Kemiskinan Turun, Tapi Kota Batu Dihadapkan Ancaman Warga Rentan Kembali Miskin

Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial Dinsos Wiwit Anandana menegaskan penurunan angka kemiskinan tidak hanya diukur dari statistik, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakat Kota Batu mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi tanpa kembali tergelincir ke jurang kemiskinan

17 Jan 2026 - 20:00
Kemiskinan Turun, Tapi Kota Batu Dihadapkan Ancaman Warga Rentan Kembali Miskin
Ilustrasi pembagian bantuan langsung tunai di Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Angka kemiskinan di Kota Batu memang menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2025, persentase penduduk miskin tercatat 2,86 persen, turun signifikan dari 3,31 persen pada 2024. Namun di balik capaian tersebut, ancaman kemiskinan berulang masih membayangi ribuan warga prasejahtera.

Kepala BPS Kota Batu, Sayu Made Widiari menegaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat, sekitar 6.220 jiwa berada dalam kategori prasejahtera atau kelompok rentan. Kelompok ini belum tergolong miskin, tetapi posisinya sangat dekat dengan garis kemiskinan dan berpotensi kembali terperosok jika terjadi guncangan ekonomi.

"Penurunan persentase kemiskinan harus dibaca secara utuh bersama indikator garis kemiskinan yang terus naik. Pada 2025, garis kemiskinan Kota Batu mencapai Rp671,2 ribu per kapita per bulan. Warga dengan pengeluaran di bawah angka tersebut langsung masuk kategori miskin," paparnya.

Menurutnya, kenaikan garis kemiskinan menunjukkan biaya hidup yang terus meningkat dan ini membuat kelompok prasejahtera semakin rentan. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan pemerintah daerah. Meski Kota Batu berhasil menghapus kemiskinan ekstrem hingga nol persen sejak 2024, keberhasilan itu belum sepenuhnya menjamin ketahanan ekonomi masyarakat.

Terpisah, Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial Dinsos Kota Batu, Wiwit Anandana menyebut penghasilan yang tidak menentu dan keterbatasan lapangan kerja sebagai faktor dominan.

“Banyak warga yang bekerja di sektor informal. Pendapatannya fluktuatif, sangat tergantung kondisi pasar dan musim,” kata Wiwit.

Selain faktor ekonomi, risiko bencana, musibah keluarga, hingga kehilangan pencari nafkah utama juga menjadi pemicu warga kembali jatuh miskin. Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting. Pada 2020–2021, angka kemiskinan Kota Batu melonjak hingga 4,09 persen akibat lumpuhnya sektor pariwisata dan usaha kecil.

Menurut Wiwit, bantuan sosial tetap dibutuhkan, namun tidak cukup untuk menjaga warga agar tidak kembali miskin. Pemerintah perlu mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan.

“Menjaga agar warga prasejahtera tidak jatuh miskin itu tantangan sesungguhnya. Kuncinya ada pada daya beli, pekerjaan yang stabil, dan produktivitas,” tandasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow