Kamar Penjara Mojokerto ini Menjadi Saksi Perjuangan KH Hasyim Asy'ari Lawan Penjajah Jepang
Ulama sekaligus salah satu tokoh pendiri organisasi islam Nahdlatul Ulama ini dipenjara selama 4 bulan.
MOJOKERTO, SJP - Salah satu kamar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto ternyata menyimpan segudang sejarah perjuangan pahlawan kemerdekaan di era penjajahan Jepang.
Ulama sekaligus Pahlawan Nasional, KH. Hasyim Asy'ari pernah dipenjara oleh Tentara Jepang saat menolak ritual penghormatan terhadap Kaisar Hirohito dan menyembah kepada Dewa Matahari di tahun 1943.
Ulama sekaligus salah satu tokoh pendiri organisasi islam Nahdlatul Ulama ini dipenjara selama 4 bulan.
Sebelumnya, Kiai Hasyim dipenjara di Jombang, Jawa Timur. Namun saat itu para santri melakukan demonstrasi meminta tokoh ulama itu dibebaskan, hingga membuat tentara Jepang memindahkan Kiai Hasyim ke Penjara Mojokerto.
Dulu, nama penjara ini bukanlah Penjara Mojokerto atau Lapas Kelas IIB Mojokerto melainkan bernama Penjara Purwotengah.
Waktu berlalu, hingga pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang itu dibebaskan oleh tentara Jepang pada tanggal 18 Agustus 1942.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Mojokerto Rudi Kristiawan menyebut, untuk mengenang jasa pahlawan dan peduli terhadap sejarah tokoh ulama salah satu pejuang kemerdekaan, pihaknya merawat kamar itu dengan istimewa.
Berbeda dengan kamar Lapas lainnya, Lapas nomor dua itu dicat berwarna hijau, ada dua logo Nahdlatul Ulama di pintu masuk.
"Jadi kenapa kok berbeda, karena di kamar nomor dua inilah dulu KH Hasyim Asy'ari mengalami tekanan fisik dan menyelesaikan oleh tentara Jepang saat memperjuangkan kslam dan memperjuangkan Bangsa Indonesia," kata Rudi saat diwawancarai, Jumat (21/3/2025).
Lapas Kelas IIB Mojokerto sengaja untuk melestarikan peninggalan bersejarah ini agar keberkahan juga mengiringi warga binaan. Artinya, bisa mentauladani KH Hasyim Asy'ari dalam segala hal, tentunya membuat jati diri semakin lebih baik.
"Kami ingin mengingatkan bahwa sejarah ini bukan hanya milik Mojokerto namun milik Bangsa Indonesia, hikmah yang bisa diambil oleh warga binaan, adalah nilai positif agar mentauladani Kiai Hasyim dalam kekuatan iman dan teguh pada nilai-nilai kebaikan," jelasnya.
Menurut Rudi, tidak ada perubahan atau renovasi pada kamar nomor 2 Lapas Mojokerto ini, Sebab pihaknya ingin mempertahankan keaslihan peninggalan jejak sejarah.
"Hanya kami cat saja warna hijau, kami rawat kami bersihkan tanpa merubah bentuk," tandasnya.
Salah seorang warga binaan berinisial IW (53) yang sudah sekitar satu tahun menempati kamar itu mengaku memiliki energi yang berbeda.
Bahkan ia mengaku bermimpi, didatangi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari berasa di depan pintu kamar penjara. Dalam mimpinya tokoh ulama itu tidak menyampaikan pesan. Namun, membuat IW lebih taat beribadah.
"Positif energinya, suasananya teduh. Enak kalau dipakai ibadah," ujar narapidana kasus korupsi tersebut.
Ia mengaku bersyukur bisa menempati kamar yang dulu ditempati oleh warosatul anbiya. Hal itu disebutnya membuat dirinya benar-benar bertobat dan menjalani hidup lebih baik lagi. Mulai dari istiqamah menjalankan salat malam hingga berzikir kepada Allah.
"Alhamdulillah, ini salah satu peringatan untuk bertobat. Alhamdulillah bisa istiqomah salat sunnah malam dan terus berzikir," tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

