Inflasi Semester I Jawa Timur Ditutup di 1,32 Persen, Emas Perhiasan jadi Penyumbang Terbesar
Inflasi Jawa Timur semester I 2025 tercatat 1,32 persen, ditutup oleh lonjakan harga emas perhiasan yang menjadi penyumbang inflasi terbesar sepanjang enam bulan pertama.
SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa hingga Juni 2025, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) di Jawa Timur telah mencapai 1,32 persen.
Angka tersebut sekaligus menutup catatan inflasi semester I 2025, menandai peningkatan tekanan harga yang lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sebagai perbandingan, inflasi y-to-d pada semester I 2024 tercatat sebesar 0,81 persen. Artinya, sepanjang Januari hingga Juni tahun 2025, laju kenaikan harga di Jawa Timur lebih cepat dan kuat dibanding tahun sebelumnya dikarenakan beberapa faktor.
"Inflasi tahun kalender per Juni 2025 sebesar 1,32 persen menandai selesainya semester pertama tahun ini. Ini menjadi catatan penting untuk mengevaluasi laju tekanan harga di paruh pertama," ujar Zulkipli, Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Selasa (1/7/2025).
Emas Perhiasan Penyumbang Inflasi Terbesar
Temuan yang mencolok dari data semester I tahun 2025 adalah lonjakan harga emas perhiasan, yang tercatat naik hingga 29,54 persen selama enam bulan pertama.
Kenaikan tajam itu menjadikan emas sebagai penyumbang inflasi y-to-d terbesar, dengan kontribusi sebesar 0,41 persen terhadap total inflasi provinsi.
"Kenaikan harga emas dipengaruhi oleh kondisi global, nilai tukar, dan meningkatnya permintaan domestik. Ini menjadikannya salah satu komoditas paling konsisten mendorong inflasi sejak awal tahun," ungkap Zulkipli.
Selain emas, beras juga memberikan andil cukup besar terhadap inflasi semester I, yakni 0,15 persen, menyusul tren kenaikan harga sejak berakhirnya panen raya di kuartal kedua.
Komoditas lain yang juga turut menyumbang inflasi antara lain bahan bakar rumah tangga (0,10%), cabai rawit, santan jadi, dan kelapa, masing-masing dengan kontribusi sebesar 0,05 persen.
Daging dan Telur Ayam Jadi Penahan Inflasi
Di tengah sejumlah komoditas yang mengalami lonjakan harga, beberapa komoditas justru memberikan andil negatif atau menahan laju inflasi semester I.
Di antaranya adalah daging ayam ras, yang tercatat turun harga hingga 7,73 persen dan menyumbang andil negatif sebesar -0,14 persen, serta telur ayam ras yang turun 4,88 persen dengan andil negatif -0,05 persen.
Komoditas penahan lainnya termasuk ikan mujair, bawang putih, tarif kereta api, telepon seluler, dan laptop/notebook, yang turut menekan laju inflasi semester I.
Sebaran Inflasi Antarwilayah Relatif Terkendali
Secara spasial, inflasi y-to-d tertinggi terjadi di Kabupaten Banyuwangi, yang mencapai 1,96 persen, disusul Kabupaten Tulungagung (1,84 persen), dan Kota Probolinggo (1,46 persen). Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Gresik, yakni 0,95 persen.
"Distribusi inflasi antarwilayah cukup merata," kata Zulkipli.
Rata-rata inflasi y-to-d Jawa Timur sendiri berada di angka 1,32 persen, yang menempatkan provinsi ini dalam kategori aman, karena masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen, atau antara 1,5 hingga 3,5 persen.
Tren inflasi semester I 2025 yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya menjadi perhatian bagi BPS. Namun, angka 1,32 persen masih dalam batas toleransi yang ditetapkan pemerintah.
"Jika tren inflasi bulanan ke depan dapat dikendalikan di bawah 0,3 persen per bulan, inflasi akhir tahun diperkirakan tetap dalam koridor target nasional," tutup Zulkipli. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

