Komunitas Ilustrasi Idiom Kembali Gelar Pameran ART's SOB, Soroti Isu Dualisme Lembaga DKS

Di tengah Ramadan, pameran ART’s SOB kembali digelar oleh perupa Surabaya. Di balik kanvas dan silaturahmi seniman, muncul kegelisahan baru: wacana “DKS baru” yang berpotensi menduakan rumah lama mereka.

07 Mar 2026 - 20:59
Komunitas Ilustrasi Idiom Kembali Gelar Pameran ART's SOB, Soroti Isu Dualisme Lembaga DKS
(Kiri) Ketua DKS, Crisman Hadi berikan apresiasi terhadap karya yang ditampilkan dalam pameran ART's SOB di Galeri DKS (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP – Pameran seni lukis ART’s SOB (Art’s Suroboyo) kembali hadir di bulan Ramadhan 2026. Sebagai gelaran kedua, pameran tersebut masih membawa semangat yang sama, yakni menjadi wadah representasi dan silaturahmi antar seniman lokal.

Namun kali ini, ART’s SOB tidak hanya menjadi ruang temu karya dan perupa Surabaya. Di balik kanvas dan warna yang hiasi Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), pameran itu juga mengangkat isu baru yang tengah menjadi kegelisahan di kalangan seniman Kota Pahlawan, yakni munculnya potensi dualisme lembaga kesenian di Surabaya.

Nama DKS yang sudah dikenal menjadi singkatan dari Dewan Kesenian Surabaya, berpotensi menjadi sedikit rancu akibat munculnya wacana pembentukan lembaga kesenian baru oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan nama Dewan Kebudayaan Surabaya yang juga memiliki singkatan DKS.

Sejarah Panjang Dewan Kesenian Surabaya

Dewan Kesenian Surabaya (DKS) selama puluhan tahun dikenal sebagai wadah bagi para seniman lintas disiplin di Kota Pahlawan. Lembaga tersebut menjadi ruang berkumpulnya pelaku seni rupa, sastra, musik, teater hingga berbagai komunitas seni lainnya.

Dalam perkembangannya, DKS juga kerap menjadi wadah berlangsungnya berbagai kegiatan kesenian melalui Galeri DKS yang terletak di Kompleks Balai Pemuda, Kota Surabaya, mulai dari pameran, pertunjukan, diskusi hingga lokakarya yang melibatkan banyak seniman lokal

Keberadaan lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang berkesenian, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan para seniman Surabaya yang selama ini dikenal memiliki tradisi seni yang kuat.

Namun perjalanan panjang DKS tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara komunitas seniman dengan pemerintah daerah sempat diwarnai dinamika terkait pengelolaan lembaga kesenian tersebut.

Perbedaan pandangan mengenai struktur organisasi, pengakuan kelembagaan hingga dukungan terhadap kegiatan kesenian sempat menimbulkan perdebatan di kalangan pelaku seni dan pemangku kebijakan, khususnya pemerintah kota.

Polemik tidak muncul tiba-tiba. Konfliknya berakar dari ketegangan lama antara DKS dan Pemerintah Kota Surabaya. Salah satu pemicu utamanya adalah ketika Pemkot tidak mengakui kepengurusan DKS hasil musyawarah 2019 yang kembali memilih Crisman Hadi sebagai ketua.

Pemkot Surabaya menilai musyawarah tersebut tidak melibatkan unsur organisasi DKS secara lengkap, seperti anggota pleno dan ex-officio, yang seharusnya ikut dalam proses pengambilan keputusan organisasi. Perbedaan pandangan itu membuat hubungan antara pemerintah dan DKS menjadi renggang.

Kemunculan DKKS, Awal Mula Dualisme Lembaga

Di tengah situasi yang memanas, Pemkot Surabaya kemudian menerbitkan SK untuk membentuk Dewan Kesenian Kota Surabaya (DKKS) di tahun 2022. Langkah itu dianggap banyak seniman sebagai pembentukan “dewan kesenian versi baru” yang berpotensi menimbulkan dualisme lembaga kesenian di kota yang sama.

Polemik tersebut sempat memanas, bahkan Wakil Ketua DPRD Surabaya saat itu, A Hermas Thony, menyayangkan langkah tersebut karena dinilai bisa menghambat pemajuan kesenian di Surabaya dan berpotensi hanya menimbulkan konflik.

Dalih Pemkot Surabaya kala itu membentuk lembaga baru adalah sebagai upaya mencari format kelembagaan yang dianggap lebih sesuai. Kendati demikian, akhirnya DKKS tidak berjalan atau “gagal berfungsi”, karena lembaga itu tidak pernah benar-benar beroperasi.

Pada tahun 2026 ini, situasi yang serupa seakan datang kembali. Muncul wacana pembentukan lembaga kesenian baru bernama Dewan Kebudayaan Surabaya oleh Pemkot Surabaya, yang mana wacana tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran di tengah kalangan seniman Surabaya.

Inisiatif tersebut datang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, diketahui Pemkot sedang menggodok pembentukan dewan ini berdasarkan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Meski pemkot masih menggunakan dalih yang sama, sebagian seniman merasa kehadiran lembaga baru tersebut berpotensi menimbulkan masalah yang dilu sempat berhasil diredam, yakni dualisme kelembagaan dengan Dewan Kesenian Surabaya yang sudah lebih dahulu ada.

Kondisi itulah yang secara tidak langsung menjadi latar belakang munculnya berbagai refleksi dari para perupa dalam pameran ART’s SOB kali ini.

Ruang Silaturahmi dan Aspirasi Perupa Surabaya

Pameran ART’s SOB yang digagas oleh komunitas pelaku seni Ilustrasi Idiom kembali hadir dengan menggandeng mayoritas perupa asal Surabaya dari total 34 seniman dalam satu ruang pamer dengan sebagian lainnya berasal dari Mojokerto, Sidoarjo hingga Kediri.

Ketua pelaksana pameran, Wahyu Wahina, menjelaskan bahwa semangat utama pameran kali ini tetap sama seperti gelaran Art's Sob sebelumnya, yakni memperkuat kebersamaan para seniman Surabaya, sekaligus sebagai kritik ARTSUB sebelumnya yang minim representasi seniman lokal.

“Artis perupanya yang ikut hampir 96 persen pelukis asal Surabaya, selebihnya dari Mojokerto, Sidoarjo bahkan Kediri,” ujar Wahyu, Sabtu (7/3/2026).

Ia menambahkan, setelah sebelumnya digelar di awal tahun, penyelenggaraan kedua pameran Art's Sob pada bulan Ramadan juga dimaksudkan sebagai bentuk refleksi spiritual sekaligus ruang ekspresi bagi para perupa.

“Pameran ini digelar sebagai bentuk ikhtiar dan ibadah di bulan suci Ramadan 2026,” katanya.

Selama pameran berlangsung, berbagai agenda turut digelar, seperti workshop seni lukis bersama siswa SMK 12 Surabaya dengan narasumber dua seniman, Webeech dan Donacoss. Pada hari terakhir, kegiatan akan ditutup dengan sarasehan seni lukis yang menjadi ruang diskusi bagi para pelaku seni.

Pesan Seniman Soal Isu Dualisme DKS

Pembukaan pameran ART’s SOB dilakukan oleh Crisman Hadi, yang dikenal sebagai Ketua Dewan Kesenian Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pesan kepada para seniman agar tetap menjaga konsistensi keberadaan lembaga kesenian yang sudah lama menjadi wadah bagi pelaku seni di Surabaya.

“Kita harus tetap konsisten menjaga nama baik DKS sebagai Dewan Kesenian Surabaya, bukan Dewan Kebudayaan Surabaya,” ujar Crisman.

Menurutnya, keberadaan ruang kesenian seperti DKS harus terus dihidupkan secara konsisten pula oleh para seniman melalui beragam kegiatan berkesenian dan karya yang berkelanjutan.

Sementara itu, Roman Chuza, Ketua Umum komunitas pelaku seni Ilustrasi Idiom yang memprakarsai pameran ART's SOB, juga mengajak para seniman untuk tetap solid dan saling mendukung dalam berkesenian.

“Para seniman yang benar-benar peduli seni harus tetap saling support dan konsisten berkesenian,” kata Roman.

Ia juga menyampaikan pesan moral agar para perupa tetap aktif berkarya dan berpameran di ruang kesenian yang telah lama menjadi rumah bagi para seniman Surabaya.

“Kita tetap berkarya dan berpameran di galeri Dewan Kesenian Surabaya, menjaga kebersamaan dalam rasa kekeluargaan,” ujarnya.

Melalui pameran ART’s SOB kedua itu, para perupa tidak hanya memamerkan karya seni lukis, tetapi juga menyampaikan refleksi tentang pentingnya menjaga solidaritas komunitas seni di tengah dinamika kelembagaan kesenian di Surabaya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow