Mengenal France German Friendship Day, Dari Sejarah Rekonsiliasi Eropa hingga Dirayakan Dunia

Tanggal 22 Januari jarang disadari sebagai Hari Persahabatan Prancis dan Jerman, momen rekonsiliasi dua bekas musuh perang yang kini dirayakan global hingga Surabaya lewat IFI dan Wisma Jerman.

24 Jan 2026 - 22:10
Mengenal France German Friendship Day, Dari Sejarah Rekonsiliasi Eropa hingga Dirayakan Dunia
Momen saling menukarkan kue khas Prancis dan Jerman sebagai simbol persahabatan dua negara dalam perayaan France German Friendship Day di Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP — Tanggal 22 Januari barangkali tak banyak orang menandainya sebagai hari istimewa. Namun di banyak belahan dunia, tanggal ini diperingati sebagai France German Friendship Day, hari persahabatan antara dua negara Eropa yang pernah terlibat konflik panjang, yakni Prancis dan Jerman.

Peringatan itu dirayakan secara global setiap tahun, bukan hanya di Eropa, tetapi juga di berbagai negara lain, termasuk Indonesia. Di Surabaya, momen tersebut diperingati melalui sebuah perayaan bersama yang digelar oleh Institut Français Indonésie (IFI) Surabaya dan Wisma Jerman.

Dari Rival Perang Menjadi Sahabat Strategis

France German Friendship Day berakar pada sejarah panjang hubungan Prancis dan Jerman yang penuh konflik, terutama sebelum dan selama Perang Dunia. Dua negara bertetangga itu pernah terlibat peperangan besar yang meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keduanya, tetapi juga bagi Eropa secara keseluruhan.

Setelah Perang Dunia II berakhir, muncul kesadaran bahwa perdamaian Eropa hanya bisa terwujud jika Prancis dan Jerman berdamai. Kesadaran itu diwujudkan secara resmi pada 22 Januari 1963, saat kedua negara menandatangani Traktat Élysée yang menjadi tonggak rekonsiliasi dan menandai komitmen untuk membangun kerja sama jangka panjang di berbagai bidang.

Seiring waktu, hubungan tersebut kian erat. Pada 2019, kedua negara kembali menegaskan kemitraan strategis melalui Traktat Aachen atau Aix-la-Chapelle, yang memperluas kerja sama di sektor politik, pertahanan, ekonomi, riset, hingga budaya. Hubungan Prancis–Jerman pun kini dikenal sebagai salah satu poros utama dalam penguatan Uni Eropa dan masa depan Eropa.

Diplomasi Budaya yang Turun ke Publik

Semangat persahabatan itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk diplomasi budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Surabaya, IFI dan Wisma Jerman untuk pertama kalinya membuka perayaan France German Friendship Day kepada masyarakat umum.

Perayaan digelar di Auditorium IFI Surabaya dengan konsep ringan dan interaktif. Kuis budaya, permainan edukatif, hingga suguhan kudapan khas Prancis dan Jerman menjadi bagian dari acara. Hadiah berupa voucher kursus bahasa Prancis dan Jerman pun disiapkan untuk menarik minat peserta, terutama kalangan muda.

Bagian Kebudayaan dan Komunikasi IFI Surabaya, Pramenda Krishna, menyebut perayaan ini sebagai langkah awal memperkenalkan momen bersejarah tersebut kepada publik.

"Ini pertama kalinya kami mengadakan France German Friendship Day untuk umum. Perayaan ini mungkin belum banyak dikenal, jadi kami senang bisa mengundang publik untuk hadir dan ikut merayakan," ujar Khrisna saat dikonfirmasi pada Sabtu (24/1/2026).

Menurut Pramenda, budaya dipilih sebagai medium utama karena dianggap efektif membuka komunikasi dan pemahaman lintas negara.

"Persahabatan Prancis dan Jerman ini dirayakan secara global setiap 22 Januari. Mereka menjalin persahabatan lewat kebudayaan, karena itu cara yang sangat efektif untuk membuka pengetahuan dan pemahaman satu sama lain," katanya.

Kerja sama antara IFI dan Wisma Jerman sejatinya sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, meski sebelumnya lebih banyak bersifat internal atau proyek khusus. Salah satunya adalah residensi fotografi yang melibatkan anak muda Prancis, Jerman, dan Indonesia pada 2023, yang digelar di Bromo, Surabaya, hingga Sidoarjo.

Melalui perayaan ini, IFI berharap publik Surabaya semakin mengenal kedua institusi sebagai ruang terbuka untuk kegiatan kreatif dan kebudayaan.

"Kami senang sekali jika anak-anak muda tertarik. IFI terbuka untuk aktivitas seni, budaya, atau acara kreatif lain, dan kami senang mendukung," tutur Pramenda.

Bahasa, Budaya, dan Masa Depan Anak Muda

Pelaksana Tugas Kepala Pengindhu Bahasa Wisma Jerman, Ferry Kuswanto, menegaskan bahwa perayaan ini juga menjadi sarana menunjukkan kuatnya hubungan Prancis dan Jerman kepada masyarakat luas.

"Hari ini spesial karena kami ingin memperkenalkan lebih dekat ke masyarakat bahwa Jerman dan Prancis memiliki hubungan yang sangat baik, dan itu dirayakan secara global," ujarnya.

Ferry menambahkan, diplomasi budaya ini juga berkaitan erat dengan meningkatnya minat anak muda terhadap bahasa dan budaya Jerman maupun Prancis. Di Wisma Jerman, tren belajar bahasa Jerman terus meningkat, seiring populernya program Ausbildung, pelatihan kerja di Jerman yang diminati generasi muda.

"Sekarang banyak anak muda Surabaya yang tertarik ke Jerman, terutama lewat program Ausbildung. Ini sangat populer dalam empat tahun terakhir," katanya.

Ia berharap perayaan seperti France German Friendship Day dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk mengenal bahasa, budaya, sekaligus membuka peluang masa depan.

"Kami ingin bahasa dan budaya Jerman maupun Prancis bisa diterima di masyarakat, dan anak-anak muda punya tempat untuk mengembangkan potensi kebahasaan mereka," ucap Ferry.

Ketika Sejarah Global Dirasakan di Tingkat Lokal

Antusiasme peserta terlihat dari respons pengunjung. Salah satunya, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Iscaily Rahma Putri Machdani, yang datang setelah mengetahui acara ini dari media sosial dan ajakan teman.

"Menarik di games dan quiz-nya, jadi tahu budaya Jerman dan Prancis. Seru karena ada reward juga," katanya.

Isca mengaku tak kapok mengikuti acara serupa di masa mendatang. Terlebih ia juga jatuh cinta dengan kudapan ringan khas Prancis dan Jerman yang juga hadir memeriahkan acara, seperti Flammkuchen, Hähnchenschnitzelbrötchen, dan Kartiffelsalat.

"Kalau ada acara seperti ini lagi pasti ingin ikut. Semoga lebih banyak yang tahu, jadi makin ramai dan bisa mempromosikan budaya Prancis dan Jerman di Indonesia dan tentu juga dinantikan menu kudapan lainnya," ujarnya.

Perayaan France German Friendship Day di Surabaya menjadi pengingat bahwa sejarah besar dunia tak selalu harus dirayakan secara formal dan kaku. Melalui budaya, permainan, dan interaksi langsung, kisah rekonsiliasi dua negara Eropa itu bisa hadir lebih dekat bahkan di sudut kota Surabaya. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow