Harga Plastik Melonjak, Pola Belanja Konsumen di Kota Batu Ikut Berubah
Para pedagang berharap situasi kenaikan harga plastik ini tidak berlangsung lama. Mereka menilai stabilitas harga sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan keberlangsungan usaha kecil di tengah tekanan biaya yang terus meningkat
KOTA BATU, SJP – Lonjakan harga produk plastik di Kota Batu tak hanya menekan pedagang kecil, tetapi juga mulai mengubah pola belanja masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, kenaikan harga yang mencapai hingga 100 persen membuat konsumen kini lebih selektif dan cenderung mencari alternatif yang lebih hemat.
Salah seorang pedagang kelontong, Miftahul Jannah pada Kamis (9/4/2026) menyebut, konsumen kini tidak lagi membeli dalam jumlah besar seperti sebelumnya. Mereka lebih memilih produk dengan harga lebih murah atau bahkan mengurangi penggunaan plastik.
“Sekarang pembeli banyak yang beralih ke yang lebih ekonomis. Ada juga yang mengurangi pemakaian. Kenaikan harga terjadi hampir di seluruh jenis produk. Plastik foam yang sebelumnya dijual Rp 23 ribu per bal kini naik menjadi Rp32 ribu. Kantong plastik melonjak dari Rp6 ribu menjadi Rp 12 ribu per pack, sementara gelas plastik atau cup naik dari Rp 9 ribu menjadi Rp15 ribu per pack," paparnya.
Lonjakan ini terjadi secara bertahap sejak pertengahan Ramadan. Awalnya hanya berkisar 20 persen, kemudian meningkat hingga 50 persen, dan kini beberapa item sudah menyentuh kenaikan dua kali lipat.
Situasi tersebut diduga berkaitan dengan terganggunya pasokan bahan baku impor. Distributor disebut telah lebih dulu menaikkan harga akibat kendala distribusi yang dipicu kondisi geopolitik global.
"Perubahan perilaku konsumen ini berdampak langsung pada perputaran barang di tingkat pedagang. Penjualan yang melambat membuat pedagang kini lebih berhati-hati dalam menambah stok, guna menghindari risiko kerugian," imbuh Miftah
Di sisi lain, kondisi ini secara tidak langsung mendorong pergeseran ke penggunaan kemasan non-plastik atau sistem pembelian yang lebih efisien. Meski belum masif, tren ini mulai terlihat di kalangan pembeli yang ingin menekan pengeluaran. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

