Kumbakarna, Raksasa Berjiwa Patriot

31 Oct 2023 - 19:45
Kumbakarna, Raksasa Berjiwa Patriot

"Indrajit. Bangunkan pamanmu!". "Tarik wulu cumbu. Bulu rambut di jempol kaki kirinya. Dia akan terbangun!" pinta Rahwana kepada Indrajit,anaknya yang kebingungan membangunkan pamannya.

Kumbarkarna terbangun. "Kumba, waktumu perang!" Rahwana mengingatkan adiknya.

Seolah tak mendengar perintah kakaknya, Kumbakarna bergegas tidur lagi. Kumbakarna! Keparat!
Murka Rahwana tak juga meluluhkan hatinya.

"Camkan Kumba!". "Bertahun-tahun engkau kuberi makan. Pekerjaanmu hanya tidur... Tidur di sepanjang waktu. Buka matamu! Sekarang atau tidak sama sekali"

"Pamanmu, Prahasta sudah mati di medan laga". "Oleh sebab bertapamu, kedua anakmu juga rela mati menggantikan bapaknya yang hanya tidur!".

"Kamu memberati tidur, Kumba" Sumpah serapah Rahwana kepada adiknya.

Percakapan terhenti.

"Duh. Aswani pejah Dewaji !"
"Iya. Kumba-Kumba ya mati. Kabeh bela pati kanggo aku. Ya Alengka. Apakah kamu tetap mau tidur?"

Gunawan Wibisana 

Tercekat Kumbakarna. Bergegas kemas.

"Aku berangkat perang sekarang. Bukan membela angkaramurkamu Rahwana. Aku membela negaraku! "
Meluap amarahnya.

Kemarahan itu telah mengakibatkan seluruh makanan semburat keluar dari mulutku.

"Aku berangkat. Pangestumu Dewaji "
"Iya!"

Hanya dengan satu dua ayunan tangan berpuluh, bahkan beratus pasukan Kerajaan Ayodya digulung Kumbakarna.

Terhenti langkah Kumba. Di hadapannya berdiri kokoh Gunawan Wibisana, adiknya.

"Duh jagad dewa batara. Kenapa aku harus melalui semua ini. Bunuhlah aku Wibisana. Aku rela mati sekarang. Aku hanya membela negaraku. Membela tanah kelahiranku. "

"Aku tidak membela kakakmu, Dasamuka!" tegas Kumbakarna.

"Sekaranglah saatnya Kanda. Ayolah berperanglah melawanku sebagai ksatria," sergah Wibisana.
Tidak! Tidak, Wibisana!

Jika engkau dan Ramawijaya ingin membunuhku, bunuhlah. Perlakukanlah aku sebagai ksatria di medan perang.

"Aku tidak akan lari,Wibisana." tegas Kumbakarna kepada adiknya.

Gunawan Wibisana ciut nyali. Berlari ia menyampaikan kepada Ramawijaya musuh utama kakaknya. Rahwana.

Dari awal sebenarnya Kumba enggan berangkat perang. Ia telah berbulan, bahkan bertahun bertapa tidur. Setelah bertengkar dengan Rahwana kakaknya, ia memilih menghindari konflik.

Dititipkan kedua anak dari perkawinannya dengan Dewi Aswani kepada kelima anak buahnya.

Kumba tahu. Bertengkar dengan kakak tertuanya tak punya nyali. Desakan demi desakan agar Rahwana mengembalikan Sinta ke Ayodya tak membuahkan hasil.

"Dewaji, kembalikanlah Sinta kepada Ramawijaya," pinta Kumba.

"Letakkanlah otakmu pada tempatnya, Kumba."

"Sinta itu aku muliakan. Ia putri Prabu Janaka, Keraton Mantili. Aku buatkan Taman Argaloka,"

Itu lebih mulia untuk Sinta.

Tapi, kata Rahwana keras, Ramawijaya tidak becus mengurus. Hanya diajak hidup mengembara di hutan.

Lima Mata Panah 

Ia terhenti. Di hadapannya berdiri Ramawijaya dengan jemparing di tangannya. 

Murka Kumba tak tertahankan.

"Keparat Ramawijaya. Engkau hancurkan negaraku!"

Tetapi, Rama lebih sigap menghentikan kridaning Kumba.

Satu demi satu dari lima anak panah Ramawijaya atau Lesmana Widagdo merobek seluruh tubuh Kumba. 

Panah pertama merobek nafsu lauwwamah (biologis), kedua merobek nafsu supiah (duniawi), ketiga merobek nafsu amarah (emosional), dan keempat merobek nafsu mutmainah (spiritual). Dan, anak panah kelima menyempurnakan jiwa Kumba setelah kematian fisiknya.

Kumba anak kedua dari Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi menjalani kehidupan dengan hampir seluruhnya penuh tragisme. Lahir dengan bentuk raksasa dengan hati manusia. 

Kakaknya hidup dalam kerakusan, adiknya melakukan pengkhianatan atas nama membela kebenarannya sendiri. 

Wibisana memilih membela Ramawijaya. Menjual seluruh kelemahan yang ada pada diri saudaranya yang lain. 

Membela Rahwana, mengingkari nurani. Tetapi berlaku seperti adiknya, juga tak sampai hati. Ternyata penghindarannya dengan tidur juga tak menyelesaikan gelisah hatinya.

Prahasto, patih Alengka yang juga pamannya telah tewas dalam peperangan. Dua anaknya, Aswani Kumba dan Kumba-Kumba mengalami nahas yang sama. Keduanya merelakan diri maju perang. Menggantikan bapaknya 

Perang Nonfisik 

Perang antara Ayodya dengan Alengka sesungguhnya merupakan gambaran dari peperangan non fisik. Ia lebih merupakan perang antara nafsu-nafsu manusia, lauwamah (biologis), sufiah (duniawi), amarah, dan mutmainah. 

Keempat sifat melekat, dan hanya manusia yang berkesadaran mampu mengendalikan keempatnya. 

Mereka yang tidak bisa menguasai dengan kesadaran maka ia akan hidup dengan kesengsaran.

Ramawijaya sekalipun telah dikuasai nafsu cintanya sehingga kehilangan sifat mutmainahnya dengan perasaan cemburu dan ketidakpercayaan. Ia membiarkan Sinta membuktikan sumpahnya.

"Jika tubuhku kotor karena Dasamuka, maka bumi tak akan menerimaku. Sebaliknya, jika tubuhku bersih, maka bumi akan menerimaku!"

Sesaat kemudian, bumi membelah. Menganga. Menelan seluruh tubuh Sinta. Dan, tak pernah kembali.

Kumbakarna dengan kelebihan dan kelemahan sebagai manusia dihormati sebagai prajurit sejati. Seperti ditulis dalam Serat Tripama, KGPAA Mangkunagara IV menuliskan,

Wonten malih tuladan prayogi, Satriya gung nagari Ngalengka Sang Kumbakarna namane ,
Tur iku warna diyu, Suprandene nggayuh utami, Duk awit prang Ngalengka, Dennya darbe atur 
Mring raka amrih raharja, Dasamuka tan keguh ing atur yekti, De mung mungsuh wanara.

(Ada lagi teladan baik, Satria agung negeri Ngalengka, sang Kumbakarna namanya, padahal (ia) bersifat raksasa, meskipun demikian (ia) berusaha meraih keutamaan, sejak perang Ngalengka (melawan Sri Ramawijaya), ia mengajukan pendapat, kepada kakandanya agar selamat, tetapi Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapat baik, karena hanya melawan barisan kera).

Kumbakarna kinen mangsah jurit, mring kang rak sira tan lenggana, nglungguhi kasatriyane, ing tekad datan purun, amung cipta labuh nagari, lan nolih yayahrena, myang luluhuripun, wus mukti aneng Ngalengka, mangke arsa rinusak ing bala kali, punagi mati ngrana.

(Kumbakaran diperintah maju perang, oleh kakandanya ia tidak menolak, menepati (hakikat) kesatriaannya,
(sebenarnya) dalam tekadnya (ia) tak mau, (kecuali) melulu membela negara, dan mengangkat harkat orang tua, telah hidup nikmat di negeri Ngalengka, (yang) sekarang akan dirusak oleh barisan kera,
(Kumbakarna) bersumpah mati dalam perang. (**)

Oleh: Hendro Basuki Wartawan senior yang saat ini tinggal di Semarang

Disclaimer : Segala isi di rubrik OPINI, baik berupa teks, foto, maupun gambar merupakan pendapat pribadi penulis dan segala konsekuensi bukan menjadi tanggung jawab redaksi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow