Jaga Kesehatan, Dinkes Jatim Imbau Jaga Pola Makan Pasca Lebaran

Kenyang rendang, pulang diare, Lebaran membawa tawa dan peluk, tapi juga demam, batuk, dan perut melilit yang memadati puskesmas seminggu setelah silaturahmi berakhir.

08 Apr 2025 - 20:32
Jaga Kesehatan, Dinkes Jatim Imbau Jaga Pola Makan Pasca Lebaran
Puskesmas ramai, penyakit pasca Lebaran mulai berdatangan (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Lebaran seharusnya jadi momen bahagia. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan haus, akhirnya meja makan penuh santapan, rumah penuh tawa, dan timeline penuh foto keluarga. Tapi, seminggu setelahnya, puskesmas justru penuh pasien.

Dari perut melilit, suhu badan naik tanpa aba-aba, sampai anak balita yang tiba-tiba batuk tak henti. Fenomena "sakit berjamaah" pasca Lebaran ini bukan kejadian baru, tapi tahun ini kembali jadi sorotan.

Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Timur per 3 April 2025, tiga penyakit terbanyak yang diderita masyarakat setelah Lebaran adalah demam, gastroenteritis alias diare, dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

"Ini erat kaitannya dengan perubahan pola makan dan gaya hidup pasca-Ramadan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Erwin Astha Triyono saat dikonfirmasi pada Selasa (8/4/2025)

Setelah sebulan terbiasa makan dua kali sehari dan menahan diri dari makanan manis dan berlemak, banyak orang langsung "balas dendam" saat Lebaran tiba. Hasilnya? Sistem imun kaget, pencernaan mogok kerja.

Yang Terjadi di Balik Meja Makan

Mulai dari diare, penyakit sejuta umat setelah pesta rendang dan sambal goreng ati. Diare terjadi saat seseorang buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair atau lembek.

Penyebabnya? Erwin menjelaskan bahwa penyebab Diare bisa datang dari makanan yang kurang higienis, air yang tak matang, atau tangan yang lupa cuci sebelum makan ketupat.

"Penularannya lewat fecal-oral, jadi penting banget menjaga kebersihan tangan, makanan, dan air," kata Erwin.

Ia menyarankan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun di waktu-waktu krusial, seperti setelah BAB, sebelum makan, dan setelah memegang hewan.

Kemudian ada juga demam, yang bisa jadi pertanda tubuh sedang melawan infeksi, termasuk infeksi berbahaya seperti demam berdarah. Di tengah musim hujan yang belum benar-benar selesai, populasi nyamuk tetap jadi ancaman nyata.

ISPA dan Ancaman Tak Terlihat di Udara

Sementara itu, ISPA jadi penyakit ketiga terbanyak. Tak mengherankan, karena saat silaturahmi Lebaran, anak-anak seringkali bertemu banyak orang di ruangan tertutup, kadang tanpa ventilasi baik. Balita, yang sistem imunnya masih rentan, mudah sekali tertular.

"Penting untuk menjauhkan balita dari orang yang sedang batuk, serta menjaga asupan gizi dan kebersihan rumah," ujar Erwin sembari menekankan pentingnya imunisasi lengkap dan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan.

Bukan Hanya Penyakit Menular

Tak cuma infeksi, Lebaran juga membawa tantangan bagi penderita hipertensi dan diabetes melitus. Kue nastar yang tak terhitung jumlahnya, sirup manis, dan tidur larut jadi kombinasi yang bisa memicu lonjakan tekanan darah dan gula darah.

"Faktor risikonya bisa dari makanan tinggi garam, kurang aktivitas, sampai stres akibat mudik yang melelahkan," jelas Erwin. 

Karena itu, Erwin menyarankan pola hidup CERDIK, yakni Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kelola stres.

Pulang dari Mudik, Jangan Lupa ke Puskesmas

Dinas Kesehatan Jawa Timur saat ini menyediakan layanan cek kesehatan gratis di beberapa pos kesehatan. Erwin mengajak masyarakat untuk tidak menunda memeriksakan diri jika mulai merasakan gejala.

Karena Lebaran seharusnya tidak diakhiri dengan antre obat di IGD. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow