Harga Kacang Melejit 50 Persen, Pelaku UMKM di Kota Blitar Harus Putar Otak
Harga kacang tanah yang semula berada di kisaran Rp25.000 per kilogram kini melonjak hingga menembus Rp40.000 per kilogram. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama dalam pembuatan makanan tradisional enting-enting dan geti.
KOTA BLITAR, SJP–Lonjakan harga kacang tanah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menjadi tantangan berat bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) makanan tradisional.
Meski demikian, kondisi ini tidak menyurutkan semangat Asna Rosida (52), seorang produsen enting-enting dan geti di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, untuk terus bertahan.
Demi menjaga keberlangsungan usahanya dan memastikan para pekerjanya tetap berpenghasilan, Asna memutar otak dengan menerapkan strategi bisnis yang baru.
"Harga kacang tanah sekarang naik luar biasa, hampir 50 persen dibanding sebelumnya," kata Asna, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, harga kacang tanah yang semula berada di kisaran Rp25.000 per kilogram kini melonjak hingga menembus Rp40.000 per kilogram. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama dalam pembuatan enting-enting dan geti.
Merespons lonjakan harga bahan baku yang tajam, Asna terpaksa menyesuaikan harga jual produknya. Harga enting-enting dan geti yang sebelumnya Rp50.000 per kilogram kini dinaikkan sekitar 30 persen menjadi Rp60.000 per kilogram.
Ia mengakui bahwa menaikkan harga jual bukanlah pilihan yang mudah, sebab kenaikan yang terlalu tinggi berisiko membuat konsumen beralih ke produk lain.
"Saya ambil jalan tengah. Harga bahan baku naik hampir 50 persen, tapi harga produk hanya saya naikkan sekitar 30 persen supaya reseller masih mudah menjualnya ke konsumen," ujarnya.
Selain melakukan penyesuaian harga, Asna juga berinovasi pada formula produknya. Jika sebelumnya enting-enting dan geti didominasi oleh kacang tanah, kini ia mulai mengombinasikannya dengan wijen. Strategi ini terbukti efektif menekan biaya produksi, sekaligus memberikan cita rasa yang lebih gurih dan meningkatkan nilai jual produk.
Dalam sehari, rumah produksi milik Asna mampu menghasilkan rata-rata satu kuintal enting-enting dan geti. Untuk mengejar target tersebut, ia membutuhkan sedikitnya 75 kilogram kacang tanah setiap harinya.
Meski dibayangi tekanan harga bahan baku, permintaan pasar terhadap jajanan tradisional ini tercatat masih relatif stabil. Produk buatan Asna kini telah terdistribusi luas di berbagai pusat oleh-oleh, baik di wilayah Blitar maupun luar daerah.
"Pesanan dari luar pulau cukup banyak, terutama dari Balikpapan, Bima, dan Bali. Selain itu, pasar lokal Blitar dan Jawa Timur juga masih bagus," kata dia.
Asna mengaku bersyukur karena bisnisnya masih kokoh berdiri di tengah situasi ekonomi yang menantang. Baginya, prioritas utama saat ini adalah menjaga roda produksi tetap berputar dan melindungi mata pencaharian karyawannya.
"Alhamdulillah, meskipun harga bahan baku naik, produksi kami masih stabil dan karyawan tetap bisa bekerja seperti biasa," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

