungan.
Setahun berselang, edisi kedua bertema Material Ways digelar di Balai Pemuda Surabaya pada 2025. Ratusan karya dari ratusan seniman ditampilkan, dengan eksplorasi medium yang luas, mulai dari lukisan, instalasi, limbah, hingga kecerdasan buatan.
Namun di balik kemegahan tersebut, muncul kegelisahan di kalangan perupa Surabaya. Mereka menilai keterlibatan seniman lokal tidak sebanding dengan nama besar Surabaya yang disematkan pada gelaran ARTSUBS. Dari kegelisahan itulah pameran Art’s Sob lahir.
“Kami Bisa Berdiri di Kaki Sendiri”
Ketua Pelaksana Art’s Sob sekaligus Wakil Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom, Ridwan SS, menegaskan pameran yang digelar singkat sejak 1 hingga 4 Februari 2026 itu memang diniatkan sebagai respon terbuka terhadap gelaran ARTSUBS.
"Art's Sob ini untuk merespon ARTSUBS ya, karena ARTSUBS kemarin yang tingkatnya internasional, itu sangat kurang melibatkan seniman Surabaya sendiri. Padahal dia memakai nama Surabaya," ucap Ridwan, Rabu (4/2/2026).
Ia membandingkan ARTSUBS dengan gelaran seni rupa dengan skala yang sama seperti ARTJOG di Yogyakarta. Menurutnya, ARTJOG tetap memberi ruang besar bagi perupa lokal, sementara ARTSUBS dirasa kurang mampu untuk membawa semangat yang sama.
"ARTSUBS ini ingin seperti ARTJOG, tapi ARTJOG itu banyak seniman Jogja yang ikut. Nah, ARTSUBS ini kenapa perupa-perupa lokalnya kok (hampir) tidak ada," kata dia.
Ridwan menyebut Art’s Sob sebagai pernyataan bahwa perupa Surabaya mampu berdiri sendiri tanpa harus menunggu undangan dari pameran besar. Bukan sekadar pameran alternatif, melainkan pernyataan bahwa perupa Surabaya tidak kekurangan daya untuk berpameran.
"Di sini maksudnya gelaran ini, kita bisa kok buat pameran sendiri. Kita bisa walau tidak dilibatkan pada acara-acara besar," ujarnya.
Kritik Kurasi dan Orientasi Pada Pasar
Lebih jauh, Ridwan juga menyoroti pola kurasi ARTSUBS yang dinilai terlalu berorientasi pada pasar. Meski ia tetap mengakui pada edisi pertama ARTSUBS masih melibatkan perupa Surabaya, meski jumlahnya terbatas.
"ARTSUBS yang pertama itu perupa Surabaya masih lumayan, mungkin sekitar 20 persen. Tapi setelah itu, yang diambil rata-rata pelukis yang sudah punya pasar," ucapnya.
Menurut Ridwan, kondisi tersebut membuat banyak perupa bertalenta tersisih karena belum memiliki pembeli tetap. Padahal, seni rupa semestinya tidak hanya dilihat dari sisi materialistis, tetapi juga dari esensi dan gagasan artistik.
"Yang diundang itu kebanyakan pelukis yang karyanya sering laku. Saya harap kurator tidak hanya menilai dari segi materialistis, tapi juga dari esensi seni rupanya," kata Ridwan.
Ia berharap kurator dan penyelenggara pameran besar bisa lebih fleksibel dan membuka ruang dialog dengan perupa yang belum memiliki pasar, tetapi memiliki kualitas karya.
Kendati demikian, Ridwan menegaskan Art’s Sob tidak diniatkan untuk menyaingi ARTSUBS dalam skala besar. Ia menyadari keterbatasan pendanaan dan jaringan sponsor.
"Kalau untuk menyaingi ARTSUBS ya belum ke sana. Belum bisa se-mega itu. Tapi bukan berarti tidak mungkin, hanya perlu waktu," katanya.
Ke depan, Art’s Sob direncanakan menjadi agenda tahunan Ilustrasi Idiom, berdampingan dengan pameran rutin lain mereka, yakni pameran Hitam-Putih.
Ruang Pertemuan Menjelang Sunyi Ramadan
Di luar kritik dan respons yang dibawa dalam pameran, Art’s Sob sebenarnya juga menjadi ruang temu bagi para seniman di Surabaya dan sekitarnya. Menjelang Ramadan 2026, pameran itu menjadi tempat perupa saling menyapa, berdiskusi, dan mengendapkan kembali makna berkesenian.
"Pameran ini fungsinya juga silaturahmi. Sebelum kita fokus ibadah, kita bertemu dulu lewat pameran ini,”l" kata Ridwan.
Sebanyak sekitar 37 perupa terlibat. Mayoritas berasal dari Surabaya, dengan beberapa tamu dari daerah lain seperti Gresik dan Mojokerto. Tidak ada tema besar yang mengikat. Hanya batasan ukuran kanvas, maksimal dua meter, agar ruang tetap bernapas.
Kesenian Surabaya Selalu Bergerak
Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom, Roman Chuza, menegaskan Art’s Sob bukan sekadar reaksi atau kritik semata, melainkan bentuk gerak nyata yang lahir dari kegigihan perupa Surabaya sendiri.
"Kita ini tidak cari perhatian. Kita gerak, action. Kalau ada gelaran pakai nama Surabaya, paling tidak 50 sampai 60 persen perupanya harus dari Surabaya, bukan cuma 5 persen," kata Roman.
Ia menekankan Art’s Sob adalah pameran seni yang berangkat dari gagasan dan gerak perupa Surabaya. Meski melibatkan seniman luar kota, Roman memastikan komposisinya tetap berpihak pada perupa lokal.
"Kalau ada teman dari luar Surabaya ingin bergabung, ya kita hormati sebagai tamu. Tapi tetap mayoritas perupanya dari Surabaya," ujarnya.
Senada dengan apa yang dikatakan Ridwan, Roman juga menegaskan bahwa tujuan utama pameran kali ini adalah silaturahmi dan penguatan jaringan seni, sekaligus pembuka tahun 2026 bagi komunitas perupa di Surabaya dan sekitarnya.
Sebagai informasi tambahan, Pameran Art’s Sob sejatinya direncanakan berlangsung hingga 6 Februari 2026. Namun, durasinya terpangkas karena penggunaan tempat oleh agenda Pemerintah Kota Surabaya. Hal itu membuat pameran hanya efektif selama tiga hari.
Kendati menjadi kritik tersendiri terhadap kebijakan dari pengelola Balai Pemuda, Komunitas Ilustrasi Idiom memilih tetap fokus pada substansi pameran dan pesan yang ingin disampaikan, tanpa menjadikan polemik ruang sebagai isu utama.
Kini Art's Sob juga berada di penghujung gelarannya, lampu akan segera dipadamkan, dan kanvas kembali dibungkus. Namun kegelisahan yang melahirkannya belum benar-benar pulang. Art’s Sob telah menjadi penanda bahwa seni Surabaya tidak menunggu untuk dipilih, ia bergerak, berkumpul, dan berbicara dengan caranya sendiri. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

