Jumlah Keracunan di Mojokerto Bertambah Menjadi 261 Orang, Pemprov Temukan Fakta Tak Wajar

Pemprov Jatim menemukan fakta yang tak wajar, yakni korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu soto ayam MBG. Seperti daging ayam bahkan hanya memakan telurnya saja.

11 Jan 2026 - 18:16
Jumlah Keracunan di Mojokerto Bertambah Menjadi 261 Orang, Pemprov Temukan Fakta Tak Wajar
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat meninjau pasien keracunan di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojokerto. (Ist/SJP)

MOJOKERTO, SJP — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melakukan investigasi mendalam terkait insiden keracunan massal yang menimpa ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto. 

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun hingga Ahad (11/1/2026), total korban terus bertambah dan tercatat mencapai 261 orang.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat meninjau kondisi korban di Pondok Pesantren Ma'had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar, memaparkan rincian data penanganan medis para korban. 

Dari total 261 warga yang terdampak, mencakup siswa hingga orang tua siswa, sebanyak 140 orang telah dinyatakan pulih dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara 121 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Mojokerto. 

"Saat ini, fokus utama adalah penanganan medis bagi 121 pasien yang masih menjalani perawatan intensif. Sebanyak 121 orang tersebut tersebar di beberapa titik, termasuk di pondok pesantren, rumah sakit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM)," ujar Emil, Ahad (11/1/2026).

Emil menjelaskan bahwa langkah medis prioritas yang diambil adalah prosedur rehidrasi melalui pemberian cairan infus untuk menjaga stabilitas kondisi fisik pasien. 

Selain itu, pemberian obat-obatan penunjang seperti zinc dilakukan guna mempercepat proses pemulihan fungsi pencernaan pasien yang mayoritas mengalami gejala mual akut.

Terkait penyebab keracunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang dikonsumsi pada Jumat (9/1/2026). Penelusuran juga difokuskan pada rantai pasok dan prosedur pengolahan bahan pangan.

Pemprov Jatim menemukan fakta yang tak wajar, yakni korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi makanan bagian tertentu saja dalam menu soto ayam MBG. Seperti daging ayam bahkan hanya telur saja. 

"Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu, seperti daging ayam saja atau telur saja. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan," tegas Emil.

Saat ini dinas kesehatan disebutnya juga sedang menguji beberapa hipotesis teknis, di antaranya evaluasi terhadap bahan baku yang dipersiapkan pada H-1 sebelum penyajian dan pemeriksaan pada proses pengemasan dan apakah terdapat kontaminasi pada cangkang telur yang disimpan dalam satu wadah dengan bahan lain.

Insiden ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengevaluasi secara menyeluruh sistem pengawasan mutu dalam program Makan Bergizi Gratis. 

Wagub Emil menekankan bahwa hasil investigasi ini akan dijadikan landasan dalam penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) penyediaan pangan bagi masyarakat ke depannya. 

Diberitakan sebelumnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto berujung petaka. Sekitar 150 santri dan pelajar dari berbagai sekolah di bawah naungan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah, Kecamatan Kutorejo, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu soto ayam pada Jumat (9/1/2026).

Hingga Sabtu (10/1/2026), puluhan korban masih menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan akibat gejala klinis yang memburuk.

Peristiwa bermula saat para santri mengonsumsi paket makan siang yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan ponpes. Menu yang disajikan adalah soto ayam dengan tampilan yang dinilai tidak lazim.

"Daging ayamnya tidak disuwir seperti soto pada umumnya, melainkan dicacah dengan bumbu kecap pekat mirip toping mi ayam," ungkap salah seorang santriwati saat ditemui di Puskesmas Gondang.

Reaksi tubuh mulai dirasakan para santri secara bertahap sejak Jumat malam. Gejala berupa mual, muntah, demam, pusing, hingga diare akut membuat suasana di pesantren mencekam. 

Puncaknya, pada Sabtu pagi, evakuasi besar-besaran dilakukan karena jumlah korban terus bertambah.

Kepala UPT Puskesmas Gondang, dr. Rohmatun Naja, mengonfirmasi lonjakan pasien yang masuk sejak pukul 09.30 WIB. 

"Benar, ada dugaan keracunan massal. Hingga saat ini, kami fokus pada stabilisasi kondisi pasien yang mengalami dehidrasi akibat muntah dan diare," jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebaran pasien meliputi Puskesmas Gondang 17 santri dan 1 ustazah. Fasilitas kesehatan lain seperti Puskesmas Pacet, Bangsal, Kutorejo, RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojosari, dan RS Sumberglagah dan penanganan mandiri sekitar 100 santri dengan gejala ringan masih dalam pantauan tim medis di dalam area pondok pesantren.

Korban tercatat berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP/MTs hingga SMA/MA di lingkungan Ponpes Al-Hidayah, Maahad Annur, hingga siswa dari SMPN 2 Kutorejo yang turut menerima distribusi makanan tersebut.

Menanggapi insiden serius ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Fokus utama investigasi adalah prosedur pengolahan makanan di SPPG yang diduga dikelola oleh pihak pesantren.

Sampel soto ayam telah diambil untuk diuji di laboratorium kesehatan guna mengidentifikasi keberadaan bakteri pathogenic atau zat berbahaya lainnya. 

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Kesehatan belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil uji laboratorium, sementara pengawasan medis ketat terus diberlakukan di seluruh titik perawatan. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow