Kyai Iro Gati, Prajurit Mataram dari Nganjuk yang Berjuang di Perang Jawa

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga semangat nasionalisme dan cinta tanah air, terutama dalam menghadapi pengaruh kolonial Belanda (VOC) di Jawa Timur.

09 Nov 2025 - 10:34
Kyai Iro Gati, Prajurit Mataram dari Nganjuk yang Berjuang di Perang Jawa
Makam Kyai Iro Gati di makam umum Desa Klodan Kecamatan Ngetos (foto : kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Sejarah Kabupaten Nganjuk memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Mataram, baik pada masa Mataram Kuno era Mpu Sindok maupun Mataram Islam. Wilayah ini dahulu dikenal dengan nama “Anjuk Ladang” atau Tanah Kemenangan, sebuah sebutan yang diberikan oleh Raja Mpu Sindok dari Mataram Kuno sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat Nganjuk yang membantu Mataram dalam peperangan melawan Sriwijaya sekitar abad ke-10 Masehi.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah perjuangan masyarakat Nganjuk adalah Kyai Iro Gati, seorang prajurit Mataram yang kemudian mengabdikan dirinya untuk rakyat. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air, terutama ketika menghadapi tekanan dan pengaruh kolonial Belanda (VOC) di Jawa Timur.

Kyai Iro Gati berasal dari daerah Arang, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh sesepuh di Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Dalam perjuangannya, ia bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung antara tahun 1826 hingga 1828.

Tepat pada tahun 1826, Kyai Iro Gati bergabung dengan pasukan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrodilogo, Adipati Rajegwesi. Ia turut berjuang di wilayah Kadipaten Kertosono, Nganjuk, hingga Berbek, bersama sejumlah pejuang lain seperti Kyai Abdul Hamit, Iro Ito, Iro Nadi, Iro Guna, dan Iro Kuoso. Di wilayah Berbek, khususnya di kawasan Gunung Wilis, Kyai Iro Gati berperan penting sebagai telik sandi atau mata-mata bagi pasukan Pangeran Diponegoro.

Menurut pemerhati sejarah Aris Trio Effendi, yang akrab disapa Mas Aris, perjuangan Kyai Iro Gati merupakan bagian dari semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.

“Kyai Iro Hati tidak hanya piawai dalam strategi perang, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memotivasi pasukannya. Warisan nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Kyai Iro Hati — semangat gotong royong, keadilan, dan cinta tanah air — terus diwariskan kepada generasi muda, khususnya di Nganjuk,” kata Aris kepada Suarajatimpost, Minggu (2/11/2025).

Setelah perjuangan usai, Kyai Iro Gati menetap di Desa Klodan hingga akhir hayatnya. Makamnya kini berada di pemakaman umum Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, dan masih sering diziarahi oleh masyarakat yang ingin mengenang jasa-jasanya.

Kyai Iro Gati menjadi contoh nyata seorang pejuang yang tidak hanya mengangkat senjata melawan penjajahan, tetapi juga mengabdikan diri bagi kesejahteraan masyarakat. Semangat juangnya tetap hidup sebagai pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air bagi generasi penerus di Nganjuk dan sekitarnya.(*) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow