Komnas PA Surabaya Minta Larangan Roblox Disertai Edukasi dan Alternatif Gim Aman

Gim Roblox yang bersifat terbuka membuat siapa pun bisa membuat konten tanpa proses kurasi ketat. Moderasi cenderung reaktif, baru menghapus konten setelah ada laporan bukan sebaliknya. Hal tersebut memberi celah munculnya mini game dengan unsur kekerasan ekstrem atau interaksi yang tidak aman.

12 Aug 2025 - 20:30
Komnas PA Surabaya Minta Larangan Roblox Disertai Edukasi dan Alternatif Gim Aman
Ketua Komnas PA Surabaya Syaiful Bachri (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Larangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti agar anak-anak tidak bermain gim Roblox memicu diskusi luas di kalangan orang tua. 

Langkah tersebut diambil setelah gim yang populer di seluruh kalangan, bahkan dari anak-anak hingga orang dewasa itu disebut mengandung konten kekerasan yang tidak pantas untuk anak.

Namun, jauh sebelum larangan itu diumumkan, Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Surabaya sudah mewanti-wanti potensi bahaya Roblox dan gim daring serupa. 

Sejak awal 2025, Komnas PA Surabaya sudah gencar melakukan sosialisasi kepada siswa dan orang tua melalui seminar dan kelas motivasi tentang dampak negatif gim online tanpa pengawasan.

Ketua Komnas PA Surabaya, Syaiful Bachri, atau yang akrab disapa Kak Iful itu mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan sedikitnya 15 permainan di dalam Roblox yang tergolong paling berbahaya. 

"Kontennya mulai dari pornografi, sadisme, horor, pemicu kecemasan, pergaulan bebas, sampai hubungan sedarah," ujar Kak Iful, Selasa (12/8/2025).

Dirinya juga menilai kondisi seperti itu adalah bukti bahwa teknologi tanpa kontrol orang tua bisa berdampak serius pada psikologis anak.

Roblox: Dunia Virtual dengan Jutaan Game

Perlu diketahui, gim Roblox sendiri dirancang sebagai platform bermain dan berkreasi untuk anak-anak. Di dalamnya, pengguna dapat dengan bebas memilih jutaan game mini yang dibuat oleh kreator dari seluruh dunia.

Genre mini game-nya beragam, mulai dari simulasi merawat hewan peliharaan (Adopt Me!), bertahan hidup dari bencana (Natural Disaster Survival), hingga permainan roleplay kota (Brookhaven RP).

Masalahnya, sifat Roblox yang terbuka membuat siapa pun bisa membuat konten tanpa proses kurasi ketat. Moderasi cenderung reaktif, baru menghapus konten setelah ada laporan bukan sebaliknya. Hal tersebut memberi celah munculnya mini game dengan unsur kekerasan ekstrem atau interaksi yang tidak aman. 

Disisi lain, pemain juga bisa berkomunikasi bebas dengan orang asing jika kontrol orang tua tidak diaktifkan, serta terdorong melakukan pembelian dalam gim menggunakan mata uang virtual bernama Robux.

"Kalau dulu anak bertengkar karena emosi, sekarang cara melakukannya berbeda. Mereka meniru instruksi atau adegan yang dilihat di gim," kata Kak Iful.

Larangan Saja Tidak Cukup

Komnas PA Surabaya menegaskan pelarangan bermain Roblox tidak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Mereka mengusulkan pendekatan yang lebih komprehensif, yakni:

  • Substitusi: mengganti gim bermasalah dengan alternatif yang aman dan edukatif, termasuk mengembangkan permainan berbasis budaya lokal.
  • Komplementasi: menyediakan gim serupa yang mengandung nilai pendidikan karakter berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
  • Kolaborasi Nasional: melibatkan pemerintah pusat–daerah, Kominfo, DPR RI, tokoh masyarakat, guru, dan industri kreatif untuk pengawasan dan pengembangan gim positif.

Kak Iful juga menekankan bahwa secara psikologis, sebuah larangan malah akan menimbulkan rasa penasaran dan ingin coba-coba, terlebih bagi anak-anak. Maka disitulah pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam pendampingan. 

"Larangan tanpa edukasi justru bisa membuat anak makin penasaran, karena itulah jangan alay dan abai, tapi bijak. Kita perlu memberi ruang, tapi isi kontennya harus sudah diberi nilai yang tepat," ujarnya.

Komnas PA Surabaya juga mendorong generasi muda, terutama kreator lokal, untuk membuat gim yang aman sekaligus kreatif, agar anak tetap mendapat hiburan digital tanpa mengorbankan nilai moral dan keamanan. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow