Kisah Pekerja Sosial di Bondowoso, Rogoh Kocek Kantong Pribadi demi Rawat ODGJ
Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan ODGJ yang dirawatnya itu, Andry harus rela merogoh kocek dari kantong pribadinya, tanpa bantuan dari pemerintah
BONDOWOSO, SJP - Menghadapi serta merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dibutuhkan orang yang bisa memanusiakan manusia.
Selain itu, juga dituntut memiliki ketulusan, kesabaran serta keterampilan dalam menangani mereka yang menderita gangguan jiwa. Keberanian pun, menjadi syarat mutlak untuk menangani seorang ODGJ.
Keberadaan ODGJ di jalanan, kerap kali membuat sebagian orang risih, terganggu hingga ketakutan karena tampilan mereka yang lusuh, kotor bahkan terlihat galak.
Tak sedikit orang yang memperlakukan sang penderita gangguan jiwa tersebut dengan cara kasar, semena-mena hingga tak berperi kemanusiaan.
Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Pekerja Sosial Ahli Muda, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Bondowoso, Kusuma Nofiandry.
Baginya, penderita gangguan jiwa sama-sama insan yang harus diperlakukan dengan baik, mereka hanya tidak beruntung seperti manusia lainnya. Karena kondisinya itu, mereka tersisihkan dan terpisah dengan keluarganya.
Hal tersebut yang membuat hatinya tergerak ingin membantu sesama yang kurang beruntung ini. Bahkan, saat ini dirinya merawat seorang ODGJ yang bernama Mulyadi dan diajak tinggal dirumahnya sekadar untuk merawat serta mengobatinya.
"Kebetulan di rumah ada 1 kamar kosong yang bisa ditempati oleh Mulyadi," ungkap Andry, Ahad (15/12/2024).
Menurut pria berumur 49 tahun ini, dirinya merawat Mulyadi di rumahnya sudah sekira 1 tahun lamanya. Tanpa pamrih, dirinya mengurus segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh Mulyadi, seorang pria yang mengalami gangguan jiwa.
Mulai kebutuhan pakaian hingga makan untuk sang ODGJ yang tinggal di rumahnya itu, pekerja sosial berjenggot putih ini rela merogoh kocek dari kantong pribadinya. Bukan karena kaya, namun karena dia merasa iba akan kondisi Mulyadi dan ingin melihat sang penderita gangguan jiwa itu sembuh serta normal kembali seperti layaknya manusia lainnya.
"Tidak ada bantuan dari siapa-siapa. Bukan dari Dinas Sosial ataupun dari donatur, ini memang jujur dari kantong pribadi saya mas," jelas Andry, sapaan akrabnya.
Demi kemanusiaan, perlakuannya kepada Mulyadi layaknya kepada saudara sendiri. Menjadi kepuasan tersendiri baginya bisa melayani orang yang memang membutuhkan bantuannya.
Andry menceritakan awal mula pertemuannya dengan ODGJ yang tidak memiliki siapa-siapa yang tinggal di rumah kosong milik pamannya. Saat itu, Mulyadi mendapatkan makan karena dibantu oleh para tetangganya.
Beruntungnya, Mulyadi tidak seperti penderita gangguan jiwa lainnya yang suka mengamuk ketika bertemu dengan orang baru.
"Kita memang perlu sedikit menggunakan penekanan saat menghadapi seorang ODGJ. Tapi tidak menggunakan kekerasan, hanya perlu pendekatan secara emosinal saja," paparnya lagi.
Kekerasan kepada ODGJ, dikatakan Andry, perlu dilakukan kepada penderita gangguan jiwa yang anarkis, tapi tidak untuk melukai.
"Hanya sesekali, itu dilakukan agar sang ODGJ patuh kepada kita saja. Setelah patuh dengan perintah dan ucapan kita, selanjutnya tidak perlu menggunakan kekerasan lagi," jelasnya.
Setelah setahun lamanya Mulyadi tinggal dan dirawat serta didampingi agar rutin mengonsumsi obat yang didapatkan dari poli jiwa di rumah sakit oleh Andry, lambat laun, kondisi sang ODGJ itupun membaik. Bahkan, Mulyadi saat ini sudah mulai bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri.
"Saya titipkan kepada teman yang memiliki usaha budidaya jamur tiram. Mulyadi sudah bekerja disana, dengan penghasilan sebesar Rp 30 ribu per harinya," jelasnya dengan bangga.
Setelah keberhasilannya merawat ODGJ yang bernama Mulyadi tersebut, ada keinginan mulia dari sang pawang ODGJ ini untuk mengusahakan sebuah shelter bagi para penderita gangguan jiwa pasca mereka direhabilitasi medik di rumah sakit.
Bukan tanpa alasan, Andry melihat di Kabupaten Bondowoso ini masih banyak ODGJ yang hidupnya sendirian dan tak memiliki keluarga yang merawat apalagi mengobatinya.
Bahkan, pria ini sudah mendesain gambar atau denah sebuah shelter yang menjadi keinginannya itu. Bahkan, dia juga menghitung jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menangani ODGJ yang nantinya akan dirawat di shelter tersebut.
"Saya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso bisa memfasilitasi adanya shelter bagi ODGJ pasca direhabilitasi medik di rumah sakit. Mungkin dengan cara begitu, kasus ODGJ yang membahayakan orang lain tidak terjadi lagi," pungkasnya dengan penuh harap. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

