Masjid Nur Huda Blitar, Saksi Perjuangan Ulama Era Diponegoro

Masjid bersejarah yang berlokasi di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini diperkirakan berdiri sejak 1823. Masjid ini didirikan oleh Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur serta masih menyimpan peninggalan asli hingga kini.

19 Feb 2026 - 08:00
Masjid Nur Huda Blitar, Saksi Perjuangan Ulama Era Diponegoro
Masjid Nur Huda di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar yang berdiri sejak 1823 dan masih mempertahankan bangunan asli. (Foto: Beritasatu.com)

BLITAR, SJP– Sebuah masjid bersejarah di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, tetap berdiri kokoh dan berfungsi sebagai pusat peribadatan hingga saat ini.

Masjid Nur Huda tersebut tercatat sebagai salah satu rumah ibadah tertua di wilayah Blitar dengan usia yang diperkirakan telah mencapai dua abad.

Bangunan ini masih mempertahankan berbagai elemen autentik peninggalan masa lampau, mulai dari mimbar, ukiran kayu, hingga beduk.

Seluruh ornamen sejarah tersebut terjaga dengan baik tanpa mengalami perubahan signifikan pada bentuk aslinya.

Berdasarkan penelitian terhadap kualitas ukiran dan catatan sejarah, Masjid Nur Huda diestimasi berdiri pada tahun 1823.

Bangunan ini tercatat sempat menjalani renovasi pada 1880, namun setelah periode tersebut, tidak ada penambahan maupun perubahan struktural besar yang dilakukan.

Pengurus Masjid Nur Huda, Haikal Safari, menjelaskan bahwa rumah ibadah ini didirikan oleh dua ulama, yakni Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur, sekitar tahun 1823.

"Masjid ini didirikan oleh Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur. Estimasinya sekitar tahun 1823," ujar Haikal.

Ia menegaskan bahwa peninggalan berbahan kayu, terutama pada bagian mimbar dan ukiran, masih asli dan dirawat secara rutin.

Meski telah berusia ratusan tahun, aktivitas di masjid tetap berjalan normal guna melayani kebutuhan ibadah masyarakat setempat.

Menurut keterangan Haikal, Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur merupakan sosok ulama yang terlibat dalam perjuangan masa Pangeran Diponegoro.

Keduanya diyakini berperan secara gerilya melawan penjajahan sembari menyebarkan syiar Islam di wilayah Blitar.

Hingga kini, Masjid Nur Huda tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi bukti sejarah perjuangan ulama Blitar sejak abad ke-19.

"Kegiatan ibadah masih berjalan seperti biasa. Pada bulan Ramadan ini, kami juga menyelenggarakan pesantren kilat yang diikuti oleh para santri," kata Haikal.

Sumber: Beritasatu.com

Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow