Menelusuri Jejak Sejarah dan Keunikan Aksara Jawa, Hanacaraka dan Tanda Bacanya
Aksara Jawa, yang juga dikenal dengan nama Hanacaraka, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan budaya dan tradisi masyarakat Jawa
Suarajatimpost.com - Aksara Jawa, yang juga dikenal dengan nama Hanacaraka, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Sebagai sistem penulisan untuk bahasa Jawa, aksara ini telah digunakan sejak lama untuk menulis berbagai karya, termasuk cerita, primbon, dan naskah-naskah kuno lainnya. Tak hanya sebagai simbol bahasa, aksara Jawa juga dilengkapi dengan aturan tanda baca yang penting, serupa dengan penggunaan tanda baca dalam tulisan Latin.
Sejarah Aksara Jawa
Aksara Jawa berakar dari aksara Brahmi, salah satu aksara tertua dari India yang digunakan dalam naskah-naskah kuno Hindu, Jainisme, dan Buddha. Pada abad ke-6 hingga ke-8, aksara Brahmi mengalami perkembangan pesat di Asia Selatan dan Tenggara, yang kemudian melahirkan aksara Pallawa. Perkembangan selanjutnya menghasilkan aksara Kawi, yang digunakan di Indonesia, terutama pada masa kejayaan Hindu-Buddha antara abad ke-8 hingga ke-15.
Pada abad ke-17, aksara Jawa mulai digunakan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa, Makassar, Melayu, Bali, dan Sasak. Di masa ini, abjad ‘Hanacaraka’ mulai dikenal dan digunakan dalam penulisan berbagai naskah kuno. Aksara ini terus berkembang, dengan berbagai variasi muncul di daerah-daerah seperti Sunda dan Cirebon.
Seiring waktu, aksara Jawa mengalami perubahan, salah satunya adalah penyesuaian bentuk garis yang awalnya berada di bawah huruf menjadi di atasnya. Aksara ini pun terus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna. Pada tahun 1926, aksara Jawa distandarisasi dalam sebuah lokakarya di Surakarta yang dikenal dengan nama Wewaton Sriwedari. Kemudian, berbagai pedoman penulisan seperti "Panduan Panoelise Temboeng Djawa" pada tahun 1956 dan keputusan dari Kongres Bahasa Jawa sejak 1991 semakin menyempurnakan tata cara penulisan aksara ini.
Tanda Baca dalam Aksara Jawa
Seperti halnya tanda baca dalam aksara Latin, aksara Jawa juga memiliki tanda baca yang mempermudah penulisan dan pembacaan teks. Berikut adalah beberapa tanda baca dalam aksara Jawa beserta fungsinya:
- Adeg-adeg: Mengawali teks atau paragraf.
- Adeg: Tanda kutip.
- Peseleh: Tanda kutip dengan penekanan lebih.
- Lingsa: Tanda koma.
- Lungsi: Tanda titik.
- Pangkat: Menandakan angka.
- Guru: Mengawali surat tanpa membedakan umur atau derajat.
- Pancak: Mengakhiri surat.
- Luhur: Mengawali surat untuk orang yang lebih tua atau berderajat tinggi.
- Madya: Mengawali surat untuk orang sebaya.
- Andhap: Mengawali surat untuk orang lebih muda.
- Purwa: Mengawali sebuah tembang atau puisi.
- Madya: Memulai bait baru dalam puisi.
- Wasana: Mengakhiri puisi.
Struktur dan Elemen Aksara Jawa
Aksara Jawa memiliki berbagai elemen penting yang membedakannya dari sistem penulisan lain. Di antaranya adalah:
-
Aksara dan Pasangannya: Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf dasar dengan vokal akhiran "a". Untuk mematikan vokal tersebut, diperlukan pasangan huruf yang berjumlah 20. Pasangan ini diletakkan sesuai aturan khusus, seperti di bawah atau di sebelah kanan huruf tertentu.
-
Aksara Murda: Digunakan untuk menulis kalimat awal atau huruf kapital, serta untuk menyebutkan kota, gelar, atau lembaga tertentu. Aksara ini terdiri dari delapan huruf, seperti Na, Ka, dan Ta.
-
Aksara Rekan: Huruf-huruf yang dipinjam dari bahasa asing, seperti Arab atau Sansekerta. Aksara ini digunakan untuk menulis kata-kata asing, seperti kata “Amerika” yang dalam aksara Jawa ditulis “Hamerika”.
-
Sandhangan: Tanda yang ditempatkan di akhir huruf untuk mengubah bunyi. Beberapa jenis sandhangan termasuk:
- Swara: Mengubah bunyi vokal.
- Sigeg: Untuk mengakhiri vokal pada kata terakhir.
- Anuswara: Mengubah bunyi akhir konsonan.
- Pangkon: Mematikan vokal akhir.
Aksara Jawa dengan segala elemen dan aturannya menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya sistem penulisan ini. Hingga kini, aksara Jawa tetap dipelajari dan dilestarikan, bukan hanya sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga sebagai simbol identitas masyarakat Jawa. (**)
sumber: goodnewsfromindonesia.id
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

