Menyingkap Wajah Asli Gunung Kawi, Oase Toleransi di Balik Kabut Mitos Pesugihan
Gunung Kawi di Malang yang mengupas pelurusan mitos pesugihan artis, sejarah asli ulama pengikut Pangeran Diponegoro, serta indahnya akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa
MALANG, SJP - Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh rumor mistis yang menyeret nama selebritas papan atas, Sarwendah. Ibu tiga anak ini diisukan mendatangi Gunung Kawi di Jawa Timur untuk melangsungkan ritual pesugihan demi kelancaran karier.
Klarifikasi segera datang dari pihak keluarga yang menegaskan bahwa kedatangannya beberapa tahun lalu murni untuk keperluan syuting program podcast horor profesional, sekaligus membantah keras tuduhan hoaks tersebut. Pihak Keraton Gunung Kawi bahkan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran oknum kuncen yang mencatut nama sang artis.
Terlepas dari isu tersebut, nama Gunung Kawi memang sudah lama melekat dengan stigma tempat mencari kekayaan instan. Fenomena ini sebenarnya lahir dari salah kaprah massal terhadap ritual wisata religi dan ziarah spiritual di sana. Banyak pengunjung datang murni untuk berdoa, bersyukur, atau memohon kelancaran usaha sebagaimana tradisi ziarah kubur pada umumnya.
Peristirahatan Eyang Jugo, Pengikut Diponegoro
Kawasan Pesarean Gunung Kawi yang terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, sejatinya merupakan tempat peristirahatan terakhir dua tokoh ulama dan pejuang Mataram pengikut Pangeran Diponegoro, yakni Eyang Jugo (Kyai Zakaria II) dan Raden Mas Iman Soedjono.
Setelah perang berakhir pada 1830, mereka melarikan diri ke arah timur Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam dan menolong masyarakat sebagai tabib. Jauh dari kesan hitam, makam mereka dirawat untuk meneladani budi pekerti luhur mereka.
Keunikan terbesar dari lereng gunung ini adalah akulturasi budayanya yang sangat kental. Kompleks pesarean ini dilengkapi dengan masjid megah sekaligus klenteng tempat ibadah umat Tionghoa.
Keharmonisan ini bermula dari kisah warga keturunan Tionghoa yang menghormati jasa Eyang Jugo karena telah menyembuhkan leluhur mereka. Daya tarik spiritual ini makin diperkuat oleh keberadaan pohon Dewandaru yang dianggap sakral, di mana para peziarah kerap menunggu jatuhnya daun atau ranting yang dipercaya sebagai simbol datangnya rezeki secara alami.
Kini, Gunung Kawi diakui pemerintah sebagai desa wisata ritual yang menjadi simbol toleransi dan pusat ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar. Ribuan wisatawan domestik hingga mancanegara terus berdatangan untuk menikmati keindahan budaya yang berjalan beriringan dengan denyut nadi perekonomian lokal. (**)
Sumber: beritasatu.com
Editor: Danu
What's Your Reaction?

