Jamasan Pusaka Tombak Kiai Upas di Tulungagung, Warga Rebutan Air dan Sesaji
Selain untuk menjaga warisan budaya, ritual ini juga dipercaya sebagai tolak balak agar Tulungagung, terbebas dari segala mara bahaya.
TULUNGAGUNG, SJP—Bulan Suro dalam penanggalan Jawa selalu menjadi momen sakral. Termasuk di Kabupaten Tulungagung. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini yaitu ritual jamasan pusaka atau penyucian benda pusaka. Seperti Tombak Kyai Upas, pusaka peninggalan leluhur yang menjadi simbol kepemimpinan dan keselamatan warga Tulungagung.
Prosesi jamasan digelar di Pendopo Kanjengan Tulungagung pada Jumat (11/7/2025), dalam suasana khidmat namun juga semarak. Iring-iringan para dayang menyerahkan air suci yang disebut Nowo Tirto kepada juru jamas, sebagai simbol dimulainya prosesi.
Air Nowo Tirto ini bukan air sembarangan. Air tersebut berasal dari sembilan macam air. Di antaranya air dari berbagai mata air yang tersebar di wilayah Tulungagung. Kemudian air dari tempuran sungai, air kelapa, sadapan pohon randu, hingga deresan pisang raja.
Kesembilan air tersebut mewakili bagian-bagian tubuh seekor naga. Yakni sirah yang berarti kepala, tengah yang berarti badan, dan buntut yang berarti ekor, yang menjadi lambang kekuatan alam dan keharmonisan.
"Untuk jamasan ini, syaratnya itu air dari sembilan sumber. Sembilan mata air ini melambangkan sirah, tengah, dan buntut. Air diambil dari beberapa mata air. Air tempuran sungai, air gothekan kerbau, air kelapa, deresan pisang raja, dan air pohon randu," jelas Winarto, juru jamas pusaka Kyai Upas.
Setelah disiapkan, air dicampur dengan bunga setaman dan jeruk nipis. Tombak Kyai Upas kemudian dibersihkan secara perlahan dengan penuh penghormatan.
Setelah selesai, tombak dibungkus kembali dengan kain putih dan dihiasi dengan rangkaian bunga melati. Lalu diusung kembali ke tempat penyimpanan pusaka.
"Makna jamasan sebagai perwujudan syukur dan pengharapan agar Kabupaten Tulungagung selalu aman, ayem, tentrem, loh jinawi. Tidak ada halangan apa pun," ujar Winarto.
Tidak hanya prosesi jamasan yang menarik perhatian, momen rebutan ubo rampe atau sesaji dan air jamasan menjadi bagian yang paling dinantikan warga.
Mereka percaya, sesaji dan air bekas jamasan pusaka memiliki khasiat. Yakni bisa membawa keberkahan, kesehatan, bahkan keselamatan.
"Air jamasan ini bisa bikin awet muda katanya," ujar Musini, salah satu warga yang ikut berebut sesaji.
Tombak Kyai Upas sendiri merupakan salah satu pusaka utama Kabupaten Tulungagung. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pusaka ini merupakan simbol dari pemimpin yang bersih secara lahir dan batin.
Oleh karena itu, ritual jamasan dilakukan secara rutin agar energi pusaka tetap terjaga. Selain dengan harapan pemerintahan bisa berjalan baik, ritual jamasan tombak Kiai Upas juga sebagai tolak balak agar warga Tulungagung hidup sejahtera dan terbebas dari segala mara bahaya.
Ritual jamasan Tombak Kyai Upas menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai potensi wisata spiritual dan budaya yang sarat nilai historis. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

