Harga LPG Non-Subsidi di Jombang Naik, Warga dan Pelaku UMKM Mulai Berhemat
LPG non-subsidi ukuran 5,5 kilogram kini dibanderol dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp107.000 per tabung. Sementara untuk ukuran 12 kilogram, harga jualnya mencapai Rp228.000 per tabung.
JOMBANG, SJP - Harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi di wilayah Kabupaten Jombang mengalami penyesuaian harga di pasaran. Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan terjadi pada beberapa ukuran tabung, utamanya untuk pembelian eceran.
Rinda, karyawan salah satu agen LPG non-subsidi berlokasi di Jalan Abdurrahman Saleh, Kecamatan Jombang, membenarkan perubahan harga tersebut. Ia merinci, berdasarkan daftar harga terbaru per Senin (20/4/2026), LPG non-subsidi ukuran 5,5 kilogram kini dibanderol dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp107.000 per tabung. Sementara untuk ukuran 12 kilogram, harga jualnya mencapai Rp228.000 per tabung.
"HET-nya untuk 5,5 kilogram itu Rp107.000, dan untuk yang 12 kilogram Rp228.000," ujar Rinda saat dikonfirmasi wartawan.
Ia menambahkan, nominal tersebut belum termasuk biaya ongkos kirim apabila konsumen meminta layanan antar ke rumah.
Menurut keterangan dari pihak agen, penyesuaian harga ini dipengaruhi oleh dinamika distribusi serta fluktuasi pasokan di tingkat Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Di samping itu, peningkatan biaya operasional dan transportasi juga dinilai menjadi faktor yang memengaruhi harga jual akhir kepada konsumen.
Meski terjadi kenaikan, Rinda menyebut kondisi pasokan masih tergolong normal. "Kendalanya hanya antrian di SPBE, tapi distribusi ke masyarakat masih bisa ter-cover dengan baik," imbuhnya.
Kondisi ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat Jombang. Muhammad Raffi, warga Kecamatan Jogoroto, mengaku belum mengetahui informasi kenaikan harga tersebut. Sebagai pengguna LPG non-subsidi ukuran 5,5 kilogram, ia menyatakan akan melakukan langkah penghematan jika harga memang benar-benar melonjak.
"Kalau naik ya mau tidak mau harus menghemat penggunaan gas. Saya belum cek lagi harganya di pasar," tuturnya.
Sementara itu, dampak kenaikan ini lebih terasa bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan LPG sebagai bahan bakar utama memasak.
Dewi, seorang pedagang warung pecel lele di kawasan Peterongan, mengaku harus lebih cermat mengatur biaya operasional. Ia menyebut dalam kurun waktu dua minggu, warungnya bisa menghabiskan satu hingga dua tabung LPG ukuran 12 kilogram, tergantung tingkat keramaian pembeli.
"Dengan harga yang sekarang, tentu cukup terasa di biaya operasional. LPG ini kebutuhan utama untuk memasak, jadi mau tidak mau harus disiasati," jelas Dewi.
Ia berharap ke depannya harga komoditas tersebut dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani usaha kecil.
"Semoga harganya bisa lebih stabil supaya kami pedagang kecil tidak terlalu terbebani," pungkasnya. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

