Jadi Laboratorium Hidup: Polbangtan Malang Teliti Solusi Darurat Sampah Lewat Budidaya Maggot di KBA Kampoeng Oase Ondomohen

Polbangtan Malang meneliti Kampoeng Oase Ondomohen, mengungkap bagaimana warga mengubah sampah organik jadi sumber protein lewat budidaya maggot sebagai solusi darurat sampah.

09 Nov 2025 - 21:31
Jadi Laboratorium Hidup: Polbangtan Malang Teliti Solusi Darurat Sampah Lewat Budidaya Maggot di KBA Kampoeng Oase Ondomohen
Peneliti Polbangtan Malang bersama warga Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya saat melakukan survei dan pendampingan pengelolaan sampah melalui budidaya maggot (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP – Masalah sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bahkan baru-baru ini merilis laporan yang menetapkan sebagian besar wilayah di Tanah Air berstatus darurat sampah, menandakan kondisi pengelolaan sampah, khususnya limbah rumah tangga dan organik belum sepenuhnya terkendali.

Meski penanganan sampah mendesak dilakukan, cara pengelolaannya pun tak boleh sembarangan. Pembakaran plastik yang memicu polusi udara, hingga penemuan mikroplastik di udara dan air hujan, menjadi bukti bahwa solusi instan justru bisa menimbulkan masalah baru. 

Karena itu, kini muncul dorongan untuk menerapkan pendekatan alami dan berkelanjutan, salah satunya lewat pemanfaatan biokonversi maggot (larva) dari black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam untuk mengurai sampah organik.

Pendekatan itulah yang kini sedang diteliti oleh tim dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang dibawah naungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk menemukan praktik terbaik dalam pemanfaatan biokonversi maggot.

Mereka adalah Sad Likah, Wahyu Windari dan Bekti Nur Utami dari Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Polbangtan Malang yang datang ke Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen yang terletak di jantung Kota Surabaya sebagai salah satu lokasi yang dijadikan tempat penelitian.

Ketua tim peneliti, Sad Likah, menjelaskan bahwa penelitian yang mereka lakukan merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, tepatnya pada bidang penelitian dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada isu lingkungan.

Mengangkat judul "Penguatan Kapasitas Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Melalui Budidaya Maggot BSF untuk Mendukung Produktifitas Ayam Buras pada Masyarakat Perkotaan di Jawa Timur” penelitian tersebut mendapat pendanaan dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Polbangtan Malang

"Kami meneliti bagaimana masyarakat berpartisipasi dalam penanganan sampah lewat budidaya maggot BSF. Karena masalah sampah ini kan sudah jadi isu nasional," ujar Likah, Minggu (9/11/2025).

Likah menambahkan, pemilihan KBA Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya bukan tanpa alasan. Kawasan itu telah lebih dulu menerapkan inovasi budidaya maggot BSF sebagai upaya mandiri mengolah sampah rumah tangga dengan basis masyarakat.

"Kami dengar di sini sudah memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah. Kalau kampung-kampung padat lain bisa meniru dan kita jejaringkan, hasilnya akan besar. Prosesnya cepat, dari telur ke panen hanya 18 hari," katanya.

Selain survei kepada warga, penelitian juga dilakukan di beberapa kota lain seperti Malang untuk perbandingan. Polbangtan berharap hasil riset itu bisa menjadi model partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus alternatif sumber protein alami untuk pakan ternak.

"Harapannya, hasil riset ini bermanfaat dan bisa ditiru banyak pihak. Karena solusi persoalan sampah itu tak hanya dari pemerintah, tapi juga dari masyarakat," ujar Sad Likah.

Sampah Jadi Sumber Pangan

Ketua RT 08 RW 07 Kelurahan Ketabang, Endang Sriwulansari, menyebut kehadiran tim Polbangtan memberi semangat baru bagi warganya untuk terus menjaga pengelolaan lingkungan.

Meski tidak melakukan budidaya ayam bukan ras, atau ayam kampung, Endang mengungkapkan bahwa maggot yang dibudidayakan di wilayahnya tetap bisa dimanfaatkan menjadi pakan ikan yang warga budidayakan di saluran air.

"Kami senang sekali, karena maggot disini memang sangat membantu mengurai sampah sekaligus jadi pakan ikan. Di sini banyak ikan dibudidayakan di selokan, dan kalau beli pakan biayanya mahal," ujarnya.

Endang menambahkan, warga kini semakin memahami pentingnya pemilahan sampah dari rumah tangga, yang menjadi syarat utama untuk menghasilkan bahan organik berkualitas bagi budidaya maggot.

"Warga sudah terbiasa memilah sampah, jadi survei dari Polbangtan hasilnya positif. Harapan kami ada pelatihan lagi supaya bisa olah maggot jadi produk seperti pelet pakan," tambahnya.

Kampung Oase sebagai Laboratorium Hidup

Sementara itu, Adi Candra, local champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, menilai kolaborasi ini bukan sekadar penelitian, melainkan bentuk kemitraan multipihak yang sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) ke-11, yaitu kota dan permukiman berkelanjutan.

"Konsepnya life lab, laboratorium hidup. Di sini teori bisa diimplementasikan langsung. Ini kemitraan nyata antara masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah," jelas Adi.

Ia berharap Kampoeng Oase dapat menjadi role model bagi kampung-kampung lain dalam menciptakan lingkungan bersih, mandiri, dan produktif.

"Kita ingin Oase jadi inspirasi. Tempat semua orang haus akan perubahan bisa datang, belajar, dan menerapkan solusi nyata untuk lingkungan," ujarnya.

Kegiatan penelitian dari Polbangtan Malang menjadi contoh bagaimana inovasi lokal berbasis masyarakat mampu menjawab tantangan besar nasional, yakni tentang pengelolaan sampah, lingkungan dan penguatan ketahanan pangan melalui urban farming.

Melalui budidaya maggot, warga Ondomohen membuktikan bahwa sampah bukan sekadar masalah, tetapi sumber daya yang bisa diolah kembali tanpa menghasilkan polusi lanjutan.

Kegiatan tersebut didukung penuh oleh HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group, PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur, Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow