Kelezatan Soto Ayam Bok ijo, Destinasi Kuliner Wajib di Kediri
Soto Ayam Bok Ijo, destinasi kuliner terkenal di Kediri dengan kelezatan soto ayam kuah santan dan menu ayam bakar, menjadi ikon kuliner Kediri sejak 1980-an.
KEDIRI, SJP - "Tak lengkap jika melintas Kediri, tanpa mencicipi Soto ayam Bok Ijo." Idiom itu melekat dalam pecinta kuliner yang biasa melanglangbuana di Jawa Timur. Tak salah, lantaran Soto Bok Ijo menjadi ikon kuliner di Kota Kediri.
Sejatinya, Soto Bok Ijo tersebar di beberapa titik. Namun, sentranya terletak di samping terminal Tamanan Kota Kediri. Di situ, warung soto Bok Ijo berderet. Menawarkan ragam rasa. Namun, ada yang begitu spesial. Kelezatan soto ayam menyajikan kuah santan dengan aroma yang khas. Lalu, berbagai menu ayam bakar yang menambah kenikmatan.
Rasa yang meninggalkan jejak kenangan bagi penikmatnya yang banyak datang dari luar kota. 'Memaksa' mereka untuk kembali, ketika melintasi kota ini. "Saya kalau ke Kediri selalu mampir ke sini. Rasanya beda, kuah santannya khas dan ayam bakarnya enak," ujar Titik, warga Surabaya.
Cikal Bakal Soto Ayam Bok Ijo
Soto Ayam Bok Ijo memiliki sejarah panjang dan menarik. Salah satu perintisnya, Supono, yang saat ini diteruskan oleh sang putera: Deni. "Bapak memulai sekitar tahun 1980-an. Tetapi, mulai pindah ke terminal Tamanan ini sejak 1992," ungkap Deni.
Nama 'bok ijo' merupakan bahasa Jawa. Artinya, jembatan irigasiberwarna hijau. Terletak di kawasan sawah, tempat kedai ini awal mula berdiri. Di sana terdapat jembatan irigasi berwarna hijau. yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan "Bok ijo". Di area ini para pedagang soto ayam mulai berjualan sehingga muncullah nama: Soto ayam Bok Ijo.
Soto ini dikenal pelanggan luar kota, karena lokasinya yang strategis, di samping terminal. Saat lebaran, sentra kuliner ini diserbu pemudik. Kelezatan soto ayam Bok Ijo semakin lengkap dengan aneka pilihan menu ayam bakar, seperti kulit, ati ampela, uritan, sayap, hingga dada ayam.Harga soto ayam di kedai ini sangat terjangkau per porsinya diharga Rp10 ribu per mangkok.
"Kalau hari biasa kami bisa menghabiskan 100 ekor ayam, saat Lebaran bisa dua kali lipat. Sebagian besar pelanggan berasal dari luar kota, bisa dilihat dari plat kendaraan yang datang," jelasnya.
Sumber: beritasatu.com
Penulis: Maria Karolina Bupu Mahasiswa Magang Merdeka Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Jawa Timur
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

