Kontroversi Abidzar Al Ghifari dan Fenomena Cancel Culture di Industri Hiburan
"Cancel culture" menghantam Abidzar Al Ghifari, satu pernyataan soal peran di film 'A Business Proposal' memicu boikot hingga merontokkan rating film.
SURABAYA, SJP - Beberapa waktu yang lalu, industri hiburan Indonesia tengah dihebohkan dengan kontroversi yang melibatkan Abidzar Al Ghifari, aktor utama dalam film A Business Proposal versi Indonesia.
Kontroversi ini bermula dari pernyataannya dalam sesi promosi film, di mana ia mengaku tidak menonton versi asli drama Korea maupun membaca Webtoon yang menjadi dasar adaptasi film tersebut. Menurutnya, keputusan itu diambil agar ia bisa menciptakan karakternya sendiri tanpa terpengaruh versi aslinya.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi negatif dari netizen, terutama penggemar drama Korea yang menganggapnya kurang menghargai sumber asli. Akibatnya, muncul seruan boikot yang berdampak pada performa film di pasaran.
Rating film di IMDb merosot drastis hingga 1/10, dan beberapa bioskop bahkan menarik penayangannya lebih awal karena minimnya jumlah penonton.
Cancel Culture dan Dampaknya pada Industri Film
Meilinda, dosen English for Creative Industry Petra Christian University (PCU), menyoroti fenomena cancel culture yang terjadi dalam kasus ini. Ia menjelaskan bahwa cancel culture adalah sebuah budaya di mana figur publik yang dianggap melakukan kesalahan akan dihapus dari posisi yang semestinya mereka miliki.
“Cancel culture adalah budaya pengenyahan. Jadi si aktor ini dienyahkan dari posisi yang semestinya dia miliki karena kata dan sikapnya. Targetnya memang menyingkirkan orang itu dari pekerjaan atau kesejahteraannya,” ujar Meilinda, Sabtu (22/2/2025).
Ia menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan, tetapi juga mempengaruhi keseluruhan tim produksi.
Dalam kasus A Business Proposal, reaksi publik terhadap Abidzar membuat film tersebut sulit berkembang di pasaran, meskipun ada banyak pihak lain yang bekerja keras dalam produksinya.
Tanggung Jawab Figur Publik dalam Industri Hiburan
Sebagai seorang aktor, menurut Meilinda, Abidzar seharusnya memahami bahwa setiap perkataan dan tindakannya akan menjadi sorotan publik.
Hal ini membuat seorang figur publik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga citra dan ucapannya agar tidak menimbulkan kontroversi yang merugikan.
“Karena apa yang ia lakukan akan disorot, diperbincangkan, dan dijadikan dasar penilaian karakter pribadinya," jelas Meilinda.
"Dalam konteks ini, pernyataan sang aktor dianggap arogan, sesuatu yang kurang dapat diterima dalam budaya Indonesia, di mana figur publik diharapkan bersikap rendah hati agar tetap diterima masyarakat,” imbuhnya.
Strategi Adaptasi: Menghormati atau Mengubah?
Pernyataan Abidzar yang menolak merujuk pada versi asli A Business Proposal juga memicu perdebatan tentang bagaimana strategi terbaik dalam melakukan adaptasi.
Meilinda menilai bahwa dalam sebuah produksi adaptasi, pemahaman terhadap sumber asli sangatlah penting untuk menjaga kesinambungan cerita.
“Jika sutradara ingin membuat adaptasi yang masih berpegang pada versi asal, maka aktornya perlu mempelajari dan mendiskusikan karya asli," tututnya.
"Diskusi dengan sutradara sangat penting untuk menentukan elemen mana yang harus dipertahankan, diubah, atau ditekankan, agar adaptasi tetap relevan dan terjaga kesinambungannya dengan karya asli,” lanjut Meilinda.
Namun, ia juga menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, interpretasi baru bisa menjadi pendekatan yang sah, selama tetap memperhatikan kesesuaian dengan visi produksi.
Pemilihan Aktor dan Pengaruhnya terhadap Film
Menurut Meilinda, kesuksesan sebuah film tidak hanya ditentukan oleh skenario atau penyutradaraan, tetapi juga oleh pemilihan aktor yang tepat. Seorang aktor harus mampu membangun keterikatan emosional dengan penonton agar cerita yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
“Aktor memegang peran krusial dalam sebuah film, karena mereka adalah wajah dan jiwa dari cerita yang disampaikan. Ia harus mampu menghidupkan karakter lewat ekspresi, emosi, dan gestur yang tepat, agar penonton dapat memahami perjalanan emosional karakter dengan baik,” ujarnya.
Selain itu, citra publik seorang aktor juga memengaruhi penerimaan film di masyarakat. Meilinda menekankan bahwa aktor yang terlibat dalam kontroversi atau memiliki reputasi buruk berisiko menurunkan minat penonton terhadap film yang dibintanginya.
“Dalam beberapa kasus, fenomena cancel culture, kontroversi atau reputasi buruk seorang aktor dapat berdampak negatif pada penerimaan film itu di masyarakat. Hal ini menjadi pertimbangan tambahan bagi produser dalam memilih pemeran yang tidak hanya berbakat, tapi juga punya citra yang baik,” tambahnya.
Efek Jangka Panjang Cancel Culture
Selain berdampak pada film tertentu, cancel culture juga bisa mempengaruhi ekosistem industri hiburan secara lebih luas. Meilinda menilai bahwa budaya ini menciptakan kondisi di mana ruang untuk klarifikasi atau diskusi menjadi terbatas, karena opini publik berkembang begitu cepat di media sosial.
“Cancel culture menciptakan kondisi di mana ruang untuk klarifikasi atau diskusi menjadi hilang. Jika terus berlanjut, fenomena itu bisa membentuk sebuah ekosistem digital di mana masyarakat semakin enggan mendengar perspektif lain," ungkap Meilinda.
"Segala bentuk pandangan, nilai, atau ideologi yang bertentangan dengan keyakinan individu/kelompok tertentu, berpotensi untuk dienyahkan secara cepat, tanpa ada upaya memahami atau mencari titik tengah di dalam perbedaan tersebut,” imbuhnya.
Pelajaran bagi Industri Hiburan
Kontroversi yang melibatkan Abidzar Al Ghifari menjadi pengingat bagi para aktor dan produser di industri hiburan bahwa citra publik sangat berpengaruh terhadap kesuksesan sebuah karya.
Meilinda menekankan bahwa di era digital saat ini, opini publik dapat berubah dengan sangat cepat, dan hal tersebut harus disikapi dengan bijak.
“Fenomena ini menjadi peringatan bagi para aktor dan produser untuk lebih bijak dalam menjaga citra pribadi mereka, tak hanya di dunia nyata, tapi juga dalam dunia maya. Karena opini publik bisa datang dengan sangat cepat, dan mempengaruhi citra individu serta kesuksesan sebuah karya,” pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

