Nyaris Rp17 Ribu per Dolar AS, Ini Perjalanan Panjang Rupiah Dua Dekade Terakhir

Rupiah melemah, biaya impor melonjak, dan inflasi mengintai, ekonomi nasional kian rapuh jika fondasi kebijakan tak segera diperkuat.

21 Apr 2025 - 22:18
Nyaris Rp17 Ribu per Dolar AS, Ini Perjalanan Panjang Rupiah Dua Dekade Terakhir
Perjalanan rupiah mencerminkan stabilitas ekonomi nasional yang masih penuh tantangan. (Foto: Freepik)

SURABAYA, SJP - Nilai tukar rupiah selalu menjadi indikator vital dalam membaca arah ekonomi Indonesia. Setiap geraknya memicu efek berantai: dari industri manufaktur, hingga daya beli masyarakat.

Seiring gejolak global dan tekanan domestik yang kian kompleks, rupiah kembali menjadi sorotan. Terutama ketika nilainya kian mendekati angka psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada April 2025.

Meski sempat menguat sesaat, arah jangka menengah dan panjang menunjukkan bahwa rupiah masih berada di bawah tekanan.

Tak sekadar angka, kondisi ini membuka tabir soal kerentanan struktural ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya tertangani.

Dua Dekade Perjalanan Rupiah

Dalam 20 tahun terakhir, rupiah telah melewati berbagai badai ekonomi. Setelah krisis 1998, pemerintah dan Bank Indonesia menempuh berbagai reformasi untuk menstabilkan mata uang nasional. 

Pada awal 2005, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp9.000–Rp10.000 per dolar AS. Tahun 2008, saat krisis keuangan global menerpa, rupiah anjlok hingga mendekati Rp12.000 per dolar sebelum perlahan menguat kembali seiring pemulihan global.

Memasuki 2013–2015, sentimen taper tantrum dari AS kembali menekan rupiah. Nilai tukar sempat menembus Rp14.000 per dolar. Sejak saat itu, kisaran Rp13.000–Rp15.000 menjadi wajah baru kestabilan semu rupiah. 

Pandemi Covid-19 pada 2020 membuat rupiah terdepresiasi tajam hingga ke level Rp16.500. Namun Bank Indonesia berhasil menstabilkannya dengan berbagai intervensi.

Sayangnya, memasuki 2024–2025, tekanan baru datang. Bukan lagi semata dari pandemi, melainkan gabungan dari ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme global, dan ketidakpastian kebijakan fiskal dalam negeri.

Sorotan Akademisi: Faktor Eksternal dan Internal

Menurut Prof. Imron Mawardi, pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, pelemahan rupiah kali ini merupakan kombinasi dari faktor global dan domestik yang saling menekan.

"Memang, faktor global yang cukup panas. Seperti kebijakan tarif Trump, menyebabkan ketidakpastian di pasar global. Kebijakan tersebut memengaruhi ekonomi dunia dan pasar keuangan yang berimbas pada penurunan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah,” jelas Prof. Imron, Senin (21/4/2025).

Dia juga menyoroti permasalahan dalam negeri yang turut memperparah tekanan terhadap rupiah. Yakni ketidakstabilan politik dan ekonomi domestik. Seperti penurunan harga komoditas dan kebijakan yang tidak konsisten.

"Hal itu membuat investor merasa ragu dan menarik investasinya, memicu tekanan pada nilai tukar rupiah," paparnya.

Dampak tekanan nilai tukar akan terasa di sektor riil. Banyak industri yang tergantung pada bahan baku impor harus menghadapi lonjakan biaya produksi.

"Ini akan berdampak pada harga produksi yang kemudian menyebabkan inflasi cost-push, yaitu inflasi yang dipicu oleh peningkatan biaya produksi," ungkap Prof. Imron.

Meski tekanan cukup kuat, Prof. Imron tetap menyuarakan optimisme terhadap daya saing Indonesia dalam jangka panjang. Menurutnya, Indonesia masih memiliki pasar yang cukup besar dan daya tarik internasional yang kuat.

"Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menarik investasi, meskipun ada tantangan dari negara lain seperti Vietnam," ucap Prof. Imron.

Namun dia mengingatkan, keunggulan ini tak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah dituntut menciptakan kebijakan ekonomi yang lebih stabil dan ramah terhadap investor.

"Pemerintah harus mendorong ekspor dan menarik investasi asing dengan cara yang lebih terstruktur. Sementara BI perlu melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di jangka pendek," tuturnya.

"Masyarakat dapat membantu dengan tidak panik dan tidak membeli dolar secara berlebihan. Selain itu, mengutamakan produk dalam negeri juga dapat mengurangi ketergantungan pada barang impor dan mendukung perekonomian Indonesia." tukas Prof. Imron.

Pelemahan rupiah bukanlah sekadar soal ekonomi. Ini adalah cerminan dari kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan dan ketahanan fundamental nasional.

Untuk membalikkan tren ini, dibutuhkan sinergi nyata antara pemerintah, otoritas moneter, pelaku usaha, dan masyarakat.

Di tengah ketidakpastian global, kerja sama nasional bisa menjadi jangkar yang menjaga nilai rupiah tetap kokoh di tengah badai. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow