Hari ke-16 Operasional Haji, Embarkasi Surabaya Catat 75 Mutasi Keluar dan 34 Kursi Kosong
Meski angka mutasi dinilai cukup tinggi, PPIH Surabaya memastikan mekanisme penggantian kursi berjalan optimal sehingga tidak seluruh mutasi berdampak pada kekosongan seat penerbangan.
SURABAYA, SJP - Memasuki hari ke-16 operasional pemberangkatan haji Embarkasi Surabaya, dinamika keberangkatan jemaah mulai diwarnai dengan tingginya angka mutasi keluar, atau kondisi ketika jemaah yang sebelumnya sudah terjadwal berangkat dalam suatu kloter batal berangkat sementara waktu, dipindah, atau keluar dari susunan kloter tersebut.
Hingga saat ini, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mencatat sebanyak 75 jemaah mengalami mutasi keluar dengan berbagai alasan, mulai dari sakit, penundaan keberangkatan, perpindahan kloter, hingga persoalan teknis yang berdampak pada munculnya puluhan kursi kosong atau open seat.
Dari total 75 mutasi keluar tersebut, sebanyak 41 kursi berhasil diisi kembali melalui mekanisme mutasi masuk, baik dari jemaah cadangan maupun pengalihan nomor kloter. Namun, masih terdapat 34 kursi kosong yang belum dapat terisi.
Berkenaan tentang angka tersebut, Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam mengungkapkan bahwa alasan mutasi keluar paling banyak dipicu oleh faktor kesehatan jemaah dan penundaan keberangkatan.
"Mutasi keluar paling banyak karena jemaah sakit di rumah sakit sebanyak 14 orang, kemudian tunda keberangkatan 20 orang, perpindahan kloter 18 orang, pendamping 8 orang, hingga alasan teknis," ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, terdapat pula mutasi keluar akibat jemaah sakit di daerah, kondisi hamil, hingga perubahan nomor urut keberangkatan. Kondisi tersebut membuat komposisi kloter terus mengalami penyesuaian selama proses operasional berlangsung.
PPIH mencatat, dari seluruh mutasi keluar yang terjadi, sebanyak 11 kursi kosong muncul karena alasan teknis dan administratif. Sementara itu, perpindahan kloter dilakukan untuk berbagai kebutuhan penyesuaian, termasuk penggabungan keluarga maupun pendamping lansia.
Meski angka mutasi cukup tinggi, PPIH memastikan mekanisme penggantian kursi berjalan optimal sehingga tidak seluruh mutasi berdampak pada kekosongan seat penerbangan.
"Mekanisme mutasi berjalan efektif sehingga mampu mengoptimalkan keterisian kursi," kata Anam.
Di tengah tingginya dinamika perubahan keberangkatan tersebut, operasional penerbangan jemaah haji Embarkasi Surabaya tetap berjalan disiplin. PPIH mencatat seluruh 54 kloter yang telah diberangkatkan memiliki tingkat ketepatan waktu penerbangan atau On Time Performance (OTP) mencapai 100 persen tanpa keterlambatan maupun percepatan jadwal.
"Alhamdulillah, hingga hari ke-16 operasional, proses pemberangkatan berjalan tertib, lancar, dan seluruh kloter dapat diberangkatkan tepat waktu," ujarnya.
Selain persoalan mutasi keluar, hingga saat ini masih terdapat lima jemaah yang mengalami penundaan keberangkatan dan menjalani penanganan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Rinciannya, empat jemaah sakit dan satu orang pendamping yang masih menunggu kesiapan untuk diberangkatkan pada kloter berikutnya.
"Kami terus memastikan jemaah yang mengalami penundaan mendapatkan penanganan terbaik, baik dari sisi kesehatan maupun penjadwalan ulang keberangkatan," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

