Mbak Wali Buka International Symposium, Kolaborasi UN PGRI Kediri dengan Institusi Terkemuka Malaysia

simposium ini merupakan kolaborasi strategis antara Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan berbagai institusi terkemuka dari Malaysia, yakni CaSEH PERZIM, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Persatuan Warisan Kita (Melaka), Muzium Satera, dan INSWA.

05 May 2025 - 20:32
Mbak Wali Buka International Symposium, Kolaborasi UN PGRI Kediri dengan Institusi Terkemuka Malaysia
Wali Kota Kediri berikan sambutan dalam forum ilmiah internasional (ist/adv)

KOTA KEDIRI, SJP - Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati membuka kegiatan The 2nd International Symposium Internasional On Cross Cultural Heritage Indonesia-Malaysia, Senin (5/5/2025).

Kegiatan ini bertempat di Ruang Tegowangi Grand Surya Kediri, mengambil tema Historical Perspectives on the Relationship Between Javanese Civilization and the Malay Peninsula.

Simposium Internasional ini merupakan sebuah forum ilmiah berskala internasional yang secara khusus membahas berbagai aspek warisan budaya lintas negara antara Indonesia dan Malaysia.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, budayawan, dan pemangku kepentingan dari kedua negara untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkuat kerja sama dalam pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya yang saling terkait di antara kedua bangsa.

Di samping itu, simposium ini merupakan kolaborasi strategis antara Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan berbagai institusi terkemuka dari Malaysia, yakni CaSEH PERZIM, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Persatuan Warisan Kita (Melaka), Muzium Satera, dan INSWA.

“Selamat datang di Kota Kediri, kota dengan seribu warisan budaya kepada tamu dari Malaysia yang hadir. Saya merasa terhormat bisa menjadi tuan rumah. Semoga dengan adanya simposium ini tidak hanya memperkaya wawasan teknis tetapi juga memberikan kenangan terindah," kata Wali Kota Kediri. 

"Lalu semoga bisa betah di Kota Kediri dan bisa merasakan kerinduan mendalam saat berada di Malaysia. Sehingga ingin balik lagi ke Kota Kediri. Hal ini juga sesuai dengan visi misi Kota Kediri yakni Mapan (Maju, Agamis, Produktif, Aman, Ngangeni),” tambah Mbak Wali.

Pada kesempatan ini, Mbak Wali juga menekankan bahwa simposium ini bukan sekadar forum akademik, melainkan juga momentum untuk mempererat persaudaraan kultural antara Indonesia dan Malaysia.

Kedua negara ini memiliki akar sejarah yang sama, nilai budaya yang serupa, dan tantangan masa depan yang sejalan.

“Untuk itu, apresiasi dan terima kasih untuk Universitas Nusantara PGRI Kediri yang telah menjadi tuan rumah kegiatan ini, serta kepada Universiti Teknologi Malaysia dan Caseh Perzim Malaya atas kontribusi dan kolaborasi akademik yang memperkaya pemahaman kita tentang warisan sejarah bersama,” ujarnya.

Wali Kota Kediri menambahkan kerja sama seperti simposium ini adalah bukti komitmen semua pihak menjadikan Kota Kediri sebagai hub riset budaya internasional.

Melalui diskusi dan pertukaran ilmu hari ini, harapannya akan lahir gagasan-gagasan baru yang memperkaya identitas bangsa dan memperkuat kerja sama antarbangsa yang berkelanjutan.

“Dengan mengutip prinsip leluhur, ‘Memayu Hayuning Bawana’ (merawat keindahan dunia), mari kita terus bekerja sama melestarikan warisan budaya sebagai pondasi peradaban masa depan,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Kediri Zainal Afandi menuturkan simposium internasional ini merupakan bentuk komitmen Universitas Nusantara PGRI Kediri untuk terus berkontribusi bagi pembangunan masyarakat.

Kerjasama ini juga mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat hubungan bangsa serumpun dalam pengembangan bidang akademik, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Tema yang diusung pada kegiatan simposium internasional ini adalah Historical Perspectives on the Relationship Between Javanese Civilization and the Malay Peninsula. Dalam perspektif sejarah, hubungan antara peradaban Jawa dan Semenanjung Melayu merupakan interaksi yang telah terjalin sejak berabad-abad silam dan memainkan peran penting dalam pembentukan identitas budaya serta dinamika politik kawasan Asia Tenggara,” jelasnya.

Pada simposium internasional ini juga dilakukan penandatangan MoU dan MoA antara Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan Malaysia.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama dengan narasumber Alice Sabrina Ismail, Zainal Afandi, Tuan Rosli Bin Haji Nor, Wikan Sasmita, Komisariat IAI Wilayah Kediri, Ar Ahmad Najib bin Datuk Arifin, Yunita Dwi Pristiani, Amir Ahmad, Nara Setya Wiratama, Encik Izhar Hafni, serta Tutut Indah Sulistiyowati. (adv)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow