Kisah Inspiratif Mujianto: Warga Tulungagung Rawat Puluhan ODGJ Secara Mandiri di Rumahnya

Dengan falsafah "Memanusiakan Manusia", Mujianto, petani asal Tulungagung yang mendikasikan diri merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di rumahnya.

23 Jun 2025 - 17:58
Kisah Inspiratif Mujianto: Warga Tulungagung Rawat Puluhan ODGJ Secara Mandiri di Rumahnya
Mujianto (kaos hitam) bersama rekannya Aipda Oktafrian Widiantoro, merawat ODGJ di tempat penampungan yayasan Lentera Putih, di desa Kendal, kecamtan Gondang, Tulungagung. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Dalam diam dan jauh dari sorotan, Mujianto, seorang petani sederhana dari Desa Kendal, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, menjalani aktivitas mulia yang tak banyak orang berani lakukan. Sejak tahun 2021, pria berusia 45 tahun ini telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) secara mandiri di rumah pribadinya.

Apa yang dilakukan Mujianto berawal dari kepedulian dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Ia merasa prihatin melihat banyaknya ODGJ yang hidup terlantar di jalan tanpa perhatian, atau mereka yang justru dikucilkan oleh keluarganya sendiri karena dianggap aib atau beban.

“Saya hanya ingin mereka juga diperlakukan seperti manusia. Karena mereka pun manusia, punya hak yang sama untuk hidup layak dan dipulihkan,” ungkap Mujianto, Senin (23/6/2025).

Mujianto yang akrab disapa Yanto ini kemudian mendirikan Yayasan Lentera Putih, sebuah wadah kecil yang ia bentuk sendiri tanpa dukungan dana dari pemerintah. Yayasan ini menjadi rumah bagi para ODGJ yang ia temukan atau yang dititipkan oleh keluarga yang sudah tak sanggup lagi merawat.

Hingga tahun keempat yayasan beroperasi, sudah puluhan ODGJ yang pernah dirawat di tempat ini. Sebagian besar dari mereka kini telah kembali pulih dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.

"Saat ini yang tinggal dirawat disini ada 15 orang," ujar Yanto.

Namun jalan yang ditempuh Yanto tidak selalu mulus. Di awal mula ia merintis kegiatan ini, ia mengaku sempat menghadapi penolakan dari lingkungan terdekat termasuk dari istrinya sendiri.

“Waktu itu istri saya keberatan, karena takut dan khawatir dengan keselamatan keluarga. Tapi lama-lama beliau mulai mengerti, bahkan sekarang ikut membantu saya merawat mereka,” katanya.

Tak hanya dari keluarga, penolakan juga sempat datang dari sebagian warga sekitar yang merasa khawatir dengan keberadaan para pasien ODGJ di lingkungan mereka. Namun seiring waktu, masyarakat mulai memahami niat baik Mujianto dan kini justru banyak yang mendukung.

"Kadang mereka (ODGJ) ini saya ajak ke warung kopi dekat-dekat sini untuk bersosialisasi dan supaya masyarakat tahu," tuturnya.

Berbeda dengan metode medis yang umum diterapkan di rumah sakit jiwa, Yanto menggunakan pendekatan terapi alternatif berupa pijat saraf dan pembinaan sosial. Ia tidak menggunakan obat-obatan, karena menganggap proses penyembuhan jiwa bisa dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

"Setahun belakangan ini ada perhatian dari Dinkes Tulungagung, setiap beberapa bulan sekali ada yang dirujuk ke RSJ Lawang," ungkap Yanto.

Setiap hari, Mujianto melatih para pasien untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan lingkungan, serta melakukan kegiatan sederhana seperti berkebun, membersihkan rumah, dan membuat kerajinan kayu. Ia percaya bahwa dengan diberikan aktivitas dan perhatian, kondisi psikologis para ODGJ akan perlahan membaik. 

“Saya ingin mereka bisa kembali mandiri, atau minimal bisa kembali diterima oleh keluarganya dan masyarakat,” ujarnya.

Yang lebih mencengangkan, seluruh operasional tempat penampungan ini sebagian besar ditanggung oleh Mujianto sendiri. Ia tidak mematok biaya tetap kepada keluarga pasien, dan sering kali harus menyisihkan penghasilannya sebagai petani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari para ODGJ, termasuk makan, pakaian, dan perawatan.

“Saya tahu tidak semua keluarga mampu, jadi saya tidak pernah minta biaya tetap. Kalau mereka bisa bantu ya alhamdulillah, kalau tidak ya saya usahakan sendiri,” kata Mujianto.

Meskipun banyak keterbatasan, Mujianto tetap menjalani semua ini dengan ikhlas. Ia mengaku tidak mengharapkan imbalan, namun ia berharap ada perhatian dari pemerintah atau pihak-pihak yang peduli agar kegiatan ini bisa terus berjalan dan berkembang.

“Alhamdulillah beberapa waktu lalu ada yang mewakafkan tanah untuk dibuat tempat penampungan. Tapi yaitu, saat ini kami masih terkendala biaya untuk membuat bangunannya,” tambahnya.

Yanto mengaku tak memiliki rencana muluk-muluk. Ia hanya ingin membantu sebanyak mungkin orang yang selama ini terlupakan oleh sistem. Ia juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin turut berkontribusi, baik dalam bentuk tenaga, donasi, maupun dukungan moral.

Menurut Yanto, saat ini ada salah seorang anggota Polsek Gondang, Aipda Oktafrian Widiantoro, yang aktif membantunya mengurus ODGJ di rumahnya.

“Saya tidak bisa sendiri. Kalau ada yang peduli, mari kita bantu bareng-bareng. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi kalau dilakukan dengan hati, hasilnya luar biasa,” pungkas Mujianto. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow