Keracunan Massal di Tulungagung Akibat Bakteri Salmonella dan Enterobacter, Begini Penjelasan Ahli Mikrobiologi
Sampel makanan yang menyebabkan keracunan massal di Desa Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, yang disajikan saat kegiatan Posyandu terbukti mengandung bakteri Salmonella dan Enterobacter. Lalu bagaimana bakteri tersebut bisa mencemari makanan, begini penjelasan ahli.
TULUNGAGUNG, SJP – Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang menyebabkan keracunan massal di Desa Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, mengungkapkan fakta mencengangkan. Makanan yang dikonsumsi pada Senin, 16 Juni 2025 itu mengandung bakteri berbahaya, yakni Salmonella dan Enterobacter.
Makanan yang disajikan saat kegiatan Posyandu itu terdiri dari nasi, daging ayam, telur, dan kuah soto. Beberapa jam setelah dikonsumsi, puluhan warga dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, diare, dan demam, indikasi klasik keracunan makanan.
Kepala Instalasi Mikrobiologi RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Rendra Bramanti, menjelaskan bahwa keberadaan bakteri Salmonella dan Enterobacter dalam makanan menunjukkan adanya kontaminasi yang serius, baik dari bahan baku maupun proses pengolahan makanan.
Lalu apa Itu Salmonella dan Enterobacter?
Salmonella adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan, dikenal dengan istilah salmonellosis. Penyakit ini umumnya ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses manusia atau hewan yang membawa bakteri tersebut.
Sementara itu, Enterobacter adalah kelompok bakteri gram-negatif yang umumnya hidup di lingkungan seperti tanah, air, serta dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Meski biasanya tidak berbahaya, Enterobacter dapat menjadi patogen oportunistik, terutama pada individu dengan kekebalan tubuh rendah.
“Kedua bakteri ini umumnya ditemukan di tempat-tempat yang tercemar kotoran manusia atau hewan. Bisa masuk ke makanan jika penjamah makanan tidak menjaga kebersihan atau jika bahan makanan tidak ditangani dengan baik,” kata dr. Rendra, Selasa (1/7/2027).
Dalam kasus keracunan massal di salah satu Poayandu di Tulungagung tersebut, sumber kontaminasi ditelusuri. Tim medis RSUD dr. Iskak telah melakukan pemeriksaan terhadap juru masak yang menyiapkan makanan tersebut.
Hasilnya, dari tiga orang penjamah makanan tidak ditemukan bakteri penyebab, namun ditemukan flora normal saluran pencernaan yang berbeda dengan bakteri di makanan.
“Artinya, besar kemungkinan kontaminasi berasal dari lingkungan atau bahan makanan yang tidak higienis. Bisa juga dari air yang digunakan saat memasak,” jelas dr. Rendra.
Ia juga menambahkan, air di Indonesia umumnya tidak bisa dikonsumsi secara langsung karena rawan tercemar bakteri.
“Makanya air harus dimasak sampai mendidih. Kalau air tidak matang sempurna, itu bisa jadi sumber penyakit,” ujarnya.
Menurut dr. Rendra, salah satu penyebab umum keracunan makanan adalah faktor manusia, terutama penjamah makanan. Penjamah makanan adalah orang yang terlibat langsung dalam pengolahan makanan, mulai dari tahap persiapan hingga penyajian. Mereka bertanggung jawab atas kebersihan makanan yang disajikan.
“Seringkali penjamah makanan tidak mencuci tangan setelah buang air, lalu langsung mengolah makanan. Itu sangat berisiko tinggi menularkan bakteri,” tambahnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan selama pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, hingga penyajian. Masyarakat diimbau untuk selalu memastikan bahan makanan bersih, menggunakan air matang, dan mencuci tangan sebelum mengolah atau menyajikan makanan.
Pihak Dinas Kesehatan Tulungagung bersama aparat setempat kini tengah melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan sumber pasti kontaminasi dan mencegah kejadian serupa terulang kembali. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

