Hadapi Ancaman DBD, Pemkot Probolinggo Gerakkan PSN 3M dan Tanam Lavender
Di tahun 2026 ini, terdapat 39 kasus di Kota Probolinggo, sehingga upaya pencegahan menjadi menjadi prioritas untuk menekan perkembangan DBD.
PROBOLINGGO, SJP - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius bahkan berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB), terutama saat musim penghujan tiba. Di tahun 2026 ini, terdapat 39 kasus di Kota Probolinggo, sehingga upaya pencegahan menjadi menjadi prioritas untuk menekan perkembangan DBD.
Kepala Dinas Kesehatan PPKB Kota Probolinggo, dr. Intan Sudarmadi, memaparkan bahwa perkembangan kasus DBD di kota tersebut masih perlu diwaspadai meskipun dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan. Ia berharap pada tahun ini tidak ada lagi korban meninggal akibat penyakit tersebut.
“Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 490 kasus DBD dengan enam kematian. Kemudian pada tahun 2025 jumlahnya menurun menjadi 326 kasus dengan empat kematian. Kasus tertinggi pada tahun 2025 dilaporkan dari Kecamatan Kanigaran, yaitu 103 kasus dengan dua korban meninggal dunia,” jelas dr. Intan.
Memasuki tahun 2026, hingga bulan Maret sudah tercatat 39 kasus DBD di Kota Probolinggo. Selain itu, angka bebas jentik (ABJ) di wilayah tersebut pada tahun 2025 rata-rata hanya mencapai 78,8 persen, masih di bawah target ideal yang seharusnya minimal 90 persen.
“Untuk tahun 2026 ini sampai bulan Maret sudah ada 39 kasus. Sementara angka bebas jentik di tahun 2025 rata-rata sebesar 78,8 persen, padahal target minimal adalah 90 persen. Artinya kondisi ini masih berpotensi memicu munculnya kasus DBD di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya DBD semakin meningkat. Selain itu, koordinasi lintas sektor dalam menjalankan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) serta inovasi lavenderisasi dapat semakin diperkuat.
“Tujuannya adalah memperkuat sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan PSN 3M + Lavenderisasi serta membangun komitmen bersama untuk menanam bunga lavender secara serentak sebagai salah satu upaya pencegahan DBD,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menegaskan bahwa pengendalian nyamuk penyebab DBD sangat penting untuk menurunkan angka kesakitan maupun kematian di masyarakat. Ia menyoroti bahwa penyakit ini kerap menyerang kelompok usia muda, terutama anak-anak.
“Khususnya anak-anak kita, karena kasus DBD ini lebih banyak menyerang usia muda bahkan anak-anak. Tadi juga disampaikan bahwa rata-rata terdapat sekitar 50 hingga 100 kasus setiap tahun di masing-masing kecamatan, dan yang tertinggi memang di Kecamatan Kanigaran,” ujarnya.
Menurutnya, setiap kasus DBD seharusnya dianggap sebagai kejadian serius yang memerlukan respons cepat dari semua pihak.
“Satu kasus demam berdarah saja seharusnya sudah menjadi kejadian luar biasa. Artinya ketika ada kasus, semua pihak harus segera bergerak cepat, mulai dari jumantik, RT, RW, lurah hingga camat,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga diperkenalkan program penanaman bunga lavender secara massal. Tanaman ini dikenal memiliki aroma khas yang diyakini dapat membantu mengusir nyamuk. Selain berfungsi sebagai tanaman pengusir serangga, lavender juga memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi minyak herbal maupun bahan produk kecantikan.
“Lavender ini memiliki banyak manfaat. Selain membantu mengusir nyamuk, juga bisa diolah menjadi minyak herbal, lotion, sabun hingga produk kosmetik lainnya. Karena itu saya berharap PKK dapat menggerakkan masyarakat untuk menanamnya secara massal,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

