Harga Cabai Rawit Turun, Petani di Malang Sulit Tutup Biaya Produksi

Harga cabai rawit di Malang anjlok hingga Rp12 ribu per kg. Petani Tumpang kesulitan menutup biaya produksi meski harga sempat naik ke Rp25 ribu.

11 Sep 2025 - 12:13
Harga Cabai Rawit Turun, Petani di Malang Sulit Tutup Biaya Produksi
Cabai rawit di ladang Suhartini, Desa Pulungdowo, Tumpang, mulai memerah. Namun harga jual yang anjlok membuat hasil panen belum menutup biaya produksi. (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP – Panen cabai kali ini belum memberi kabar baik bagi Suhartini, warga Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang. Harga cabai rawit di pasaran justru anjlok dan membuat biaya produksi tak kembali.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai hanya bertahan di kisaran Rp12 ribu per kilogram. Meski kini sempat bergerak naik menjadi Rp25 ribu, Suhartini menilai angka itu tetap belum mampu menutup ongkos tanam.

“Gimana mas, panen minggu-minggu ini belum cukup menutup biaya operasional. Kalau dihitung, harga segitu masih belum pantas,” ujarnya, Kamis (11/9/2025).

Di lahan 620 meter persegi di samping rumahnya, ia hanya bisa memanen rata-rata 10 kilogram cabai sekali panen. Biaya pupuk, obat pengendali hama, hingga ongkos tenaga membuat keuntungan sulit didapat.

Meski begitu, wanita paruh baya yang kini sudah bercucu itu tetap bersemangat menanam. Tidak hanya di pekarangan rumah, ia juga menanam di lahan persawahan miliknya.

Terlihat, beberapa cabai mengering disertai bunga dan daunnya. Hal ini karena kurangnya penanganan baik pemupukan dalam hal perawatan.

Untuk menopang ekonomi keluarga, Suhartini bersama anaknya membuka warung kecil di depan rumah. Dari usaha itu, penghasilan harian sedikit terbantu ketika harga cabai jatuh.

“Bertani sudah jadi bagian hidup saya. Mau sulit bagaimana pun, tetap saya jalani,” pungkasnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun padahal, pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan menetapkan harga acuan penjualan cabai rawit merah di tingkat konsumen berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram, sedangkan harga di tingkat produsen Rp25 ribu hingga Rp31.500. 

Dengan demikian, harga yang diterima Suhartini masih berada di batas bawah dan jauh dari harapan untuk menutup ongkos produksi. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow