Mengenal Inovasi Produk Ecoprint dari SKM Malang yang Mendunia

Mengukir kesuksesan dari daun dan pewarna alam. Sanggar Kreasi Mamalya membawa keindahan ecoprint khas Indonesia ke pentas dunia.

05 Feb 2025 - 19:46
Mengenal Inovasi Produk Ecoprint dari SKM Malang yang Mendunia
Pendiri Sanggar Kreasi Mamalya (SKM), Siti Mudrika (doc. Hafid/SJP)

MALANG, SJP — Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, mencatat prestasi dengan keberadaan Sanggar Kreasi Mamalya (SKM) yang didirikan oleh Siti Mudrika. 

Sanggar ini telah berhasil mengembangkan kerajinan batik dengan metode ecoprint berbasis pewarnaan alami dan kini dikenal luas hingga pasar internasional.

Dengan lebih dari 2.140 anggota di Indonesia dan lima anggota di luar negeri seperti Australia, Hongkong, Singapura, Malaysia, dan Vietnam, SKM tidak hanya menjadi pusat pelatihan tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.

Siti Mudrika, pendiri SKM, menceritakan perjalanan inspiratif sanggar ini yang dimulai dari pelatihan ecoprint hingga kini menjadi penggerak ekonomi kreatif. 

"Kami tidak hanya melatih teknik ecoprint, tetapi juga memberikan peluang bagi anggota untuk berkreasi dan memasarkan hasil karya mereka. Saat ini, anggota yang sudah ikut pelatihan berhak memproduksi dan menjual produk berbasis ecoprint, baik untuk pasar lokal maupun internasional," ucapnya, Rabu (5/2/2025).

Produk batik berupa tas, sepatu, sandal, kemeja, dan beberapa hasil kreasi dari sanggar ini telah berhasil menembus pasar global, khususnya Australia, dengan berbagai produk seperti kain, syal, baju, dan dompet. 

"Barang-barang kita sudah diekspor ke Australia. Saat ini, ada 32 item yang akan segera saya kirim, termasuk 10 baju dan 15 dompet. Kalau untuk Vietnam, itu masih baru. Sebulan terakhir mereka mulai membeli bahan baku dari kita, dan saya sangat senang melihat perkembangan ini," ujar Ibu persit ini.

Kerja sama dengan ekspedisi mempermudah SKM mengirimkan produk ke luar negeri. Siti menambahkan jika proses pengiriman dilakukan secara rutin, dan semua produk ini nantinya dijual kembali oleh anggota kita di negara tujuan.

"Mereka menjual tanpa label resmi sanggar, tapi tetap harus bisa menjelaskan proses pembuatan ecoprint kepada pembeli, sehingga edukasi tetap berjalan,” tukasnya.

Siti menjelaskan bahwa semua produk dibuat dengan bahan alami dan teknik yang ramah lingkungan. 

"Untuk ecoprint, kain yang digunakan harus berbahan alami seperti sutra, tenun, atau katun. Kami tidak menggunakan kain yang mengandung polyester," jelasnya.

Prosesnya dimulai dengan membentangkan kain, menata daun di atasnya, lalu ditutup dengan pewarna alami seperti secang, daun lawe, kulit manggis, atau kunyit. 

Warna-warna ini bisa menghasilkan efek cantik seperti merah muda, kuning, hingga ungu. Setelah itu, kain digulung, diikat, dan dikukus selama dua jam.

Kunjungan Bupati Malang baru-baru ini memberikan dorongan semangat baru bagi SKM. Siti menyampaikan harapannya agar SKM mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

"Saat bertemu Bupati, beliau menyarankan agar saya mendesain produk dengan tema Garuda. Saya harap desain ini dapat diterima dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Semoga nantinya, sanggar ini semakin berkembang dan membawa nama baik Kabupaten Malang hingga ke mancanegara," harapnya.

Dengan visi besar dan semangat pemberdayaan, Siti Mudrika dan Sanggar Kreasi Mamalya telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. 

SKM tidak hanya menawarkan produk berkualitas, tetapi juga menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih kreatif dan berkelanjutan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow