Inovasi Warga Blitar: Kompor dari Oli Bekas Jadi Alternatif Hemat di Tengah Kelangkaan LPG

Inovasi warga Blitar menciptakan kompor berbahan bakar oli dan minyak bekas sebagai solusi hemat di tengah kelangkaan LPG. Ramah lingkungan dan efisien digunakan sehari-hari.

10 Apr 2026 - 12:00
Inovasi Warga Blitar: Kompor dari Oli Bekas Jadi Alternatif Hemat di Tengah Kelangkaan LPG
Kompor berbahan bakar oli bekas karya warga Blitar yang digunakan untuk memasak sebagai alternatif LPG. (Tiktok/@alif)

BLITAR, SJP– Kelangkaan gas elpiji yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah mendorong munculnya inovasi bahan bakar alternatif. Salah satunya datang dari Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, melalui karya seorang warga bernama Andi.

Di tengah sulitnya memperoleh gas elpiji serta dorongan untuk lebih hemat energi, Andi berhasil menciptakan kompor berbahan bakar limbah, yaitu oli bekas dan minyak goreng bekas. Inovasi ini dinilai menjadi solusi praktis sekaligus ekonomis bagi masyarakat.

Meski menggunakan bahan bakar dari limbah, performa kompor tersebut cukup baik. Api yang dihasilkan tampak stabil dan berwarna biru, mirip dengan kompor gas pada umumnya.

Secara desain, kompor ini dibuat sederhana dengan rangka besi yang kokoh. Di bagian tengah terdapat tungku pembakaran, serta wadah khusus untuk menampung bahan bakar berupa oli dan minyak goreng bekas.

Andi menjelaskan, sekali pengisian bahan bakar dapat membuat kompor menyala hingga sekitar setengah hari. Daya tahan ini dianggap cukup efisien untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

“Sekali isi bahan bakar bisa digunakan kurang lebih setengah hari untuk memasak,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Ia mengaku ide pembuatan kompor ini muncul dari pengalaman pribadi saat kesulitan mendapatkan gas elpiji. Dari situ, ia mencoba memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan di sekitar sebagai alternatif bahan bakar.

Tak disangka, inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Permintaan kompor terus meningkat, tidak hanya dari wilayah Blitar, tetapi juga dari luar pulau seperti Kalimantan Timur.

Kompor ini dijual dengan harga sekitar Rp450.000 per unit. Harga tersebut dinilai sepadan dengan manfaatnya, terutama sebagai solusi di tengah keterbatasan bahan bakar.

Melalui inovasinya, Andi berharap masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada gas elpiji. Selain menjadi alternatif energi, penggunaan limbah juga dinilai lebih ramah lingkungan karena dapat mengurangi pencemaran.

Sumber: Beritasatu.com

Penulis: Febiana Dendo Ngara, Mahasiswa Magang Unitri

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow