Jelang Suro, Jasa Penjamasan dan Pembuatan Warangka Keris di Jombang Meningkat
Tapi kalau masuk bulan Suro, jumlah pesanan bisa melonjak sampai 25 warangka per hari.
JOMBANG, SJP – Menjelang bulan Suro atau bulan pertama dalam sistem kalender Jawa Islam tahun 2025, jasa penjamasan warangka keris di Jombang mengalami peningkatan permintaan.
Penjamasan sebagai sebuah prosesi membersihkan dan merawat benda-benda pusaka atau benda-benda bersejarah, identik dengan nilai budaya atau spiritual yang tinggi kerap dilakukan pada bulan sakral dalam tradisi jawa ini.
Hal tersebut yang dialami oleh Sudahri (55) warga Desa Miagan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Ia mengaku mengalami peningkatan permintaan jasa penjamasan warangka keris mendekati bulan Suro pada tahun 2025 ini.
“Biasanya sehari paling banyak saya buat 7 sampai 8 warangka. Tapi kalau masuk bulan Suro, jumlah pesanan bisa melonjak sampai 25 warangka per hari. Jadi, semuanya harus antre,” ucap Sudahri kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).
Pria yang sehari-hari membuka lapak di Pasar Loak Mojotrisno, Mojoagung ini mengatakan mendapat peningkatan permintaan jasa penjamasan sejak akhir Mei 2025. Pada awal Juni 2025 semakin meningkat hingga satu minggu jelang tanggal 1 bulan Suro.
Selain penjamasan, biasanya pelanggan juga meminta untuk dibuatkan warangka keris. Dalam hal ini Sudahri akan membawa keris yang diganti warangka ke rumah untuk dilakukan ritual bancakan menghaturkan doa.
“Ada juga yang minta kerisnya dijamas dulu. Itu harus saya bawa pulang dan diadakan bancakan agar aman dan sesuai tradisi," katanya.
Menurut Sudahri pembuatan Warangka tidak selalu mudah. Ia mengakui bahwa jenis 'Warangka Ladrang' menjadi satu di antara yang paling menantang. Karena pada pembuatannya membutuhkan kayu dengan ketebalan khusus dengan desain ukiran rumit.
“Warangka ladrang cukup sulit dibuat. Minimal kayu harus 6 sentimeter tebalnya, dan modelnya juga penuh lengkungan," bebernya.
Sudahri menerima berbagai pesanan warangka, mulai Warangka Gayaman, Ladrang, Galih Asem, dan Kayu Kembang. Untuk warangka jenis 'pelokan' menjadi favorit di kalangan kolektor karena cocok untuk keris jenis tilam.
"Selain itu, beberapa pelanggan juga menyukai Warangka Betok untuk Keris Sandang Walikat," ujarnya.
Target produksi Warangka dalam sehari, Sudahri dapat membuat minimal 4 buah. Semua itu tergantung tingkat kerumitan warangka. Harganya juga sangat bervariasi, tergantung bahan dan detail pengerjaan.
Warangka dari kayu langka seperti Timoho dan Cendana bisa dihargai tinggi, bahkan mencapai Rp17 juta per buah. Sementara warangka standar dari Kayu Kembang bisa diharga mulai dari Rp150 ribu.
"Selama masa sibuk di bulan Suro, penghasilannya bisa menembus angka Rp10 juta," ungkapnya.
Sementara di luar bulan Suro, pendapatan tidak menentu. Dapatnya bervariasi, mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp5 juta. Hal itu tergantung pada jumlah pesanan dan tingkat penjualan keris antik di lokasi lapak jualan.
Selain membuat warangka, Sudahri juga menyediakan layanan perawatan pusaka secara menyeluruh. Mulai dari penjamasan, perbaikan, hingga marangi atau pemberian warangan, agar pamor keris tetap terjaga dan terlihat jelas.
Kini pelanggan Sudahri sejak mengawali jualan pada 2009 sudah hampir seluruh wilayah di Jawa Timur.
"Berasal dari berbagai daerah di luar Jombang seperti Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya," tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

