Krisis Regenerasi Ancam Keberlangsungan Lima Seni Tradisi Kota Batu

Tanpa keterlibatan aktif generasi muda dalam jangka panjang, ancaman kekosongan pelaku tetap menjadi tantangan terbesar bagi keberlangsungan seni tradisi di Kota Batu.

25 Feb 2026 - 17:32
Krisis Regenerasi Ancam Keberlangsungan Lima Seni Tradisi Kota Batu
Kadisparta Kota Batu Onny Ardianto (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Persoalan utama yang membayangi lima kesenian tradisional di Kota Batu bukan semata minimnya panggung, melainkan krisis regenerasi pelaku seni. Wayang Orang, Ludruk, Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo kini menghadapi penyusutan jumlah pemain aktif, sementara generasi penerus belum tumbuh signifikan.

Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto pada Rabu (25/2/2026) mencatat banyak seniman lama telah memasuki usia tidak produktif. Kondisi ini membuat sejumlah kelompok kesulitan mempertahankan aktivitas rutin, bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan pemain dalam satu pementasan.

"Kondisi paling memprihatinkan terjadi pada Wayang Orang. Saat ini hanya tersisa satu kelompok, yakni Sasono Kridho Budoyo di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Namun kelompok tersebut dalam keadaan pasif karena kekurangan pemain. Banyak anggota sudah berkeluarga dan belum ada penerus. Regenerasinya sangat minim,” ujarnya.

Keterbatasan jumlah pemain membuat kelompok tersebut belum mampu tampil meski sempat ditawari pentas dalam agenda rutin Padang Bulan di kawasan Arjuna Wiwaha. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan bukan pada ruang tampil, tetapi pada ketersediaan SDM.

Ludruk juga menghadapi persoalan serupa. Meski masih bertahan melalui satu kelompok, jumlah pelaku terbatas membuat keberlanjutan kesenian ini sangat bergantung pada segelintir anggota yang relatif muda. Tanpa penambahan pemain baru, eksistensinya tetap rawan.

Sementara itu, Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo sempat berada pada fase hampir tidak dikenal publik, salah satunya akibat minimnya pelaku aktif. Pelatihan yang digelar tahun lalu mulai menunjukkan hasil, seperti Tari Sembromo yang mampu tampil kolosal dengan sekitar 50 penari. Namun capaian itu masih membutuhkan kesinambungan agar tidak kembali redup.

"Rendahnya minat generasi muda menjadi faktor dominan tersendatnya kaderisasi. Perkembangan teknologi dan pergeseran selera hiburan membuat seni tradisi kurang diminati sebagai ruang ekspresi," imbuhnya.

Oleh sebab itu Disparta kini berupaya memperkuat regenerasi melalui pelatihan rutin, pendampingan sanggar, serta perluasan kegiatan ekstrakurikuler seni tradisi di sekolah. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow